
“Kehilangan mengajarkan arti betapa berharganya Ia disisimu. Maka,lakukan yang terbaik agar tiada penyesalan di akhir ceritamu” (Khansa.2016)
Kebahagiaan yang dahulu selalu hadir diantara kami untuk hari ini dan mungkin untuk waktu yang lama harus menghilang, mengingat kondisi Alisa yang masih sangat terpukul akibat peristiwa minggu lalu. Aku pun masih tidak percaya bahkan hingga detik ini, mengapa orang sebaik itu harus pergi dengan cepat, dan meninggalkan sejuta
pilu untuk orang-orang sekitarnya. Alisa dan keluarganya mungkin menjadi orang yang paling terpuruk akibat peristiwa itu. Bagaimana tidak? Sosoknya yang bersahaja dan menjadi separuh nafas bagi Alisa, yang melahirkan dan membesarkannya hinga seperti seperti sekarang.
*************
Sepulang sekolah aku dan Alisa berencana ke toko buku, lanjut dengan kegiatan kerja kelmpok besok. Olehnya, kami meminta Andy dan Arya untuk ikut andil dalam hal ini mengantarkan kami. Namun, entah mengapa Alisa terlihat sangat gelisah setiba di sana. Andy mencoba menenangkannya dengan meraih tangannya dan menyembunyikannya dibalik tangannya yang besar itu, dan itu terlihat berhasil meski tak sempurna. Aku lalu
__ADS_1
melanjutkan pencarianku, dengan ditemani Arya melewati rak-rak buku yang berjejeran tersebut mataku menyala-nyala tatkala membaca judul-judul novel yang ku jumpai, kemudian dari sekian banyak buku aku memilih satu yaitu sebuah novel yang dikarang oleh Abidah El-qalieky dengan judul Atas Singgasana. Belum lagi sempat kubaca tiba-tiba Andy dan Alisa berlari ke arah kami, dengan nafas terengah-engah mereka mencoba memberitahukan sesuatu yang tidak jelas ku dengar.
“Ada apa dengan kalian?”
“Jadi, baru saja aku mendapat telepon dari rumah “
“Ternyata dari Nisa yang mengabarkan bahwa ibunya masuk rumah sakit” timpal Andy.
Tiba di rumah sakit, kami bergegas menuju kamar tempat ibu Alisa dirawat. Saat memasuki ruangan terlihat adik dan ayahnya yang sangat terpukul, aku begitu sedih menyaksikan keadaan mereka dengan mata bengkak mungkin karena menangis. Mereka semua berdiri di samping tempat tidur ibu Alisa. Menyadari kedatangan kami Nisa lalu berlari menghampiri Alisa dan memeluknya erat. Aku melihat Alisa tidak dapat menutupi kesedihannya matanya yang mulai berkaca-kaca segera mendekati ibunya yang berada dalam kondisi sangat lemah yang sebenarnya sudah tidak mampu mengeluarkan suara lagi.
__ADS_1
“A-alisa.. k-kkemarilah, Nak! I-Ibu hanya m-min-ta sss-satu pada-mu.. to-long jaga a-adik mmu….” ibu Alisa berusaha mengambil nafas sepertinya masih ada yang ingin disampaikannya pada anak sulungnya tersebut.
“I-ibu ss-sangatt m-men-cintai-mu , Nak!!” itulah kata terakhirnya sebelum meninggalkan dunia yang fana nan penuh misteri ini. Ternyata Ibunya hanya menunggu kedatangan Alisa menyampaikan perpisahan untuk selamanya, dan kata-kata terakhir itu pula sontak membuat ruangan tersebut begitu bising karena isak tangis Alisa dan keluarganya serta kami semua. Kusaksikan untuk pertama kali Alisa benar-benar begitu terluka hari ini. Aku pun tak mampu berpikir logis, yang bisa kami lakukan hanya memintanya untuk bersabar menghadapi takdir tuhan yang satu ini. Andi mencoba meminjamkan bahunya untuk sandaran Alisa, mencoba berbagi kesedihannya. Sementara si kecil Nisa kuraih dalam dekapanku. Ia begitu kasihan harus menerima kenyataan pahit di usianya yang masih sangat mudah.
Suasana menjadi haru biru penuh kesedihan.
Note: untuk yang masih memiliki org tua sayangilah dan jagalah mereka.
Terima kasih
__ADS_1