I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 20 Luka pasti akan selesai


__ADS_3

“Jika hanya menunggu yang bisa kulakukan saat ini. Maka, akan kulakukan! Tapi, tolong jangan terlalu lama. Aku takut tak sanggup dan berpaling” (Alkhansa.2016)


Hari-hari berlalu begitu berat untuk dijalani, hidup terasa sia-sia lagi seolah terjebak dalam radiasi benda hitam, mencoba mencari jalan keluar tetapi yang terjadi justru hanya terperangkap dalam pantulan tidak terarah di dalam. Begitu banyak hal  yang terjadi, masalah demi masalah silih berganti mendekati hidupku. Persahabatan, cinta, dan terakhir ini masalah yang paling menyiksa, aku rasa. Yups, masalah keluarga. Menyedihkan sekali!Apa kalian pernah merasa jika lebih baik mengakhiri hidup saja. Itulah yang akhir-akhir ini kerap singgah di benakku. Tapi, aku masih berusaha untuk berpikir positif. Aku manusia yang kuat, aku bukan orang yang lemah dan mudah putus asa.


“Dasar anak tidak tahu malu! Sudah menumpang, tidak bekerja pula. Seperti itulah anak yang tidak tahu terima kasih. Sudah dibesarkan, dirawat, dan diberi makan hingga segede gitu tetap saja tidak bisa diandalkan”

__ADS_1


“Begitulah dia setiap hari hanya enak-enakan di rumah. Ke sekolah menjadi alasannya untuk tidak mengerjakan pekerjaan di rumah. Dasar anak tidak tahu diuntung.! Kalau begitu aku menyesal telah mengambilnya dari rumah ibu dulu”. Terbayang lagi kata-kat ayah dan ibu beberapa hari yang lalu, aku tidak tahu persis mengapa mereka jadi seperti itu yang jelas kata-kata itu benar-benar melukaiku. Tanpa kusadari airmataku mulai menetes lagi, dan tidak sampai disitu kata-kata terakhir ibu itu benar-benar menyayat hati, rasanya seperti teriris begitu dalam.


“Dasar kamu anak durhaka!”. Lantas apa yang bisa kulakukan sekarang, hanya mampu terus tersedu dalam kesendirian yang sunyi. Jujur saja aku tidak mengerti asal muasal kemarahan mereka yang begitu dalam membenciku terutama ibu. Aku mencoba mengerti dengan berpikir positif seperti yang selalu aku lakukan, mungkin mereka lelah atau kecapain!


“Mereka orang tuaku bukan sih?” pikirku. “Ah. Tapi mungkin ini memang salahku” aku mencoba memperbaiki kembali pikiranku.

__ADS_1


“Dug…Dug …Dug! Allahu akbar Allahu akbar” suara adzan subuh mulai berkumandang yang membangunkanku dari mimpi buruk yang begitu menakutkan, aku bangkit dari tempat tidur dan bergegas mengambil air wudhu dan segera menunaikan shalat.


“Ya Allah, zat yang Maha Berkuasa atas segala hal di muka bumi ini, zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hamba datang kepadamu untuk menunaikan kewajiban hamba dan mengadukan seluruh keresahan hati hamba, karena hanya Engkaulah zat yang Maha Terpercaya dan mengerti. Engkaulah yang hamba percayai dan yakini. Ya Allah begitu banyak cobaan hidup yang kau berikan padaku, aku tak dapat menjenguk sodaraku yang sakit, orang yang kucinta pergi meninggalkanku, sementara kedua orang tuaku tidak menyayangiku. Aku berdoa semoga ini hanya perasaanku saja.  Ya Allah hamba berharap hanya kepada engkau, mohon kuatkanlah hamba untuk menerima semua suratanmu ini. Jika memang ini ujian keimanan hamba, maka berilah kelapangan hati hamba untuk mengikhlaskan semuanya. Hamba yakin sepenuhnya bahwa akan ada hikmah dibalik semua ini. Terima kasih untuk semua cobaanmu, Alhamdulillah. Amin.”


To be continue

__ADS_1


__ADS_2