I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 16 Babak Baru


__ADS_3

“Waktu terus berlalu menyapu semua tawa dari senyum di bibir kecilnya. Tapi, selagi masih ada setitik harapan. Itu lebih dari cukup untuk bertahan” (Alkhansa.2016)


Waktu terus berlalu, detik berganti menit, menit berhanti jam, jam berganti hari, hari berganti jadi minggu. Masalah yang datang bukannya semakin berkurang justru yang terjadi sebaliknya silih berganti, kebahagiaan yang dulu penuh canda dan tawa kini perlahan-lahan mulai memudar berubah menjadi kedukaan dan kekecewaan yang di iringi dengan tangisan demi tangisan. Aku selalu berharap semua akan kembali membaik, seperti sedia kala. Namun, kurasa aku masih memiliki alasan untuk tetap bersyukur atas semua ini. Setidaknya kisah cintaku tidak seburuk Alisa saudariku yang malang itu. Aku merasa beruntung karena hingga kini aku dan Arya masih bersama di tempat yang baru dengan identitas baru pula sebagai mahasiswa.


Inilah babak baru kehidupan kami, sejauh ini aku tidak terlalu tahu banyak bagaimana kondisi Alisa, atau pun keberlanjutan hubungan mereka, kabar burung yang kudengar mereka masih bergelut pada masalah yang sama nan berkepanjangan hingga tak terjumpai titik temu masalah yang begitu rumit!. Sejak hijrah ke kota ini, aku hanya sesekali menghubungi mereka, meski tak dapat ku pungkiri bahwa jadwal kuliah yang padat terkadang membuatku lupa akan segala-galanya bahkan diriku sendiri. Yups, fakultas yang ku ambil mengharuskanku untuk tetap fokus dan menjadi orang yang benar-benar sibuk. Kesibukan itu bukannya tidak beralasan tapi, sangat berpengaruh terhadap ujianku dan masa depanku di kampus.


Dibalik kesibukanku Arya selalu bisa memahami diriku, dia mengerti betul bagaimana situasiku sekarang, tak  jarang dia pun ikut membantuku membuat paper. Selain karena kami memang se-fakultas hanya berbeda jurusan saja. Aku ngambil kimia dan dia di fisika, kolaborasi yang bagus, sindir teman-teman sekali waktu!. Aku sungguh kagum pada sosok kekasihku ini, meski kami dihadapkan pada seabrek kegiatan. Tapi, dia selalu punya cara jitu untuk menjaga keharmonisan hubungan kami. Buktinya di sela-sela kesibukan kami menyempatkan diri untuk makan siang bersama. Seperti hari ini kami janjian untuk makan siang bersama.


“Hai! Ngelamun aja terus!,emang sudah tidak ada tugas lagi yah?” Teguran Evi secara tiba-tiba nyosor dari belakang membuatku terkejut dan berhasil mengusir semua lamunanku. Dasar!


“Ah, iya kamu bilang apa tadi?”

__ADS_1


“Itulah kau!, melamun saja yang kau tahu!”


“Ya maaf! Memangnya ada apa sih?”


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin cerita saja!”


“Cerita apa sih? Kamu kerjanya ganguin orang aja!”


“Eitss, …tidak gitu kok, Cuma bercanda jangan di ambil hati dong”. Kami terus ber-Bla-Bla melewati koridor menuju perpustakaan.


“Emang tidak mau ku ambil hati tapi ambil kertas sama pulpen! Weee”

__ADS_1


“Buat apa?”


“Yah, buat nulislah, masih nanya lagi.!


“Enggak nyambung loh!”


“Emang. Terus …masalah gitu?”


“Enggak juga sih …hehe!”. Kebetulan aku dan Evi di pertemukan kembali di kampus ini, aku mencoba mengenalnya lebih jauh. Meski sebenarnya itu hal yang seharusnya tidak sulit mengingat kami berasal dari sekolah yang sama, hanya saja berbeda kelas. Pertemanan kami pun berawal dari perpustakaan. Jadi, wajar saja kami lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan membaca apa yang bisa dibaca. Yups, kegemaran kami pada membaca membuat pegawai perpustakaan menghafal benar wajah kami. Sehingga ketika kami datang ia tidak segan-segan untuk menyodorkan buku baru terlebih untuk novel yang baru masuk. Maka, pada saat itu aku dan Evi akan berebut untuk menjadi pembaca pertama.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2