
🌹🌹🌹🌹🌹
Happy Reading guys🥰🥰🥰
Aaron menahan air matanya melihat istrinya yeng sedang terbaring, tangannya menggenggam erat tangan Ella sambil mengucupnya.
"Maafkan aku Honey tidak bisa menjagamu dengan baik, andai tadi aku tidak meninggalkan kamu sendiri mungkin semua ini tidak akan terjadi. " ucap Aaron.
Bahu Aaron bergetar pelan, dia sudah tidak mampu lagi membendung tangisnya, dia menangis karena menyesal telah meninggalkan Ella sendiri yang mengakibatkan dia harus kehilangan calon Bayinya.
"Maafkan Papa sayang yang tidak menyadari jika kamu telah hadir di perut Mama, hiks,,, maafkan Papa tidak bisa menjagamu. "
Rania tidak kuat melihat sisi rapuh putranya, dia ikut menangis dalam pelukan Javier, sementara Javier mengepalkan tangannya, sedari tadi dia menahan amarahnya, kelakuan Mamanya sudah keterlaluan dan tidak bisa di Toleransi lagi.
Dulu Mamanya begitu tidak menyukai Rania bahkan sering kali bersikap kasar kepadanya, tapi Rania yang punya otak cerdik selalu ada saja caranya melawan mertuanya dengan halus.
"Pa,, hiks aku tidak tega melihat Aaron Pa. " ucap Rania.
"Mama temani Aaron dulu ya, Papa ada urusan sebentar. "
"Papa mau kemana? " tanya Rania.
"Papa mau bertemu seseorang dulu sebentar ya. "
"Papa pergi dulu. " Sebelum Rania kembali bertanya lagi, Javier segera pergi meninggalkan ruang rawat Ella.
Rania bingung haruskah dia mengejar suaminya tapi jika dia menyusul Javier lalu bagaimana dengan Aaron.
__ADS_1
Di luar ruang rawat Ella, Gus Alam masih terus menenangkan Queena yang masih belum menerima keadaan Ella, dia tidak Terima dengan perlakuan Nenek Aaron pada sahabat yang sudah bagaikan saudara baginya.
"Hiks,,, By, bagaimana jika nanti Ella tahu jika dia keguguran, dia,, dia hiks,, bahkan belum tahu jika tengah hamil by. "
Gus Alzam membiarkan Queena mengeluarkan kekesalannya pada Nenek Aaron.
"Istighfar,, Humaira. " Ucap Gus Alzam lembut.
"Coba baca Istighfar dulu Humaira,, " ucap Gus Alzam lagi.
"Astaghfirullahalazim,,, " Gus Alzam membimbing Queena untuk membaca Istighfar agar hatinya lebih tenang.
"Astaghfirullahalazim." ucap Queena Akhirnya.
"Tenangkan hatimu Humaira,, ingatlah pada Allah jangan sampai kamu dikalahkan oleh Amarah. "
"Sudah tenang? " tanya Gus Alzam, Queena hanya mengangguk pelan.
"Ayo ambil Wudhu dulu. " Ajak Gus Alzam.
Di Mansion keluarga Fernandes Javier ngamuk, dia membanting Vas kesayangan Mamanya, menghajar asisten yang sselalu setia pada Mamanya.
"Javier,,,! apa yang kamu lakukan" seru Nenek Aaron.
'PYARRR,,, ' Javier membanting gelas kaca di depan Mamanya.
"Javier,,! " teriak Nenek Aaron murka.
__ADS_1
"Mama sudah benar benar kelewatan, aku kecewa sama Mama. " ucap Javier.
"Dari dulu aku diam saat Mama berlaku semena mena pada anak dan Istriku, bukan berarti aku akan diam selamanya, sudah cukup Mama seperti itu, sekarang aku tidak akan diam saja. "
"Aku melakukan semuanya hanya demi kebaikan kamu Javier, karena hanya kamu satu satunya penerus keluarga Fernandes. "
"Kebaikan aku? " tanya Javier. Tapi Nenek Aaron hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Javier.
"Mama melakukan itu hanya demi memenuhi ambisi Mama, Mama tahu Mama telah membunuh Cicit Mama sendiri. "
"Akibat perbuatan Mama Aaron harus kehilangan calon bayinya, Mama seorang pembunuh. "
"A,, pa? " tanya Nenek Aaron dengan sedikit tergagap.
"Kenapa Mama tega melakukan hal itu? kenapa Ma?"
"Persiapkan diri Mama untuk menerima kemarahan Aaron, dan Aku tidak akan menghalangi nya karena Mama memang BERSALAH. " tekan Javier.
"Dan satu lagi,mulai saat ini aku keluar dari Mansion ini."setelah mengatakan hal itu Javier segera meninggalkan Mansion nya.
_
_
_
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 🥰🥰🥰