I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 21 CInta Pandangan Pertama


__ADS_3

Aku berusaha keras untuk tetap melanjutkan kembali hidupku. Setelah beberpa bulan ini Arya semakin jarang menghubungiku.


“Mungkin di terlalu sibuk belajar!” pikirku setiap kali muncul pikiran yang tidak-tidak dalam benakku.


Aku terus berjalan menyusuri koridor kampus menuju perpustakaan berharap disana aku bisa bertemu Evi. Tiba-tiba “Bruggh…! Bleepp …!”. Seseorang menabrakku. Tapi, aku tak tahu siapa dan tak ku hiraukan siapa pun dia tidak penting, segera ku ambil bukuku yang telah berserakan dimana-mana. Lalu, tanpa kusadari dia pun membantuku mengumpulkan buku-buku itu.


“Tidak usah, aku bisa sendiri kok!”


“Biarkan saja, kan aku yang salah, karena sudah menabrak kamu. Jadi biarkan aku membantumu …Ini!” dia menyerahkan buku itu padaku


“Sudahlah, aku juga salah kok. Terima kasih yah!” kataku kemudian berlalu. Tapi, dia meraih tanganku.


“Eh, tunggu dulu!” katanya kemudian setelah menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan dengan memegangku, segera ia melepas pegangannya. Selain, karena aku memperlihatkan ekspresi muka masam melihat tingkahnya.


“Maaf-maaf! Aku tidak sengaja. Aku cuma mau kenalan saja kok”


“Iya, tidak apa. Aku Elina Noer Sapoerti. Tapi, kamu bisa memanggilku Elina!”


“Oh, nama kamu cantik seperti orangnya! Eh, maksudku… nama kamu bagus, bagus banget! Kenalin aku Ega. Ega putra sanjaya”


“Ok, aku duluan yah!”


“Eh, tungu! Kalau boleh tahu kamu mau kemana sih?”


“Aku mau keperpustakaan nih! Mau ikut!”


“Ehmm, kalau boleh …!”

__ADS_1


“Tentu, kenapa tidak, ayo!”


Kami berjalan bersama melewati beberapa ruangan ketika sampai di perpustakaan, kami berbincang-bincang, ada banyak hal mulai dari kegemaran hingga pelajaran tak luput dari topic pembicaraan kami. Nah, dari percakapan itu pula aku menemukan beberapa kesamaan antara kami, seperti membaca buku, nonton drama, dan kartun. Serta beberapa pendapat kami tentang pelajaran exact yang kebetulan dia juga anak Fisika ternyata. Dia kembali membuatku teringat kembali akan Arya. Jadi, kangen sama anak itu! Gimana kabarnya disana?.


“Oh yah, beruntung banget orang yang jadi pacar kamu sekarang. Bisa memiliki orang sebaik, semanis dan secerdas kamu, bisa mendapat perhatian dari sosok gadis yang sempurna sepertimu!”


“Ah tidak juga! Kamu terlalu berlebihan dalam menilai diriku, pujianmu itu tidak beralasan! Buktinya sekarang aku sendiri.”


“Ah masa sih! Aku tidak percaya. Tidak mungkin orang-orang mengacuhkan orang sepertimu!”


“Bukan begitu juga. Tapi memang aku yang terlalu sibuk pada pelajaran. Sebab, aku ingin sesegera mungkin menyelesakan study ku kemudian mencari pekerjaan yang layak dan membantu kedua orang tuaku.”


“Sumpah, kamu betul-betul cewek yang idaman banget yah, tidak hanya cantik di luar tapi juga dari dalam.”


“Tidak! Jangan menatapku seperti itu!”


“Oh, terima kasih!”


“Emm…… kamu mau enggak jadi pacarku?”


“Apa!?”


“Aku bilang kamu mau enggak jadi pacarku? Please!” ulangnya dengan lebih keras. Gila!


“Yang benar saja! Eh, sorry maksudku, kita kan baru kenalan tadi, kok kamu bisa langsung suka sama aku sih?”


“Memangnya kenapa? Apa salah jika aku tertarik sama kamu. Semua yang ada pada dirimu, kecantikanmu, kepribadianmu yang baik, kecerdasanmu,dan kebaikan hatimu. Lagi pula aku rasa kita memiliki banyak kesamaan dan itu membuatku dekat dan ingin mengenalmu lebih jauh”

__ADS_1


“Ok. Baiklah jika menurutmu seperti itu. Tapi, ada hal yang tidak kamu tahu tentangku ega. Kamu tidak mengerti!” nada suaraku sedikit naik.


“Tentu! Aku tidak akan mengerti jika kamu tidak memberitahukanku. Katakanlah apa yang membuatmu tidak bisa menerimaku.”


“Baiklah! Sebenarnya …” aku berpikir cara terbaik untuk mengungkapkannya agar dia tidak terlalu kecewa.


“Sebenarnya terlepas dari kesibukan kuliah ku yang memang ku sengaja untuk menyibukkan diri. Alasan utama kenapa aku tidak punya pacar hingga sekarang adalah karena … aku tengah menunggu seseorang untuk kembali. Aku tak dapat berpaling darinya. Hanya dia seorang yang mampu membuka pintu hatiku” jelasku. Ada perasaan


lega sekaligus bersalah pada kata-kata itu. Tapi, kuharap yang kulakukan ini benar. Seketika keteliti raut wajahnya yang berubah.


“Oh, maaf kalau begitu! Aku tidak tahu bahwa ternyata ada orang lain yang telah mendiami hatimu! Sekali lagi, aku minta maaf”.


“Sudahlah, bukan salahmu. Kau tak perlu minta maaf padaku. Aku tak berhak menghalangi perasaanmu padaku, karena cinta tidak berhak disalahkan. Oleh karena itu, aku berterima kasih karena berkesempatan mendapatkan hatimu! Salahku juga karena telah membuatmu berharap banyak padaku. Maaf!”


“Tidak…Tidak…Tidak. Ini benar-benar salahku. Oh yah, kalau boleh tahu, siapa sih orang beruntung yang bersemayam dalam hatimu.? Itu juga kalau kau tak keberatan!”


“Emm, tidak kok! Namanya Aryanto Anggara, dia juga dari jurusan Fisika sama sepertimu”


“Oh si Arya toh, yang jurusan Fisika teori itu kan? Aku kenal dia. Tapi, setahuku sih, dulu dia punya pacar …Eits tunggu dulu! Biar aku tebak. Dulu kalian pacaran tapi, putus gara-gara Arya berangkat ke Jerman untuk meneruskan kuliahnya kan? Lalu, hingga sekarang kamu masih menunggunya.! Pasti cinta kalian dulu sangat dalam yah!”


“Ehmm, aku menunggu karena dia memintaku untuk menunggunya hingga pendidikannya selesai dan aku tidak ingin mengingkari janjiku itu. Akan ku tunggu sampai dia kembali.”


“Sampai kapan? Kau akan setia menantinya? Maaf sebelumnya. Tapi, kamu terlalu baik untuknya, karena ku dengar ada seorang anak dosen yang menyukainya dan tidak menutup kemungkinan mereka akan bersama. Maaf, aku tidak bermaksud melukaimu!”


“Emm, begitu yah!” timpalku singkat. Mendengarnya seperti sebuah petir disiang bolong tidak ada angin maupun hujan dan aku kembali termenung.


 

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2