Hujan

Hujan
Hujan dan Viro


__ADS_3

Hujan dan Viro #1


Rain


Orang-orang biasa memanggilku Rain, tapi aku sangat membenci namaku. Alasannya karena arti nama ini, hujan. Ya, aku benci dia. Kalau boleh, aku ingin meminta kehidupan kedua agar aku tak pernah terlahir dengan nama ini, nama yang sama dengannya. Apa itu masalah? Apa menurutmu aku aneh? Hey..., terserah saja kalau kau ingin menyebutku tak bersyukur atau apalah. Toh, aku punya alsanku sendiri!

__ADS_1


Lagi pula, bukankah wajar jika seorang gadis cemburu saat kekasihnya tersenyum selain padanya? Hanya wanita gila yang akan baik-baik saja saat melihat pujaan hatinya bercengkrama ria dengan wanita lain bukan?


Oh maaf, aku lupa memperkenalkan kekasihku padamu. Namanya Viro, konon ia adalah cowok cuek yang menjadi kapten basket di sekolahku. Aku sudah kenal baik Viro dari lama, di tidak pernah tersenyum selain pada tiga orang perempuan tercintanya, ibunya, adiknya dan aku. Tapi akhir-akhir ini ia selalu tersenyum tiap kali hujan muncul di hadapannya. Dia adalah orang lain, jadi dia tak pantas menerima senyum dari Viro. Karena itu aku jadi benci padanya yang selalu sok cantik dihadapan Viro.


Cemburu? Tentu saja! Bagaimanapun Viro adalah kekasihku dan aku tak suka jika ia membagi senyumannya selain padaku atau pada adik dan ibunya. Toh, selama ini aku sudah senang karena sikap Viro yang pendiam. Aku juga tidak pernah mempermasalahkan ucapan teman-temanku yang menyebut Viro sebagai kulkas. Aku tak peduli karena bagaimanapun aku mencintainya. Tapi aku tak bisa tinggal diam saat Viro terang-terangan membagi senyum indahnya pada dia. Seperti saat ini.

__ADS_1


Ah aku punya ide menarik! Segera aku berlari ke ruang tamu, memanjat bufet di sebelah rak buku lalu ku ketik beberapa kalimat di ponsel dan mencabut tusuk rambutku, membiarkan rambutku jatuh tergerai. Sudah ku putuskan, aku akan bertingkah seperti dia. Ya! Aku pasti bisa tampil lebih cantik dari hujan, si jalang itu!


Tak lama setelah aku mengirim pesan singkatku, Viro turun dengan senyuman. Namun sedetik kemudian senyumnya sirna. Ingin aku meneriakinya, mengapa kau malah menelepon orang lain? Apa ini tidak cukup cantik bagimu? Bukankah ini lebih berwarna? Bukankah seharusnya kau menyukai ini? Kenapa sekarang malah tidak ada cinta di matamu? Kenapa kau tidak tersenyum lagi seperti tadi? Kenapa kau menatapku seolah-olah kau tengah melihat mo ... monster?


Tapi aku tak sanggup, suaraku tercekat. Aku hanya mampu tersenyum bahkan saat Viro sudah duduk di sebelah ku. Ia memelukku dalam. Ingin ku usap air mata yang bercampur karyaku dari wajah tampannya, tapi ... lagi-lagi aku tak mampu. Tanganku begitu terasa sakit, tapi itu tak apa. Aku akan menahannya. Aku menyunggingkan senyuman terbaik yang ku bisa padanya. Pergelangan tanganku sudah mati rasa karena cekalan tangannya.

__ADS_1


Hal terakhir yang ku ingat adalah suara ribut di depan rumahku dan dobrakan pintu. Lalu aku tertidur karena lelah.


__ADS_2