
“Tidak ada apa-apa. Salahka aku jika ingin memanggilmu dengan nama kesayanganku itu selagi aku masih sempat!” jawabnya yang mulai berlinangan air mata. Ia sepertinya tidak sanggup lagi menyembunyikan kesedihan dan ketakutan dalam dirinya.
“Sudahlah! Kamu bisa memanggilku dengan sebutan apa saja, sayang!” tambah Andi lagi. Kemudian, mengambil Alisa dalam dekapannya yang tulus dan hangat itu, memeluknya dengan sangat erat. Sungguh pemandangan yang mengharukan.
*********
Di perjalanan tanpa sadar bulir-bulir bening air yang keluar dari pelupuk mataku mulai menggenangi pipiku tatkala ku renungi kembali semua rentetan peristiwa yang terjadi hari ini di kediaman Alisa. Lalu, kemalangan itu bertambah karena setidaknya untuk dua minggu kedepan kami tidak dapat datang berkunjung untuk sementara waktu selama kami mempersiapkan diri mengikuti UAS yang semakin dekat. Kulirik Andi mempercepat laju sepeda motornya, bahkan jika mungkin ia lebih memilih menabrakkan dirinya karena kekecewaan yang membludak dalam hati dan pikirannya bertarung. Namun, setidaknya pikirannya masih waras hingga mampu mengendalikan diri untuk elakukan hal-hal nekat seperti itu.
__ADS_1
Sama halnya seperti Andi, aku pun merasa sangat berat membiarkan Alisa yang sedang sakit itu dan taka da yang mengurusinya kecuali si kecil Nisa, yang tentu saja tidak akan efisien setidaknya begitulah perkiraanku. Pikiran ini berkelebat tidak berpenghujung hingga yang bisa kulakukan saat ini hanyalah memeluk Arya dengan erat. Sebab, selain Alisa kurasa Arya-lah yang mampu membuatku marasa lebih baik.
Saat aku menghabiskan malam ini diperjalanan pulang ke rumah yang kulakukan hanyalah merenung dan merenung. Pikiranku melayang-layang pada Alisa untuk beberapa hari ke depan apa yang akan terjadi padanya nanti. Entah harus bagimana lagi, kehidupan ini terasa begitu sukar untuk ditebak sama seperti perasaanku
sekarang. Bahkan, aku pun mulai berfikir tentang ketidakadilan dunia. Tapi, ah apa yang kupikirkan ini yidak
Tidak terasa aku telah sampai depan rumah. Mempertimbangkan malam yang telah sangat larut, maka segera kuminta dia untuk balik tetapi sebelumnya ku berikan kiss night yang indah untuknya. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Pada setiap fase kehidupan selalu ada yang tersakiti. Akan ada suka duka yang mewarnai perjalanan hidup setiap insan.Bagiku mencintaimu adalah alasanku untuk bertahan. Tetapi, takdir tak bisa ku lawan. Bersamamu kurasai indah segalanya.Namun, dukamu sungguh tak bisa ku gadaikan untuk bahagiaku sendiri. Bisa jadi memang serupa ini seharusnya alur kehidupan kita. Perpisahan adalah hal terperih yang harus dihadapi oleh setiap insan. Entah terpisah oleh takdir dunia maupun terpisah oleh maut.
*********
“Trerengg . . . Trerengg . . . Trerengg . . .” suara bel berbunyi menandakan bahwa ujian hari ini telah usai. Aku kembali teringat akan perjuanganku untuk belajar mengikuti ulangan hari ini.
“Tedede-det … tedede-dedett” bunyi alarm membuatku terbangun. Terasa mataku begitu berat terkatup-katup. Tapi, apa daya aku harus bangun untuk belajar menghadapi ujian hari ini. Meski beberapa hari sebelumnya aku telah belajar. Namun, aku merasa tidak ada salahnya untuk aku meriview kembali apa-apa yang sudah aku pelajari sebagai tambahan bekal untuk pertempuran hari ini. Kulirik jam ponselku yang kini telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Aku kemudian menyalakan lampu dan mencoba menggapai buku yang ada di atas meja. Lalu, kubaca sekilas dan kulanjutkan dengan sholat tahajjud. Yah, karena bagaimana pun kita berusaha toh pada akhirnya yang maha kuasalah yang menentukan. Setelah aku rasa cukup, maka aku kembali menutup mata, menyiapkan tenaga agar dapat melewati hari ini dengan baik. Tidak lama aku kembali terjaga. Yah, kira-kira seperti itulah kronologisnya.
__ADS_1
to be continue