
Pekan olah raga berakhir menyisahkan kenangan menyenangkan dan rasa capek yang bener-bener luar biasa. Apalagi beberapa hari setelah itu langsung diadakan pemilihan osis yang baru.
Terlebih Anita, dia mendapatkan bagian yang selama ini dia harapkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meskipun wajahnya masi terlihat tampak lelah, tapi dia tetap memutuskan untuk pulang, sembari ingin memamerkan piala yang dia dapat.
Pintu rumahnya tertutup, Anita masuk rumahnya hati-hati, berniat ingin mengagetkan Ibunya.
“Terus sekarang, mau kamu gimana? Aku gak bias kalo harus terus-terusan nyembunyiin masalah ini dari Anita. Tapi aku juga gak mau anak itu tau kelakuan Ayah nya yg seperti ini!!!” Terdengeras helaan nafas berat Ibunya, “Kamu bener-bener…!”
“……..”
Anita yang mendengar suara getir Ibunya, seolah sedang menahan tangis, sontak langsung bergegas pergi keluar dari rumahnya. Dengan wajah kuyu dan pucat, dia berjalan limbung, masi tidak bisa percaya dengan apa yang sudah dia dengar.
Rentetan masalah yang selama ini menimpanya kembali membanjiri otaknya. “Ah, jadi ini alasan kenapa pindah rumah tiba-tiba, kenapa Ayah jarang pulang”
Hatinya nyeri, sakit itu membuat seluruh badannya gemetar, dada yang terasa sesak bahkan tidak bisa membuat air matanya keluar. Makin terasa sesak, menyiksa.
__ADS_1
Entah sudah berapa jam dia duduk di halte tempat biasa dia menunggu Bus Asrama. Meskipun dia tau Bus asramanya tidak akan datang.
Kaki nya berjalan menyusuri trotoar, tidak tau harus kemana, karna tak sanggup
untuk pulang, dan tidak ingin sendiri di asrama.
“Hallo? Gak pulang nak? Kok tumben sampe jam segini belum sampe rumah?” Suara Ibunya yang ceria didalam telfon, membuat hatinya teriris.
Anita mengigit bibirnya. Dia menguatkan dirinya. “Iya Buk, mungkin aku pulang nanti sorean…” Kembali menggigit bibirnya. “Ibuk kangen aku ya?Hehe… Makanya Ayah suruh cepet pulang dong…” Menekan keningnya, memijitnya perlahan. Menguatkan dirinya sendiri, untuk berbicara dengan ceria seperti biasa. Sambil berharap cemas menunggu jawaban Ibunya, karna dengan sengaja membahas tentang Ayahnya.
Terdengar Ibu Anita menghela nafas panjang, seolah sedang menyiapkan alas an apa yang pantas untuk diucapkan pada anaknnya. “Iya… Nanti Ibu coba ngomong sama Ayah ya nak ya… Nanti pulangnya hati-hati, kalo dirumah kosong, kuncinya Ibu taruh di rak sepatu depan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melihat kepala Anaknya yang menjumbul dibalik pintu, Ibu Anita tersenyum, meski tampak wajahnya yang terilah lelah, senyumnya masi tetap cerah didepan anak perempuannya.
“Sini nak…” Punggung tangannya menepuk-nepuk tempat tidur disampingnya. “Tumben anak Ibuk, lagi manja?”
“Buk, kalo aku pindah sekolah boleh gak?” Tanya Anita hati-hati.
Dahi Ibunya mengernyit, “Ada apanih kok tiba-tiba? Kamu di bully, nak?”
__ADS_1
“Ibuk pikirannya ih, engga Buk, Rasanya aku pengen sekolah deket-deket rumah aja, rasanya kok capek ya, kalo jauh gini. Hehe”
Ibu Anita menoel hidung anakknya manja. “Itu kan sekolah impian kamu, susah-susah udah keterima, kok mau mundur…. Ada apa nih? Ayo cerita sama Ibu?”
“Hemmm, kalo aku keluar Asrama, terus PP aja gimana?”
“Kamu kenapa sih, sayang?? Kamu gak lagi nyembunyiin masalah dari Ibuk kan nak?”
Melihat Ibunya, merasa cemas, Anita buru-buru tertawa lebar, mencairkan suasana…
“Padahal, aku cuma ngerasa gak kerasaan aja, jauh dari Ibu. Ternyata gak enak banget jauh dari Ibuk, tuh!”
Ibunya terkikik lirih, “Udah yuk, bobok. Udah malem ini..”
Anita melihat sekelibat ibunya keluar dari kamar. Tidak lama setelah itu terdengar isakan tangis lirih dari ruang makan. Anita tau, itu tangisan Ibunya, dia mencoba menahan tangisnya sediri. Mendengar itu Anita, menutup membekap mulutnya, memukul dadanya dengan kepalan tangan. Dia berusaha sekeras mungkin untuk tidak menangis. Walau sampi terasa sesak, hingga kesulitan untuk bernafas.
Malam itu, dua orang sedang berusaha menahan diri, menguatkan diri mereka sendiri, untuk sama-sama tidak membuat luka untuk satu dengan lainnya.
__ADS_1
Dan alam, menetes gerimis…