
“Sunyi itu selalu saja hadir membayang-bayang dalam kesepian,dimana duka begitu enggan untuk beranjak
menjauh dariku yang penuh luka” (Alkhansa.2016)
Terasa hari-hari yang sunyi, sepi, dan hening, hidupku semakin hampa tanpa kehadiran Alisa yang kini sudah tidak bersamaku lagi. Perlahan canda dan tawa itu mulai menghilang dari hari-hariku. Yah, sejak ditinggal pergi Alisa terasa sangat berbeda dab berta untuk melewati hari demi hari, meski kami masih bisa bertemu sekali dalam sepekan. Namun, entah mengapa semua terasa berbeda. Melihat sang fajar mulai meninggi, aku bergegas menuju kamar mandi. Untuk kesekian kali aku khilaf bahwa ternyata hari ini tepat hari minggu artinya kami kembali akan menginjungi sahabatku yang polos itu. Yah, inilah kegiatan rutin yang kami lakukan maksudku hanya aku Arya dan tentu saja Andi. Hemm jika sudah berbicara tentang Alisa apapun itu pasti takkan luput dari pendengarannya.
“Aduh, . . . Sakit!” teriakku ketika tanpa sengaja menabrak pintu kamar mandi Karena terburu-buru. Kepalaku benar-benar terasa pening sekarang, kenapa ada begitu banyak bulan di pagi buta seperti ini? Kemuadian, sambil berusaha mengembalikan kesadaranku dengan duduk sejenak di depan kamar mandi yang setelah beberapa menit saat aku mulai merasa baikan, lalu aku kembali melanjutkan tujuan awalku ke kamar mandi yups bersih-bersih tampil rapi dan cantik sebelum kami segera bergegas menuju kediaman Alisa.
“Hufss rasanya teramat segar habis mandi!” kataku pada diri sendiri, sudah seperti orang gila saja aku ini. Tiba-tiba saja bunyi klakson dari luar. Ah, itu pasti mereka! Pikirku. Yah, bagaimana bisa aku tidak tahu, sementara hampir setiap hari aku mendengar bunyi klakson yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri menyadari siapa yang datang. Hehe!.
“Itu pasti Arya! Cepat sekali mereka datang!” gumamku.
“Tok-tok-tok… Lin!” teriaknya. Suara Arya yang terdengar serak-serak lembek itu membuatku semakin mencintainya.
__ADS_1
“Masuk saja!” Jawabku. Setelah rapi segera ku hampiri mereka.
“Ayo! Tunggu apa lagi!” kataku seraya menggamit tangan Arya.
“Weits, cantiknya!. . love you!” godanya.
“Ayolah jangan beromantis-romantis disini dong, ada yang tercederai nih!” gumam Andi.
“Aku tak sabar lagi ingin segera berjumpa dengan sang pujaan hati” sambungnya.
*********
Di perjalanan kami tidak lupa untuk singgah memberikan makanan untuk dibawa ke rumah Alisa. Kebetulan sekali kami berpapasan dengan Putri sepupu Arya yang baru keluar dari tokoh dengan beberapa kantong plastic berisikan beberapa jenis buah yang digenggaman tangannya.
__ADS_1
“Eh, de’ kamu sama siapa?” seru Arya
“Sendiri aja kak, eh ini habis dari beli buah-buahan buat teman yang sakit!”
“Oh! Kalau begitu hati-hati di jalan yah!”
“Ah iya pasti! … Mari kak saya duluan!”
Basa basi mereka tak ku pungkiri membuat saya sedikit geram. Namun, berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Positif thinking Elina! Bantahnya pada diri sendiri.
“Wajar saja kalau Arya dekat dengan sepupunya sendiri!”. Aku berusaha mengundalikan diri. Akhirnya Andi keluar dan membawa bebeapa bungkus makanan. Lalu, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Setibanya kami di kediaman Alisa, tanpa membuang banyak waktu kami langsung memasuki pekarangannya, sebuah tempat yang sejujurnya jauh dari kata pekarangan inilah tempat Alisa menghabiskan hari-harinya yang sunyi. Tiba-tiba Andi nyolong startndi pintu rumah. Sejujurnya aku mengerti akan kondisinya, yang begitu terpukul melihat keterpurukan yang dialami oleh orang yang sangat dicintainya.
__ADS_1
Guys Semoga bermanfaat yah. Dukung terus dengan kritik dan saran yang membangun.