
“Tapi…, tapi aku akan pergi ke jerman dan akan tinggal disana hingga kuliah S1-ku selesai. Itu artinya ……”
“Husst, hentikan jangan teruskan lagi! Aku akan mencoba untuk memahami itu semampuku!” aku menghentikan pembicaraan dengan menutup mulutnya. Untuk beberapa saat kesenyapan meliputi kami berdua. Aku tidak ingin terluka lebih jauh lagi, hingga tanpa kusadari air mataku mulai menetes satu persatu. Aku kembali mencoba untuk bicara sebisaku.
“Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskannya lagi. Kau mau kita …kita…putus bukan?”
“Sayang, aku sama sekali tidak berfikir seperti itu, kita tidak perlu putus. Kita bisa kok pacaran jarak jauh”
“Iya, tapi aku tidak bisa! Itu tidak menjamin, lagi pula itu hanya akan mengganggu konsentrasi belajarmu disana, dan aku tidak ingin itu terjadi.”
__ADS_1
“Tidak! Ku mohon jangan lakukan ini, jangan berkata seperti itu. Aku juga tidak menginginkan kita berpisah. Aku mohon jangan seperti ini!”. Arya beranjak dari tempat duduknya dan mencoba meraihku dalam dekapannya, sementara aku tidak dapat berkata-kata lagi. Kini hanya isak tangisku yang sedikit mampu meredakan gejolak dalam dadaku sekarang. Tetapi, kemudian kurasakan deru nafas Arya di telingaku, dia membisikkan sesuatu dengan lembut dan menyentuh, sesuatu yang berasal dari lubuk hatinya terdalam.
“Aku harap kau bisa menunggu hingga aku kembali, ku mohon! Jikalau pun mungkin kau akan menemukan lelaki yang lebih baik dariku, hanya satu pintaku, atas nama cinta kita yang suci dan hubungan yang sudah kita jalani. Jangan lupakan aku apa pun yang terjadi, karena kau akan tersimpan selamanya di hatiku dan kuharap kau pun
sama.
Kata-katanya seperti kekuatan ajaib yang seketika mampu membuatku yakin sepenuh hati padanya, aku tahu dia pun terluka akan perpisahan ini. Aku berdoa agar tuhan selalu melindunginya, kami berpelukan seolah tidak ingin berpisah dan selalu bersama, hidup bahagia selamanya. Lalu, aku membiarkannya ketika dia mulai meraih wajahku dan kurasakan deru nafasnya memburu saat dia menempelkan wajahnya begitu dekat. Rasanya semua tercurahkan lewat sebuah tindakan dosa itu. Entah mengapa saat itu, ada rasa ingin menolak sekaligus ingin memberikan yang terbaik untuknya. Maka, aku rasa kekuatan cinta kami terlalu besar hingga aku tak dapat menghindarinya. *Itulah ciuman pertamaku !
“Jadi, kapan kamu akan beangkat?” tanyaku kemudian mencoba mencairkan kembali suasana.
__ADS_1
“Minggu ini aku berangkat tepatnya sih sabtu sore pukul 16.15. pesawat akan berangkat ke jerman bersama rombongan. Jadi ssebelum ke sana kami akan ke beberapa kota dulu menjemput peserta yang lain. Sehingga, kemungkinan aku akan ke bandara nanti hari sabtu pagi.”
“Oh … …”
“Apa kau akan mengantarku ke bandara?”
“Tentu saja! Aku tidak mungkin melewatkan saat-saat terakhir bersamamu”
“Emm,, apa perlu kita beritahu hal ini kepada Andi dan Alisa?”
__ADS_1
“Tentu saja, jika kau tidak ingin mereka mengamuk, memusuhi kita, atau kemungkinan terburuknya meledakkan bumi ini dengan kemarahan mereka yang mampu menandingi dahsyatnya ledakan bom atom.” Aku berusaha menghibur, entah menghibur dirinya atau diriku sendiri. Aku berusaha menyembunyikan kesedihan ini dibalik tawa yang ku buat-buat.
To Be Continue