Hujan

Hujan
L Untuk Mu


__ADS_3

L untuk mu #1


Air mata Kaira menitik jatuh, membuat bercak kecil di atap masjid yang datar. Di tengahnya berdiri dengan gagah kubah indah yang bermandikan cahaya emas yang terlukis indah di senja kala itu. Sekali lagi kristal itu jatuh dari mata bulatnya yang ia pejamkan menahan duka yang telah ia pendam dan sempat terlupakan begitu saja semenjak lima tahun lalu. Tepat lima tahun yang lalu.


"Perkenalkan nama saya Muhammad Nizam El-Qahirah." Kata itu terus saja menghantui detik-detik terakhir sebelum orang tuanya tiba di Mesir.


"Lo cewek samping rumah kan? Kaira?!"


Ya, Nizam. Seorang siswa pindahan Jakarta yang memasuki kelas 2-A di akhir semester genap. Alasannya cukup sederhana, ia sedang ingin kembali bersekolah di tempat orang tuanya tinggal setelah sebelumnya menuntut ilmu di kota metropolitan selama empat tahun. Tubuhnya yang tinggi dan semampai serta kepandaiannya membuat ia langsung merebut peringkat tertinggi sebagai siswa populer di sekolah dan jangan lupakan wajah tampannya yang menjadi nilai plus sehingga membuat para siswi betah berlama-lama membicarakannya di setiap sudut sekolah.


"Lo, udah berubah ya, Syauqy¹...," celetuk Nizam. Spontan saja wajah Kaira memerah dibuatnya. Maklum, ia sudah banyak mempelajari bahasa arab dari kakaknya. Pantas saja jika ia dapat memahami kalimat Nizam tadi. "Afwan², jangan ganggu ana³ !" Ia berlalu tanpa senyuman pada teman sebangkunya itu.

__ADS_1


bulan berganti bulan, dan selama itu pula Kaira harus bersabar dalam menahan emosinya yang selalu ingin meledak karena ulah Nizam. Pasalnya Nizam memanfaatkan kebaikan teman-temannya dengan peringkat populeritas yang dimilikinya. Mulai dari memerintah Eza menghapus papan tulis, menyuruh Mimi menyapu sampah bekas kerajinan tangannya, meminta Jasmin menuliskan materi sejarah yang tentunya tidak sedikit dan masih banyak lagi.


Kaira bukannya tidak pernah mengingatkan, ia sudah sering menegur teman sebangkunya itu. Namun Nizam akan mengelak kediktatorannya dengan mengatakan bahwa teman-temannya secara sukarela membantunya, jadi ia tidak memanfaatkan mereka. "Lagi Ra, sultan mah bebas..." Karena alasan gilanya itu Kaira menjuluki Nizam sebagai Raja gadungan karena ia suka memerintah.


Selain itu juga ia sering kali berkumpul bersama banyak siswi bahkan hanya untuk makan siang bersama di kantin SMA-nya. Katanya "Jangan nolak-nolak rezeki Ra, traktiran juga kan rezeki."


Sejujurnya Kaira merasa kecewa melihat tingkah laku Nizam. Terutama karena Hafalan Qur'an maupun hadits dan pemahamannya terhadap ulumuddin⁴ jauh lebih luas dibandingkan Kaira. Tapi, entah kenapa dengan mudahnya ia melanggar syari'at Allah. Aneh.., itulah yang dipikirkan oleh Kaira selama ini.


Begitupun Kaira yang langsung membereskan bukunya. Namun ia langsung terdiam saat melihat Nizam yang masih saja tertidur.


"Ini anak tidurnya pules amat, sih! Sampe bisa kagak keganggu ama garongan bel gitu.."

__ADS_1


Maklum saja bila Kaira tak dapat keluar, bangku kelasnya kan dirapatkan dengan tembok. Kata ketua kelas sih, biar rapih. Lagi pula selama ini Kaira duduk sendirian. Namun semenjak Nizam duduk bersamanya ia lebih sering diam ataupun memperhatikan pohon belimbing di belakang kelas melalui jendela ketimbang harus mendengarkan ocehan Nizam yang baginya sama sekali tidak bermanfaat.


Kaira terdiam memandangi Nizam yang masih tertidur. Otaknya berputar, memikirkan cara keluar dari tempat duduknya.


¹ Kerinduanku


² Maaf


³ Saya, aku (Kata ganti orang pertama)


⁴ Ilmu keagamaan

__ADS_1


__ADS_2