
"Penguman, diberitahukan kepada seluruh anggota Osis, untuk segera berkumpul di Aula, sekali lagi. Penguman, diberitahukan kepada seluruh anggota Osis, untuk segera berkumpul di Aula!! Harap untuk hadir semua! Terimakasih"
Suara speaker sekolah bergema, siswa-siswi bersorak-sorak, riang. Mereka tau jika hari ini pekan terakhir Olahraga, jadi besok adalah puncak acara penyerahan hadiah lomba, termasuk pengumuman pemenang hasil lomba puisi bergambar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terdengar suara ramai di dalam aula sekolah, siswa-siswi Osis yang berteriak sahut-sahutan memewah keheniangan disiang itu, mereka menghias ruangan sedemikian rupa.
"Aku penasaran banget, sama penampilan anak-anak teater Nit" Bisik Ida.
"Aku malah baru tau, kalo ada ekstrakulikuler teater" Balas Anita
"He, Osis baru!! Ambilin Kain Biru dipojokan." Teriak Seorang laki-laki yang memakai kaus hitam diatas meja yang ditumpuk. Ditangannya memegang palu "Eh, sekalian paku dong, pakunya abis nih!!"
"Saya? Kak?" Anita menunjuk dirinya sendiri bertanya. Apa laki-laki itu benar memanggilnya.
"Iya kamu, yg dari tadi diem disitu cuma kamu kan?"
Anita mencari sosok Ida yg sedari dari tadi ada disampingnya, tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Anita mengambil Kerdus di Pojok ruang aula, Tertatih mengangkatnya 'Wah berat juga, kain apaan sih yang seberat ini?' Pikirnya sambil menaruh kerdus kembali kelantai, dan berusaha menggeretnya. "Berat banget!!"
"Harusnya kamu ambil kainnya aja, ngapain kamu bawa kerdusnya juga?, ini dalemnya karpet!" Laki-laki itu mendengus. "Tau gitu aku ambil sendiri_" lanjutnya sambil mengusap peluh yang berbentuk titik-titik di diahinya dengan lengannya.
Laki-laki itu berjalan, meninggalkan Anita, dengan membawa kardus dibahu kanannya.
'kenapa juga gak ngambil sendiri' seloroh Anita, yang cuma bisa membalas dalan hati. 'Di kira dari tadi cuma santai-santai, baru juga istirahat duduk, dari beres-beres ruangan!' Omelnya dalam hati.
"Oya_ pakunya minta ke Eza!"
Anita menurut. Berjalan keluar tanpa berkata apa-apa, dan dengan segera kembali membawa paku di tangannya "Nih, kak."
"Ah_ya..." Tangan Anita memegangi 2 meja yang ditumpuk. Harusnya ini sih, aman, karna meja bagian atas lebih kecil dari meja tumpuan di bawahnya. Anita masi bingung, bagian meja dari mananya yang harus dia pegangi.
"Kamu kelas Bahasa 1?" Tanya laki-laki itu memecah keheningan.
"Iya kak" Membalas sekadarnya sembari memegangi kaki meja bagian atas.
Laki-laki bernama tamam itu turun dari tumpukan meja, dan mulai mendorong meja ke sisi lainnya. Naik, dan menyelesaikan pakuan terakhir.
__ADS_1
"Nit!!! Ngapain?!!" Teriak Ida dari pintu. "Dari tadi Dicariin_"
"lah kan kamu yang ninggalin aku_" Jawabnya melihat Ida yang masi menunggu di pintu masuk aula.
"Tadi aku ke kamar mandi bentar. Dijalan ketemu kak Imas, disuru kumpul diruang Osis, buat makan_" Jelas Ida "Aku susulin kamu kesini, buat makan bareng tapi kamunya ga ada!"
"Aku dari tadi disini kok_" Anita membela.
"Tadi kamu keluar, waktu anak itu kesini." Laki-laki itu menimpali dengan cueknya sambil memunguy paku yang bereserakan di lantai.
"Akh, harusnya tadi kaka kasi tau aku_" Anita masam.
"Aku lupa!" Jawabnya singkat "Minggir." Tamam menarik lengan Anita menjauh dari meja. Rupanya dia hendak menurunkan meja diatasnya.
"Ayo pulang Nit!" Teriak Ida yang masi bersandar dipintu.
"Agrh, jengkel banget!" Protesnya Lirih.
Laki-laki itu tersenyum dengan kesibukannya menata kembali meja. Sudut matanya mengekor langkah Anita yang menjauh keluar.
__ADS_1