
Di Bawah Guyuran Hujan #2
Setelah insiden di halaman kampus itu, Adimas sering dijumpai tengah berdua bersama gadis itu. Ia bahkan sering meninggalkanku sendirian. Dan puncaknya adalah minggu lalu, aku memergoki mereka tengah berduaan di halaman belakang kampus. Saat itu Nesya tengah menangis dan Adimas nampak menemaninya Awalnya aku ingin mendekatinya namun urung karena melihat Adimas menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu cukup lama. Dengan jelas ku lihat tubuh Nesya menegang lalu kembali rilex sambil memiringkan kepalanya. Adimas menjauhkan wajahnya lalu memeluknya.
Ribuan jarum menusukku, merobek hatiku hingga tak berwujud lagi. Aku segera beranjak sebelum keduanya menyadari keberadaanku. Langsung saja ku enyahkan bayangan ciuman mereka. Namun lagi-lagi otakku membantah dan enggan melenyapkan memori buruk itu. Hari itu air mataku tak dapat dibendung. Seperti saat ini. Ia jatuh tanpa perintah.
"Rihan, kamu nangis?"
Aku segera mengelap air mataku kasar lalu menggeleng saat ia bertanya aku kenapa. "Kamu pulang sana! Jangan sampe ceweknya nunggu kelamaan!" Cibirku.
Dahinya mengernyit tanda keheranan, "siapa cewek ku? Aku gak pernah kenal bahkan jalan sama cewek selain kamu, lah...," terang Adimas.
"Bohong! Pembohong!! Aku bahkan liat kamu nyium dia! Di taman belakang, kamu jelas-jelas nyium dan meluk dia duluan. Lepas Ad! Biarin aku pergi!!" Aku berusaha mati-matian agar menahan air mataku. Rasanya sangat sakit untuk mengatakan itu semua.
Adimas menatapku tajam, terasa seperti ia ingin mencongkel mataku keluar. "Kamu salah faham, Rihan. Aku bisa jelasin itu ...."
Sejak kapan Adimas pintar mencari alasan dan bertingkah seperti cowok murahan begini? "Buat apa kamu jelasin hal itu ke aku? Aku gak ada hubungannya. Jadi lepasin aku, Ad!!"
Adimas melepas cekalannya. Ia menyugar rambutnya frustasi. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan bagus ini, aku segera melangkah cepat, meninggalkannya sendirian di sore yang kian menggelap.
__ADS_1
"Apa kamu cemburu?"
Langkahku terhenti. Tentu saja iya, aku memang cemburu. Tapi mana mungkin aku mengakuinya. Bagaimana kalau ia menertawakanku ataupun merasa jijik dengan pengakuanku.
"Jadi benar ya...? Sudah ku duga, kamu ..."
"Iya! Aku cemburu! Memangnya salah?" Aku tak bisa menahannya lagi, "Memangnya salah kalo aku cemburu karena liat kamu ciuman sama cewek lain? Memangnya salah kalau aku gak suka denger kamu tinggal serumah sama cewek yang manggil kamu abang? Memangnya salah kalau aku mulai suka sama sahabat sendiri? Memang salah kalau aku cinta kamu, Ad?!" Air mataku bertumpah ruah diiringi buliran air dari langit.
"Kamu ... cinta aku, Rihana?"
"Lupain Ad, jaga aja cewek lu baik-baik!"
"Nesya bukan pacar aku, Rihan ..."
Aku tak peduli.
"Dia itu adik sepupu, tante sama Nesya emang tinggal di rumah ku karena jarak ke rumah sakit lebih deket dari pada di rumah bunda."
Oh...
__ADS_1
"Ayahnya, om aku, koma di rumah sakit akibat kecelakaan ..."
Ya, aku turut berduka untuk itu. Tapi tetap saja itu tidak bisa memperbaiki hatiku yang hancur karena ...
"Dan yang aku sukai itu kamu, Rihana Amelia!"
"Bohong!!" Tubuhku bergetar, air mata semakin merebak keluar.
Sepasang tangan memelukku dari belakang, "aku juga cinta kamu, Rihan," bisik Adimas di telingaku.
Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, mencari kebohongan di matanya. Sia-sia. Adimas memang jujur. Aku tahu itu. "Kamu bohong!"
Gerimis membesar menjadi hujan, tapi aku tak peduli dengan tubuhku yang mulai basah kuyup olehnya.
"Kamu tau kalo sekarang aku jujur, kok. Lagian aku gak pernah ciuman sama cewek, dong!"
"Terus yang di halaman belakang ngapain?"
Bersambung...
__ADS_1