
“Ketika engkau yang selalu menghapus tangis dan isak dari hariku. Bagaimana aku sanggup untuk tidak melakukannya demi dirimu” (Alkhansa.2016)
Kedukaan yang dalam menimpaku bertubi-tubi, hingga aku merasa ruang ini tidak cukup untukku terlalu sempit dengan masalah yang menghimpit. Namun, aku tidak ingin terjebak dalam lingkaran setan, karena sudah sangat lama aku merasa terus-menerus meratapi kepergian Arya, yang kutakutkan akan jatuh sakit. Satu hal yang harus ku ingat bahwa aku masih memiliki Allah tempatku kembali, saat ini aku hanya butuh untuk menumpahkan kesedihanku dan yang terlintas di benakku hanya bayangan Alisa sahabatku.
Aku merasa ingin menemuinya sesegera mungkin, memang sudah sejak lama aku ingin ke sana. Namun, selau saja ada halangan. Untuk kali ini apa pun halangannya aku akan tetap kesana. Lalu, ku putuskan bahwa hari ini juga aku akan ke ruahnya. Ku harap dia baik-baik saja, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku menengoknya. Aku betul-betul kehilangan informasi tentangnya, bagaimana kabarnya sekarang.
“Hayo! Melamun lagi? Hobi banget sih? Entar kesambet beneran, baru tahu rasa, ayo cepat masuk!” Evi mengejutkanku dengan suara klakson mobilnya. Harus ku akui dia memang gadis yang baik. Oleh karena itu juga aku memintanya untuk melancarkan rencanaku ke rumah Alisa hari ini.
“Maaf, aku pusing banget nih!” Sahutku sabil melangkah masuk mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi, kurasa dia juga berbakat menjadi seorang pembalap.! Kami melintai kota melewati gedung-gedung yang berjejeran di pinggiran, berganti macam-macam pedagang kaki lima dan toko-toko, selanh beberapa jam kemudian kami sampai di depan rumah Alisa. Aku hampir tak mengenali tempat itu, terlihat sangat berbeda, seperti rumah kosong tak berpenghuni, suasana horror hening nan sunyi sementara dari luar terlihat sampah berserakan dimana-mana, bahkan pintu pagar pun sudah lapuk dan berdebu. Kemana Alisa? Apakah mereka masih ada disini?
“Tok-tok-tok… Assalamu’alaikum… Alisa!” aku mencoba memanggil.Tapi, tidak ada jawaban dari dalam. Ada apa sebenarnya?
“Tok-tok-tok … Alisa!”
“Alisa! Apa kamu ada dirumah?”
__ADS_1
“Tok-tok-tok …Alisa!” aku kembali mencoba untuk yang kesekian kali.
“Eh, Lin! Bagaimana kalau kita tanya sama tetangganya saja,… itu!” usulnya sambil menunjuk perempuan paruh baya di rumah sebelah yang kebetulan sedang membersihkan halamannya yang tidak terlihat kotor.
“Ehmm, ayo!”
“Assalamu’alaikum kalau boleh nih Bu, kami hendak bertanya pada Ibu!”
“Wa’alaikum salam, tentu Nak, kalian ingin menanyakan apa?” jawabnya sangat ramah dan bersahabat.
“Iya Bu, kami ingin menemui teman kami Alisa!”
“Oh, penghuni rumah ini sudah pindah sejak setahun lalu.Dan tidak ada yang namanya neng Alisa kalau Nisa ada!”
“Benarkah? Pindah kemana ya, Bu! Maksud kami Saras Alisa Ekawati, atau Alisa.!”
__ADS_1
“Jadi, kalian temannya neng Saras eh maksud Ibu Alisa.Ibu tidak tahu pasti yang ibu tahu mereka pindah ke kediaman ibu Alisa di Purwokerto.”
“Maksud ibu mereka semua sudah pinda kesana! Tapi, sepengetahuan saya ibu Alisa tinggal Magelang!”.
“Apa maksud ibu Alisa punya ibu baru.? Lalu, sekarang pindah ke rumah ibu tiri mereka”
“Sepertinya seperti itu neng!”
“Kalau begitu terima kasih yah Bu, kami akan mencari Alisa. Sekali lagiterima kasih banyak loh Bu, sudah di beritahu.!”
“Iya sama-sama!”
“Baiklah kami pamit dulu, mari Bu!” Kemudian, kami meluncur menuju purwokerto dengan misi mencari tempat tinggal baru Alisa.
__ADS_1
To Be Continue..