I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 1 Oh. Ternyata!


__ADS_3

“Mereka yang sanggup bertahan  di sisimu adalah mereka yang mencintai kekuranganmu” (Khansa.2016)


“Aku berjalan di tepi sebuah sungai, airnya jernih dengan suasana hening. Aku menyusurinya, mencari ujung dari ruang yang imajinasi ini, aku melihat dari kejauhan, nampak indah nan mempesona, sebuah wujud yang tak asing lagi. Namun, kali ini nampak berbeda”. Ceritaku pada Alisa yang begitu serius mendengarkan sampai-sampai semua air liurnya bisa membanjiri kelas (Hufttt. Alay)


“Trerengg . . . Trerengg . . . Trerengg . . .” bel berbunyi menandakan jam pelajaran pertama akan dimulai.


Teman-teman segera berlarian menuju kelas. Namun, seperti biasa Andi lagi-lagi terlambat untuk yang kesekian kali, sementara Pak kumis yah begitulah panggilannya dari teman-teman,  telah berada di hadapannya dengan


memasang muka sangar dan sesekali menggerakkan kumisnya yang seksi.


“Yah, sampai dimana kuliahnya semua?” Pak kumis memulai pagi ini dengan ciri khasnya yang selalu berangan-angan menjadi seorang dosen. Namun, tidak kesampaian. Kasihan!  Jam pelajaran kali ini berlangsung seru, teman-teman sangat antusias bertanya dan menanggapi Pak guru hingga tak terasa jam pelajaran pun usai.

__ADS_1


“Trerengg. . . Trerengg . . . Trerengg . . .” kembali bel berbunyi, seluruh siswa segera berhamburan keluar bagai gemuruh ombak berkejar-kejaran. Mereka melintas ke sana ke mari, terkecuali Alisa yang tengah berlari menyusulku ke kantin.


“Hai, Tunggu aku!” teriak Alisa sambil berlari mendekat dengan wajahnya yang bundar persis seperti bola pimpong sedang berjalan.


“Amboi, ada apa nih? Why  you look so serious like that?” balasku heran dengan memberikan bahasaku yang campur aduk, seperti nasi campur, aduh sedap pula tuh (Sok sok ala-ala upin-ipin).


“Tenang-tenang tarik nafas dalam-dalam terus buang deh jauh-jauh, hehehe! just kidding. Sekarang ayo ceritakan apa yang membuat dirimu harus berlari-lari mengejarku seperti itu?” tanyaku lanjut.


“Aduh hatiku kenapa yah? Kok dag-dig-dug tidak karuan sih? Emm apa ini kali yah yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama” gumamku dalam hati.


Ketika menuju ke kantin di jalan aku dan Alisa berbincang-bincang, yah apalagi kalau bukan tentang siswa baru itu. Sesampainya di kantin segera kami memesan makanan dan mengambil tempat duduk seperti biasa. Kemudian Alisa mulai melanjutkan lagi ceritanya.

__ADS_1


“Aduh, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta deh Lin, soalnya baru kali ini aku merasa jantungku berdetak begitu kencangnya sampai-sampai lebih kencang dari Valentino Rossi yang sedang balapan. Hehe” kata Alisa yang so imut gitu dihadapanku. Tetapi,ternyata Alisa juga punya feeling dengan siswa baru sama halnya denganku. Entahlah, apa ini cinta atau hanya sekedar rasa kagum semata yang jelas aku merasa tertarik padanya.


“Apa-apan sih, apanya yang baru kali ini, perasaan setiap kali olahraga lari kamu selalu bilang gitu deh! Gimana sih kamu!!” timpalku geram sama bocah yang satu ini.


Pertengkaran kami pun usai, karena jam pelajaran akan dimulai kembali.


“Tapi, ini nih lain Lin!”


“baiklah-baiklah terserah kamu aja deh” kataku tak ingin memperpanjang pembahasan. Kemudian segera melahap satu persatu bakso yang kini sudah tidak panas lagi. Lalu, kulirik Alisa yang juga tengah asyik melahap nasi gorengnya dengan hasrat yang menggebu-gebu hingga ludes dan tersisa hanya tulang ayam dan sisa-sisa makanan lainnya.


Kemudian, kami segera berlari menuju kelas setelah sebelumnya membayar makanan kami di kasir, dan kebetulan berpapasaan dengan Andi, yang seperti biasa dia selalu nampak mempesona dengan senyumnya dan sesekali mengerdipkan matanya yang indah.

__ADS_1


Yah, itulah dia, tapi dia juga sahabatku yang the best sama seperti Alisa.


__ADS_2