
Di Bawah Guyuran Hujan #3
"Yang di halaman belakang itu aku lagi nemenin Nesya. Dia lagi sering nangis karena di-bully katingnya," terang Adimas, "lalu aku lihat ada bulu matanya yang jauh dan menempel di bawah matanya, jadi aku ambil," Adimas mengusap rambutku lembut. "Emang salah aku, sih ..., jelas-jelas waktu itu aku lihat kamu pergi buru-buru gitu tapi ya ..., cuma diliatin aja, enggak aku kejar ataupun aku jelasin kayak biasanya. Soalnya ..., gimanapun juga, aku beneran ngerasa bersalah sama Nesya, dia dijailin karena aku. Sorry banget loh, ya ...."
"Nesya? Di-bully karena kamu? Kok bisa, sih?"
Adimas mengangguk, "banyak cewek yang cemburu katanya... " Ia mendongakkan kepalanya, menatap langit kelabu dengan buliran dinginnya yang jatuh menerpa wajah taman pria di hadapanku ini. "Aku biarin Nesya lebih deket sama aku karena aku denger mereka iri sama kamu. Awalnya semua rencana yang mereka pakai untuk menindas Nesya itu ditujukan untukmu. Entahlah ..., aku tidak terlalu mengerti. Yang pasti adalah, urusan cewek tuh nyeremin banget."
Aku tertawa mendengarnya. Jujur aku merasa sedikit bersalah karena Nesya di-bully menggantikan posis diriku, tapi tetap saja aku senang karena ternyata selama ini aku hanya salah faham saja. Terdengar jahat memang, tapi walau bagaimana pun, mendengar kabar bahwa orang yang kamu cintai selama ini ternyata juga memendam perasaannya untukmu pasti akan membuatmu seratus, oh... salah, seribu kali lipat bahagia dan bahkan lupa akan tempat berpijakmuh sendiri. "Aku cinta kamu Ad," ucapku terang-terangan
"Aah..., aku selalu terlambat ngungkapin sesuatu darimu," gumamnya, "aku tahu kok, kalau kamu cinta aku. Karena sejqak lama aku juga sudah mencintaimu. Kalau enggak, bagaimana aku dapat melindungimu seperti yang aku janjikan dulu."
__ADS_1
What the ...!? Ad bahkan masih ingat janji kelingking kita? ku kira ia sudah melupakannya.
Saking bahagianya tanpa sadar aku memeluknya erat. Adimas balas memelukku. Namun entah karena dorongan dari mana, ku sentuh lembut pipinya, lalu membawa jariku turun dan menjalari rahang kokohnya. I1 tersenyum saat aku menyentuh bibir y1ang entah dari mana bisa membuat para gadis iri dengan warna merah alaminya. Mata kami saling terkunci pada satu sama lain ketika aku dekatkan wajahku padanya. Namun saat bibirku hampir menyentuh miliknya, ia menaruh dua jarinya di bibirku.
"Biarin aku jaga pengalaman pertama kita sampai hari pernikahan nanti ya, Rihan ..."
Aku tersipu namun tetap mengangguk menyetujuinya. Hatiku terasa hangat meski guyuran dingin dari langit belum juga nampak akan mereda. Adimas kembali memeluk tubuhku.
Jalan ini ..., entah sejak kapan berubah sepi. Namun, dari sebuah gang tak jauh dari tempatku berdiri, sebuah siluet yang ku kenali tengah berdiri disana, menatap tajam kami dengan pandangan iri. Bayangan koecil itu itu berlari pergi meninggalkan kami berdua.
Ucapan lembut Adimas menyadarkanku dari lamunan tadi.
__ADS_1
"Ayo..," aku mengangguk menyetujui pendapat Adimas.
"Apa aku melewatkan sesuatu lagi dari kekasih masa kecilku ini?"
"oh.., jadi hanya kekasih masa kecil ya..? apa aku yang terlalu berharap lagi ya..?" candaku.
Ia mengacak rambut basahku. "tentu saja kau lebih dari itu. Kamu masa depanku Rihan."
Aku tersenyum, " baiklah..., kamu tidak melewatkan apapun, Ad. Aku hanya terlalu bahagia."
Adimas meraih tanganku dan menggenggamnya. Senyumku kembali mengembang. Aki tak sabar menunggu hari esok. Sambutan apa yang akan aku dpat ya...? Aah yang pasti aku tak sabar ingin melihat ekspresi Nesya besok. Lalu akan aku persembahkan satu pertunjukan menarik untuk pria di sebelahku.
__ADS_1
Dan yang pasti, aku tak sabar untuk membongkar kebusukanmu dik Nesya...
Tamat...