I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 13 Terhalang Restu


__ADS_3

“Jadi bagaimana sekarang?”


“Menurut kamu? Langkah awal yang bagus kita tempuh apa?”


“Lah, kok balik bertanya sih?”


“Sudah-sudah … sekarang yang terpenting itu siapa yang punya ide untuk memecahkan masalah ini?”


Percekcokan kami terus berlanjut sampai akhirnya kami menemukan benang merahnya.


“Jadi? Kita harus ke rumahmu sekarang, Ndi! Terus meyakinkan kedua orang tua kamu, tidak ada cara lain lagi. Tapi, kamu harus bekerja keras untuk itu. Tentu kamu sudah pikirkan resiko dari keputusan ini bukan? Tenang saja kami akan selalu berdiri di sampingmu, kamu harus berjuang demi keberlangsungan hubungan kalian ok! Tetap semangat …”


“Emm … aku rasa juga begitu! Memang hanya jalan inilah yang bisa ditempuh. Meski tidak mudah, namun akan ku jalani semua. Tapi, aku minta kalian untuk selalu ada membantuku ok!”


“Oh ya kamu juga harus siap menerima segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Misalnya kalian betul-betul tidak di restui”


“Aku sudah siap untuk itu, jika memang harus seperti itu aku akan terima semuanya. Meski itu akan menghancurkanku.”

__ADS_1


“Ok, sekarang kita masih punya masalah”


“Apa lagi?”


“Yah, belajarlah! Kalian lupa besok kita masih harus ujian gimana sih!”


“Ok, kalau gitu aku cabut duluan yah. Terima kasih untuk hari ini kawan!”


“Emm…”


“Sampai ketemu di sekolah, dan selamat berjuang, Ndi!”


“Ok …ok!”


“Pulang bareng Andi yah! Dah. Malam dan assalamu’alaikum !” ucapan selamat malam Arya mengakhiri perjumpaan kami malam ini, dia msih berbalik melihatku yang tengah berdiri di depan pintu setelah mengantarkan mereka ke pekarangan, sedang Andi telah bersiap-siap di atas motornya. Anak itu! Aku melambaikan tangan nungilku mengantar kepergian mereka yang dengan sekejap telah menghilang jauh dari pekarangan rumah.


***********

__ADS_1


Tiga hari terasa cepat berlalu dan ujian pun berakhir sudah. Yah, kami sudah berusaha dan selanjutnya kami serahkan semuanya pada Allah. Kini kami kembali focus untuk membantu Andi meyakinkan orang tuanya. Tantangan besar telah membentang di depan mata, siang ini kami segera bergegas menuju kediaman Pak Hartawijaya alias rumah Andi. Maka sesampainya disana sesuai adat orang bertamu Arya mulai mengetuk pintu seolah seperti  lawan dalam olah raga ketika wasit telah membunyikan peluit maka sang peserta bersiap untuk bertanding, setidaknya seperti itulah yang aku rasakan sekarang.


“Tok-tok-tok … Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumus salam iya tunggu sebentar” jawab seseorang dari dalam sana dengan ramah nan lembutnya mendekati pintu.


“Eh den Arya dan non Elina toh, mari masuk!” Sapa perempuan paruh baya itu dengan sangat ramah, dia tampak kurus dengan menggunakan stelan daster oranyenya. Mungkinkah dia tertekan bekerja di rumah ini? Pikirku.


“Oh, iya Bi’” jawab kami serempak kemudian saling melempar pandang dan tersenyum.


“Andi-nya ada Bi?” Arya kemudian berpaling menatap Bibi dan berhasil membuatku jelous. Berani-beraninya dia melirik wanita lain, awas saja nanti aku jewer dia!


“Iya, ada den, tunggu sebentar saya panggilkan, silahkan duduk dulu den, non!” kata bibi dengan mempersilahkan kami secara bergantian. Harus ku akui dia memang perhatian!. berselang beberapa menit setelah berlalunya Bibi, maka Andi pun muncul dari lantai atas kamarnya, wajahnya terlihat sangat segar, sepertinya dia baru selesai mandi.


“Eh kalian!” katanya saat matanya tertuju pada kami. Apa-apaan ini! Dia hanya bilang dua kata itu. Padahal ini semua kan kami lakukan demi hubungannya. Kurang baik apa coba kami! Sial.Dia kemudian mengambil tempat di kursi yang lain, dan bergabung bersama kami. Setelah lumayan lama berbincang-bincang tiba-tiba terdengar kembali suara ketukan pintu dari luar.


To Be continue

__ADS_1


__ADS_2