Hujan

Hujan
Di Bawah Guyuran Hujan


__ADS_3

Di Bawah Guyuran Hujan #1


Awan kelabu dengan gagahnya menghalangi mentari, menyisakan mendung sore hari. Angin berhembus pelan. Sudah lama Purwakarta tak di guyur hujan lagi. Semoga saja hari ini hujan mampir, setidaknya membasahi tanah yang kering dan pecah-pecah. Membawa kembali kehidupan.


Sore yang sibuk, sesibuk orang-orang yang bergegas pulang. Seperti diriku. Seusai kelas terakhir aku segera beranjak. Bukan karena mendung atau pekerjaan di rumah yang telah menunggu. Semua ini ku lakukan karena Adimas, teman masa kecil sekaligus cinta pertamaku.


"Rihan!"


Aku memejamkan mataku sebentar sambil mempercepat langkahku. Air mataku terasa berdesakan ingin keluar saat memori kebersamaan kami sejak kecil kembali berputar bagai rol film usang. Aku bahkan masih mengingat janji kelingking yang ia buat setelah aku dijahili oleh beberapa anak laki-laki yang usianya lebih tua dariku. Saat itu Adimas membelaku dan harus mendapatkan lebam di punggung dan rahangnya.


"Jangan nangis! Aku gapapa kok ...," Kata Adimas dengan cengiran khasnya. Ia lalu mengangkat jari kelingkingnya. "Kamu pasti takut tadi, jadi aku mau buat janji kelingking ..."


"Janji kelingking?"


Adimas kecil mengangguk. "Aku janji akan terus masuk sekolah yang sama denganmu. Jadi aku bisa jagain kamu selamanya."


"Janji ya..."


Aku bahkan masih ingat rasa hangat yang pertama kali ku rasakan saat mengaitkan kelingkingku. Rasa nyaman dan tenang dalam hati yang terus merekah menjadi hal baru. Cinta.

__ADS_1


"Rihan, tunggu aku..!"


Aah.. suara itu. Suara yang sudah akrab di telingaku selama ... mungkin tiga belas tahun. Suara yang menggetarkan dada dan penuh ceria. Suara yang terus menghibur dan mendukungku, membuatku tertawa bahkan hingga perutku sakit. Suara itu ... satu-satunya suara yang memanggilku Rihan.


"Rihana tuh kepanjangan, tau.. Mending Rihan, simple!" Ujar Adimas sepulang sekolah.


Saat itu kami sudah menduduki bangku SMP


"Tapi kan, kayak nama cowok, aku kan cewek ..."


"Biar aja kayak cowok!" Sanggahnya, "toh menurut aku kamu tetep aja cantik...," sambungnya pelan namun tetap dapat kudengar. Ia hanya mempercepat langkahnya, meninggalkanku yang tersipu.


"Rihan..! Kamu kenapa, sih?"


Adimas menghadang langkahku, "aku tahu kamu bohong! Kamu ngehindarin aku terus, bahkan udah lewat seminggu."


"Aku ..."


"Bang Dimas..!"

__ADS_1


Aah gadis itu lagi, baru datang pun langsung merangkul lengan pria ini. Memang seharusnya aku yang pergi. Seharusnya aku sadar, janji itu hanya sebatas bualan anak-anak yang belum mengerti banyak hal.


"A ... aku harus pergi," Ku lalui mereka begitu saja. Ya, aku harus merelakannya, toh gadis itu terlihat serasi dengan Adimas.


Adimas mencekal lenganku, "Rihan, tunggu..!"


"Biarin aku pergi, Ad.."


"Abang..., biarin aja bang. Kak Rihana nya gak mau diajak ngobrol tuh!"


Cekalannya menguat, "Nesya pulang ...!" Dimas memberikan kunci pada gadis itu.


"Tapi bang, kayaknya sebentar lagi bakalan ujan ...."


"PULANG!!"


Baruku dengar Adimas membentak orang lain seperti itu. Nesya sampai menunduk takut mendengarnya. Namun detik berikutnya aku kembali memalingkan wajahku.


"Tunggu abang di rumah, ya..." Tambahnya lembut.

__ADS_1


Sudah sejauh itukah hubungan mereka? Rumah? Aah iya.., Adimas, cowok yang terkenal anti cewek dan membuat para cewek ngiri berat karena ia dekat denganku, dua minggu lalu mendapat pelukan mendadak di halaman kampus. Membuat semua orang shok karena ia tak mempermasalahkannya. Gadis itu adalah adik tingkatnya yang dengan percaya diri memanggil Adimas dengan sebutan abang.


Bersambung...


__ADS_2