I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 2 Biarkan saja!


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, seperti biasa aku, Alisa dan Andi semakin dekat saja. Jadi wajar saja jika kedekatan ini membuat Andi memiliki rasa istimewa terhadap Alisa. Padahal dugaanku mengatakan bahwa Alisa menyukai Arya yah, itulah namanya cowok manis yang sekarang semakin sering kuperbincangkan dengan Alisa, sekaligus merupakan cowok yang pertama kali membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Jika memang itu terjadi maka aku akan sangat prihatin pada Andi.


Aku bingung! Entah apa sebenarnya yang direncanakan oleh Alisa. Semakin hari, anak itu semakin sukar untuk ku pahami.


“Hai Lis! Mau kemana? Ikut dong!” panggil Arya ketika Aku dan Alisa hendak ke perpustakaan.


Yah, begitulah mereka berdua semenjak kami satu kelas, Arya dan Lisa semakin terlihat dekat yang membuat Andi terkadang merana. Bahkan terkadang kami harus puas menerima ketika dijadikan tembok antara mereka berdua saat sudah ketemu pasti merasa dunia milik mereka berdua, sampai-sampai aku dan Andi tidak digubris sama sekali.


“Hai Arya! Kami mau ke perpus nih, mau ikut?” Jawab Alisa dengan senyumnya yang manis, yang harus


ku akui bahwa aku sedikit merasa jelous. Tapi, kenapa? Aku tidak berhak untuk hal itu toh aku bukan siapa-siapa Arya.


“Hei! Jangan suka melamun. Entar kesambet loh!” teguran Arya mengagetkanku, membuyarkan lamunanku yang sudah sangat jauh. Aku bahkan tidak mendengar apa yang telah dibicarakannya dengan Alisa.

__ADS_1


“Ah, Eh, Apa? Tidak kok aku sama sekali tidak melamun!” sangkalku


“Hanya mengkhayal” kataku berbisik seolah berbicara pada diri sendiri.


Sesampainya di perpustakaan, aku yang 'doyan' banget baca buku. Bahkan pernah aku membaca hampir seluruh novel yang ada di perpustakaan sekolah dulu, dan sekarang pun masih sama, langsung tergiur untuk segera membaca, ketika melihat setumpukan novel berjejer di rak lemari. Berbanding terbalik dengan Alisa, dia  illfeel banget sama yang namanya karya fiksi apalagi puisi. Entah kenapa? Aku pun tak tahu alasannya.


Memasuki ruang membaca, di sana telah kulihat Evi yang ternyata lebih dulu stand by dengan berbagai jenis judul novel di sekelilingnya. Aku merasa dekat dengannya karena hobi kami yang sama. Aku juga mengenalnya lewat membaca novel, kami sering ke perpustakaan untuk membaca atau hanya bertukar pikiran tentang bacaan kami. Kurasa dia anak yang pandai juga


“Hei! baca buku apalagi sekarang?”


“Iya deh, aku juga ingin merasakan sendiri keseruannya. Makasih yah! Aku kesana dulu, dah”.


Aku berlalu menuju meja pojok. Tempat yang paling kusenangi untuk membaca, suasananya sunyi dikarenakan jaraknya dengn meja yang lain lumayan jauh sehingga sangat cocok untuk orang sepertiku. Sebelum memulai untuk membaca, mataku mencari-cari keberadaan Alisa dan Arya serta apa yang mereka lakukan sekarang. Kemudian mataku sejurus menatap kearah dua insan itu, ternyata mereka berada dipojokan yang lain dan begitu asyiknya bersendau guaru, mereka terlihat begitut akrab. Hatiku panas melihat kedekatan mereka lebih baik aku membaca.

__ADS_1


Tapi, bisakah? Sementara pikiranku melayang pada kedua insan itu. Namun, aku berusaha untuk fokus kembali, kulirik bukunya lalu kubaca judulnya, dari latar sampulnya terlihat sangat menarik untuk didalami isinya. Taman Sunyi Sekala  seperti itulah bunyi judul buku ini. Lalu, kumulai untuk membaca, dari paragraf demi paragraf, halaman demi halaman, hingga buku ini pun hampir terselesaikan untuk kubaca. Karena terlalu asyik


membaca sampai terdengar lagi bunyi bel. Menyebalkan, mengganggu saja.


“Cie. . . Cie. . tahu deh kalo sudah ketemu buku, lupa  sama sahabat sendiri” Alisa tiba-tiba nongol di sampingku, yang membuat aku terkejut.


“Ah, enggalah! Kamu tetap nomor satu bagiku dibanding buku-buku ini. Oh iya, dimana Arya? Bukankah tadi kalian bersama!” tanyaku  yang tersadar akan keberadaan Arya yang sudah tidak bersama kami lagi.


“Oh, Arya! Tadi sih tiba-tiba pamit pulang duluan, katanya sih mau cari Andi enggak tahu untuk apa”


“Oh, gitu. Yah sudah mari kita kembali ke kelas”


“Ok boss”.

__ADS_1


Lalu, semuanya berhambur menunaikan kewajiban sebagai anak sekolahan.


__ADS_2