
Setelah seharian mencari, bertanya sana-sini, keliling-keliling purwokerto akhirnya secara kebetulan kami menemukan alamat ibu baru Alisa.Tepatnya ketika kami kebetulan singgah makan karena kecapean. Eh, ternyata yang punya warung kenal samakeluarga ibu tiri Alisa. Yah, rupanya sosok ibu Alisa lumayan tersohor di kampong ini. Alhasil kami pun tiba di kediaman Alisa yang baru.
“Tok-tok-tok! … Assalamu’alaikum … Alisa!”
“Wa’alaikum salam, iya tunggu sebentar!” sahut orang berada dalam rumah, suaranya seperti tidak asing bagiku.
“Eh, Ka’ Elina! Apa kabar Ka? Ohya kok bisa tahu kami disini dari mana? Aduh, sampai lupa, silahkan masuk!”
“Kakak alhamdulillah sehat.Kamu bagaimana kabarnya?Ceritanya panjang sampai kakak tiba disini. Nanti saja ceritanya. Sekarang kakak mau ketemu kak Alisa, sudah kangen berat nih! Dimana dia?” tanyaku panjang, yang ku tahu membuat Nisa kebingungan harus menjawab yang mana dulu.Tapi, saat ku teliti raut wajahnya mengalami
perubahan.
“Kenapa rumahnya ramai sekali?” Tanya Evi pula.
“Ah, kebetulan ada acara.! Kalau soal kak Alisa, ……”
“Kenapa dengan dia, apa sakit lagi? Aduh jangan buat kakak jadi khawatir dong Nis! Mana kakakmu, cepat sana panggilkan!”
“Ohya, kebetulan ka’Elina datang! Ehmmm,… sebenarnya … Hari ini ramai karena ada acara tahlilan …malam ke tujuh hari kepergian ka’ Alisa…!” jelasnya terbata-bata disertai lelehan air mata.
__ADS_1
“Apa? Oh tuhan ku harap yang ku dengar ini bukanlah kenyataan. Ada apa lagi ini? Hamba sudah lelah dengan semua ini!” aku terkejut bukan main, tatkala mendengar berita kematian sahabatku tercinta.Siapa sangka orang yang selama ini ku harapkan dapat membantuku meringankan beban hidup ini, justru pergi lebih dulu mengahadap yang kuasa.Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening dan berat semakin berat hingga semua terlihat kabur, tidak ada satu pun yang terlihat jelas, dan hitam.“Brughh”.
******************
“Kakak… ka’ Elina. Ayo bangun!”
“Lin, bangun Lin!”
Dua suara gadis yang berbeda namun terdengar sama di pendengaranku yang belum bisa ku tangkap sempurna.
“Aduh! …” teriakku dengan memegang kepalaku. Kepalaku benar-benar terasa berat, yang aku sendiri tidak tahu kenapa.
“Iya, kakak jangan sakit juga dong!”
“Maaf yah Nisa, kakak merepotkan keluargamu,!”
“Ah tidak kok Nak Elina, kamu kan sahabat baik anak ibu.!Tentu tidak merepotkan sama sekali.”
“Iya, ka. Kakak sudah seperti kakak aku juga.”
__ADS_1
“Terima kasih banyak loh tante!”
“Iya-iya, tante tinggal dulu yah. Kalian istirahat saja dulu yah!” katanya dan berlalu meninggalkan kami.
“Ah, aku sudah tidak apa. Hanya sedikit pusing. Kakak tidak habis pikir kenapa Alisa melakukan ini pada kakak, kenapa tidak mengatakannya.? Memang dia sakit apa sih?”
“Benarkah? Kak Alisa takut mengganggu konsentrasi kuliah kakak. Dia tidak ingin membebani pikiran kakak dengan masalah-masalahnya.”
“Lisa…Lisa… kamu tetap sama bahkan dalam keadaan seperti ini, kamu kenapa se tega itu terhadapku. Aku kuat kok, kan aku belajar dari kamu anak bodoh! Justru dengan melakukan hal ini kau semakin membuatku terluka”
“Oh iya ka!Tunggu sebentar!” katanya kemudian berlari masuk ke dalam.
“Ini! Surat terkahir yang diam-diam di tulis oleh ka’ Alisa untuk kakak” sambungnya.
Aku meraih surat itu dan mulai membacanya dengan berlinangan air mata, aku terus membaca hingga selesai.
To be Continue
__ADS_1