
Dalam kondisi masih tertegun tidak percaya. Tapi, hatinya tak bisa dibohongi, rasa cinta mengalahkan egonya untuk menahan tangis. Tanpa sadar bulir-bulir hangat menetes di tepian sudut matanya.
“Kenapa, Kenapa harus seperti ini Lis? Ini bukan perpisahan yang kuharapkan! Mengapa kau pergi begitu cepat? Aku juga masih sangat mencintaimu! …” Andi benar-benar kelihatan terpukul akan kenyataan ini. Dia kehilangan Alisa sekarang, yang tersisa hanya perasaannya dan kenangan mereka berdua. Air matanya menitik semakin deras. Jika kebanyakan lelaki mampu menyembunyikan luka mereka dengan menahan tangis, lain halnya dengan Andi, kau tahu benar bagaimana anak ini tidak dapat menyembunyikan perasaannya, terkadang dia begitu polos meski terjadang juga berusaha untuk tegar, apalagi jika dihadapan Alisa.
“Sabar yah!” Evi mencoba menenangkannya, yah dia memang orangnya tidak tegaan, yang ku tahu dengan pasti bahwa hal itu takkan mempan untuk seorang Andi.
“Apa urusanmu ? Kamu tidak akan mengerti bagaimana perasaanku, betul-betul tidak mengerti!” teriaknya di selingi isak tangis. Seperti kerasukan baru kali ini dia benar-benar terpukul.
“Baiklah-baiklah, aku tahu kamu sedang bersedih. Tapi, jangan lupakan satu hal, bukan hanya dirimu yang terluka disini. Lihat Elina! Dia sudah mendapat banyak masalah lebih berat darimu.! Tapi, tetap berusaha untuk tegar.”
Dia mencoba mendekat dan memelukku. Dia tidak mudah menerima orang lain, tetapi denganku berbeda, kami sudah bersama sejak lama.! Dia meraihku di dekatnya dan meluapkan semua lukanya dengan tangis. Memelukku dengan etar. Kami sama-sama terluka sekaligus kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup.
__ADS_1
“Maaf!” hanya satu kata itu yang keluar dari balik isak tangisnya.
Hari itu waktu terasa berlalu sangat lambat. Membuat luka ini semakin terasa jelas dan membekas, membayangiku di setiap langkah hingga tak dapat ku kendalikan diri. Seiring berjalannya waktu aku dan Andi berusaha meluapkan semua luka kami dengan berbagai cara, sampai tiba pada masalah baru yang ku temui. Aku terus berpikir kapankah semua ini berakhir? Kapan sang penulis mengakhiri kisah penderitaanku?
***************************
“Ketika segalanya telah menjauh. Tak ada sedikit pun alasan untuk tetap bertahan. Maka, apa artinya hidup ini? Aku lelah!” (Alkhansa.2016)
Aku tidak punya harapan untuk tetap hidup, aku kehilangan motivasi diri. Begitu banyak cobaan dari yang maha kuasa, meski selalu dan selalu ku coba untuk merelakan yang sudah berlalu. Namun, tetap saja selalu hadir bayang-bayang yang menyayat hati itu.
“Emm, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir, oh iya! Kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi kami …”
__ADS_1
“Ingat kami akan selalu ada untukmu!”
Terbayang lagi rona bahagia Evi saat memakai pakaian pengantin itu bersanding bersama Andi yang gagah, tampak mereka sangat serasi. Jujur ku akui bahwa aku iri pada kebahagiaan yang di dapat Evi. Melihat diriku yang sekarang, bahkan untuk mengurus diri sendiri saja sudah sulit, terkadang aku merasa pusing yang teramat sangat, hingga tidak bisa mengendalikan diri. Tapi, lagi-lagi aku mencoba untuk berpikir positif, mungkin hanya sakit kepala biasa.
Bagi yang bertanya-tanya kenapa ceritanya tiba-tiba loncat ke bagian akhir yang seperti ini. Iya jadi begitulah kisah ini akan berjalan menuju akhir.
Tetap dukung cerita ini dengan memberi saran yang membangun.
Aroma-aroma Tamat sudah dekat semoga kalian suka.
__ADS_1
To be Continue