
Sebagian siswa-siswi sudah mengisi penuh ruangan. Osis yang memegang bagian konsumsi sibuk membagikan kue dan air kemasan pada mereka yang masuk ke aula.
Matanya terperanjat kaget melihat sosok laki-laki yang berjalan dari jauh. 'Aku mau hari ini saja. Bener, cukup hari ini aja' Dia memberanikan diri melihat laki-laki itu, walau wajahnya sudah memerah, bahkan tanpa sadar dia mengoyangkan kakinya. Bergetar tegang. Debaran jantungnya apa lagi.
"Jadi anak kaya gitu, tipe kamu?" Suara laki-laki itu megangetkan Anita. Tanpa persetujuan Anita, laki-laki itu sudah duduk disampingnya. Spontan Anita menggeser duduknya, menjauh.
"Siapa yang suka siapa?" Tanya Anita gelagapan.
"Kamu yang suka Hamdan!?"
Muka kaget Anita 'Gila!' Batinnya memaki "Aku lagi ga suka siapa-siapa_" Bantah Anita dengan cepat. Mukanya makin memerah.
"Mau aku bantuin buat deket sama si kunyuk itu, atau mau aku kenalin sama cowo cakep lainnya?!" Tamam mengedikkan matanya, menggoda Anita yang masi dengan wajah merahnya.
'Aku udah gak suka sama dia dari kemaren, ini orang emang bener-bener nyebelin. Kasian banget sama muka gantengnya itu, ketutup sifat dia yang buruk'
"Hah!!" Anita kaget dengan pikirannya sendiri. 'Bisa-bisanya aku nilai orang dari mukanya'. Batin Anita membantah
"Maaf kak aku lagi gak niat buat deket sama siapapun. Jadi kaka gak perlu repot jadi layanan perjodohan orang lain" Tegas Anita dengan memaksakan senyum kaku.
Sesorang Osis lainnya memanggil Tamam dari jauh.
"Serius Nit, apa kamu ga suka tipe-tipe cowo ganteng kaya aku?!" Pe-de Tamam sambil menautkan jari jempol dan telunjuk didagunya.
Anita melongo. Belum sempat dia mengutarakan kejengkelannya, laki-laki itu berlari menjauh dengan senyuman mengejek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Kak, boleh ga? Aku aja yg ganti kaka buat ngefotoin anak-anak teater?" Tanya Anita pada Seniornya.
"Boleh kok." Kaka Osis itu memberikan camera yang tergantung dilehernya. "Tolong ambil gambar yang bagus ya, Anita..."
Para anggota teater yang bersiap-siap naik panggung sudah berkumpul dengan kostum dan riasannya di ruang kelas kosong, disamping aula.
Sudah setengah acara berlalu, setelah ini gilaran anggota teater yang akan tampil.
Panggilan pembawa acara, itu semakin membuat suasana aula makin ramai, dan riuh suara teriakan siswa-siswi.
"Waaaa, Imass cantik bangett!!" Teriak Salah satu siswa.
Anita mengacungkan jempol. "Kak Imas super cantik harii ini!!" Anita mengacukan camera yang dipegangnya "Foto dulu dong!!!" lanjutnya lagi.
Cekrek!
Anita yang sedari tadi menonton pertunjukan, berusaha menahan tangis hingga matanya memerah. Sesekali dia berusaha fokus untuk mengambil gambar.
Hatinya tersentuh dengan jalan cerita yang dimainkan anak-anak teater.
'Mereka keren bangettt' Pikirannya berkali-kali mengatakan itu ketika sedang memotret anak teater yang berada di atas panggung.
Cekrek!
Cekrek!
Suara camera lain. Rupanya dia juga sedang fokus mengambil gambar. Bukan! Bukan acaranya. Tapi dia lebih fokus mengambil gambar perempuan yang mata dan hidungnya merah menahan tangis, di sampingnya. Melihat tingkah Anita yang fokus melihat pertunjukan sambil sesekali mengambil gambar lewat kamera yang sedari tadi dipegangnya. Itu ucu dan menggemaskan.
__ADS_1
'kalo nangis pasti makin lucu mukanya_' Seloroh laki-laki itu dalam hati, sambil melihat layar camernya.
"Jangan nangis, nanti pipimu makin bengkak!" Suara Tamam berbisik. Sengaja mengejutkan.
Anita yang sedang fokus dengan jalan cerita dan pembawaan anak-anak teater didepannya, kaget!
Hampir menjatuhkan camera yang dia pegang, "Hampir aja! Kalo sampe jatuh beneran, kaka yang harus tanggung jawab!!" Balasnya dengan sorot mata melotot tajam.
Tamam tersenyum melihat respon Anita yang melihatinya dengan tatapan sinis, matanya yang sipit itu lucu saat melotot.
Meski pun Tamam tersenyum, tapi Anita menganggap senyuman Tamam itu sebagai ejekan, karna laki-laki itu selalu menaikan setengah bibirnya saat tersenyum, setelah menganggunya.
"Jangan ngeliatin mulu. Nanti kamu suka!" Balas Tamam yang sedang pura-pura mengambil foto. Nyengir.
Melihat kelakuan Seniornya itu, membuatnya geleng-geleng kepala. 'Diemin aja nit. Diemin!! Sabar!! Sabarr!!' Batinnya menenangkan dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pembawa acara mulai mengumumkan satu-satu, juara hasil lomba pekan olahraga. Sampai di pengumuman terakhir, juara dari lomba puisi bergambar.
"Anita Wardana! Dari kelas bahasa 1A, sebagai juara harapan 2, silahkan maju kedepan..."
tepuk tangan meriah, serta sorakan dari anak-anak kelas bahasa 1A yang paling heboh.
Anita berjingkat, dan tanpa sadar memegang tangan Tamam sambil meloncat-loncat. "Waaahhhh!!!" Anita masi memegangi tangan Tamam yang kini mengayun kekanan kekiri, wajah Anita berbinar "Keren kan aku!!" Senyum Anita merekah.
"Iya_" Spontan Tamam menutup mulut, menyembunyikan senyum di bibirnya. "Buruan naik!!" Desak Tamam. Telinganya memerah
__ADS_1