I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 10 Aku ada untukmu


__ADS_3

Melihat Alisa yang terombang-ambing dalam lembah derita yang berkepanjangan, dan yang lebih menyakitkan karena dia tidak dapat selalu berada di sampingnya. Sebab, kami tengah mempersiapkan diri mengikuti UAS yang sudah semakin dekat. Betapa menyedihkannya kehidupan sahabatku yang satu ini, aku bahkan tidak pernah menduga sebelumnya bahwa hal ini akan terjadi. Namun, Tuhan selalu memiliki rencana lain untuk kehidupan setiap makhluknya. Dan, Alisaku tercinta harus mendapat takdir yang seperti ini. Dia harus menanggung sendiri penderitaanya sendiri di rumah yang sepi ini, Ayahnya terlalu sibuk bekerja sementara Nisa! Dia masih terlalu kecil. Apa yang bisa dikerjakan oleh anak usia delapan tahun sepertinya kecuali hanya untuk dijaga, namun inilah jalan hidup yang dipilihnya.


Tok-tok-tok…


“Alisa …!” panggil Andi, tapi tidak ada suara yang terdengar luar dari dalam rumah.


“Alisa …!” ulangnya lagi. Namun, tetap tidak mendapat jawaban. Tiba-tiba terdengar suara kemudian


“Iya, tunggu sebentar!” suara itu. Tapi ternyata bukan dari dalam. Yah, benar saja itu adalah Nisa yang baru saja memasuki pagar rumah kecil ini, terlihat dia membawa sesuatu yang seperti obat itu kelihatan jelas dibalik kresek putih yang dipegangnya.

__ADS_1


“Eh, Nisa! Habis dari mana dek?” tanyaku kemudian.


“Iya ka’ ini aku dari apotik beli obat untuk ka’ Alisa dia sakit lagi” jawabnya dengan raut ajah sendu.


“Apa? Alisa sakit lagi…!” Andi tampak mulai panik.


“Sudah-sudah! Sebaiknya kita segera masuk melihat kondisinya!” jelas Arya. Ia memang sangat bijaksana, dank arena itu pula yang membuatku semakin cinta padanya. Astagfirullah apa yang kupikirkan. Segera Nisa membuka pintu sementara Andi segera berlari menuju kamar Alisa. Tiba-tiba terdengar isak tangis dari dalam kamar. Maka, secepat mungkin aku dan Arya bergabung dengan mereka, sementara Nisa mengambil minum. Namun, belum lagi aku sampai di dalam dari balik pintu kamar aku menyaksikan dua insan yang ditakdirkan untuk  saling menintai tetapi justru cinta mereka harus di uji kebesarannya .


Tiba-tiba suara tangis itu berhentidan terdengar suaranya yang lebih lembut itu.

__ADS_1


“Alisa kau sudah sadar?” katanya masih dengan suara sendu. Akupun menghentikan tangisku dan  menghampiri mereka. Kemudian, kuberikan obat yang telah diberikan oleh Nisa tadi dan meminumkannya pada Alisa. Lalu, dengan lemasnya dia memegang erat tanganku, terasa olehku betapa dingin tangannya yang semakin hari semakin kurus.


“Teri-ma K-kas-ih” jawabnya terbata-bata.


“Iya, tak perlu berterima kasih. Kau kan saudariku! Selama aku bisa membantumu kenapa tidak! Aku akan merawatmu dengan senang hati”. Jawabku sambil memegang erat tangannya yang kecil  itu.


Yah, kami tidak tahu pasti penyakit apa yang di deritanya. Sebab, setiap kali aku bertanya, dia tidak akan menjawab sebaliknya selalu mencoba mengalihkan pembicaraan. Yup! Seperti itulah dia. Dia yang tidak ingin merepotkan orang lain. Sehingga tak banyak yang bisa kami lakukan, hanya memberikan obat penenang dan sejumlah vitamin, berharap kondisinya bisa membaik seperti sedia kala. Sebab, ini bukan yang pertama atau kedua kalinya dia sakit tetapi untuk yang kesekian kali dan hal ini membuat kami sangat khawatir akan kondisinya.


“Mana sweety pie?” tanyanya. Aku terkejut sudah lama sekali sejak terakhir aku mendengar nama itu.

__ADS_1


“Aku disini! Tenaglah.” Jawab Andi dengan matanya yang masih sembab itu mulai berkaca-kaca lagi.


“Sepertinya sudah lama sekali aku tidak mendengar kau memanggilku dengan nama itu. Ada apa?” tambahnya.


__ADS_2