
Maka, seperti inilah kira-kira bunyi surat itu.
Dear Elina,
Sahabatku tercinta yang sudah ku anggap seperti saudariku sendiri.Kau merawatku di saat aku sakit, menghiburku di saat aku sedih, menemaniku saat aku tidak ingin sendirian, selalu ada setiap ku butuhkan.
Maaf, hanya kata itu yang bisa mewakili seluruh tingkahku selama ini padamu. Terima kasih, karena telah hadir dalam hidupku, berbagi cerita bersamaku. Sekali lagi maaf, karena aku tidak sempat pamit padamu untuk pergi menghadap sang pencipta. Bahkan jika kau telah membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi untuk selamanya. Aku tahu kamu pasti marah padaku karena tidak mengatakan apa sebenarnya penyakitku. Tapi, aku punya alasan mengapa aku melakukan itu, sebabnya, aku takut kau akan terbebani, karena aku tidak ingin berpura-pura tidak tahu bahwa kau pun memiliki banyak masalah sebelumnya. Terlebih ketika aku mendengar kabar akan musibah yang menimpa Arya.
Sisterku, aku sudah lelah dengan semua masalah ini, tidak ada alasan lagi bagiku untuk mempertahankan hidup ini. Lagi pula ayahku telah mendapat istri yang baik dan mampu membuatnya tersenyum bahagia, begitu pun dengan Nisa yang telah mendapat ibu yang pintar mengurusi dan merawatny serta sangat menganyayanginya. Aku pikir kamu juga telah menemukan kehidupan baru yang lebih baik, teman-teman yang jauh lebih baik dariku.Oleh karena itu, aku berharap kau juga bisa bahagia hidup dengan orang-orang yang baik di sekelilingmu. Oh iya, jika kau sempat bertemu dengan Andi tolong sampaikan juga suratku padanya, ada kutitip di Nisa.
Sekali lagi maaf saudariku, untuk semua ini yang ku tahu mungkin akan melukaimu. Ingatlah bahwa aku akan selalu menjadi sahabatmu untuk selamanya. Ku tunggu kau di surga.
__ADS_1
Tertanda sahabatmu
Alisa
“Bodoh…bodoh kamu Lis, kenapa harus pergi meninggalkanku sendiri menghadapi semua masalah ini. Kamu jahat…! Kamu jahat…! Kenapa tidak sekalian membawaku pergi bersamamu. Kamu bilang aku akan bahagia, bahagia dari mana Lis?” celotehku sudah seperti kehilangan akal sehat.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, semakin lama semakin terasa bahwa penderitaan terus menghantuiku. Hidupku hancur tidak ada lagi yang tersisa sekarang. Mungkin jika Allah mesih berkenan memberikan setitik cahaya-nya padaku suatu hari nanti.
Sepulang dari kediaman Alisa, meski harus berjalan tergopoh-gopoh dengan bantuan Evi, aku kembali ke rumah yang kebetulan mendapati Andi di depan pintu masuk kecil yang ku kontrak sejak aku kuliah. Yah, disinilah aku tinggal.Andi terlihat sangat cemas melihat kondisiku yang seperti ini sekarang.
“Elina, kamu dari mana saja?Aku sudah menunggumu sejak dari tadi!”
__ADS_1
“Heh, … jangan bengong saja disitu. Sini bantu aku bawa dia masuk”
“Aduh, … kalian tidak usah repot-repot, aku baik-baik saja kok. Hanya sedikit pusing dan lelah saja”.
“Hussft … kamu enggak usah berisik” sergah Evi.
Segera aku ambil kunci dan bergegas membuka pintu yang masih di bantu dengan Andi dan Evi. Tiba-tiba singga setitik rasa bahwa aku masih memiliki orang-orang yang menyayangiku. Ku lihat Andi yang sekarang telah lebih baik. Tetapi, akankah mesih seperti itu jika dia tahu apa yang terjadi pada Alisa-nya.
Nb: Maaf untuk typonya yang banyak atau cerita yang berantakan. Kami masih berusaha yang terbaik.
To be Continue
__ADS_1
Mohon sarannya teman-teman.