
Selain, hobi membaca dia juga hobi banget nulis, entah cerpen, puisi, novel atau pun essai. Sedangkan aku biasanya hanya membaca saja kemudian mengomentari yang perlu dikomentari. Rencananya sih, dia akan membuat sebuah novel. Asyik banget!
Sosoknya yang pandai, sederhana dan manis dia juga lucu banget, habis dia mungil gitu, sebabnya banyak laki-laki di kampus yang naksir sama dia meskipun tidak memiliki paras yang cantik.
“Eh, hampir lupa! Tadi, aku ketemu Arya di kantin, katanya kamu di suruh kesana sekarang di tunggu, sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan! Hayooo …mau melamar kali tuh!”
“Husstt, apaan sih. Serius kamu? Ah iya, kami memang janjian makan siang. Kalau begitu, sekarang aku pergi duluan yah, nih titip bukuku ok!” kemudian aku berlalu menghilang dari hadapan Evi menuju Arya yang telah menunggu di kantin.
“Good luck yah!” teriaknya sejauh angina mengantar suara itu hingga mesih terjamah oleh gendang telingaku. Anak itu!
Aku berdiri tepat di pintu masuk kantin dengan nafas yang masih terengah-engah aku mencari sosok Arya, dan yah aku menemukannya sekarang. Disana di tempat paling pojok di bagian belakang, hari ini dia begitu memukau dengan jaket hijaunya yang bergaris kuning pada bagian lengannya. Kuharap dia tidak tebar pesona pada gadis-gadis yang tengah makan di kantin ini. Aku segera menghampirinya!
“Ada apa? … katanya … kau …mencariku?”
“Duduk dulu sini, habis di kejar ****** gila dimana?”
“Bukan …anjing gila kok!”
“Husst,diam dan tenanglah. Terus kenapa ngos-ngosan gitu?” “Nih … , minum dulu!”. Lanjutnya dan memberiku
sebotol air mineral. Aku mencoba memperbaharui irama nafasku sampai tidak kurasakan nafasku berkejar-kejaran lagi.
__ADS_1
“Ya, ini semua karena kamu. Sampai aku harus lari-lari seperti orang gila dari perpustakaan kemari. Katanya kamu mau bicara penting?”
“Oh, iya sorry-sorry, ini salah kamu juga, siapa suruh buat aku tergila-gila sama kamu sampai tidak tahan lagi untuk bertemu”
“Ah, masa sih, gombal! Kayanya semua laki-laki di dunia ini emang diciptakan buat pintar gombal deh,!”
“Emang iya, kami diciptakan untuk meng-gombal cewek-cewek canti seperti kamu”
“Apa? Jadi maksud kamu …,! Kamu juga gombal cewek cantik yang lain gitu”
“Aduh, jangan manyun gitu dong. Yah enggaklah, kan yang cantik dimata aku cuma kamu seorang, gimana mau gombalin cewek lain. Kalau inspirasinya hanya berasal dari wajahmu yang indah itu.”
“Serius?”
“Percaya deh!” kulemparkan senyum termanis yang pernah kumiliki. Kemudian, setelah Arya memesan makanan dia kembali ke tempat duduknya dan mulai terlihat serius. Wajah seriusnya yang seperti ini membuatku takut.
“Sayang!, aku mau mengatakan sesuatu nih. Tapi, janji kamu jangan sedih yah!”
“Iya, katakana saja. Kenapa aku harus sedih? Memangnya ada apaan sih?”
“Aku tidak mau mengatakannya sebelum kamu janji dulu, please ini penting!”
__ADS_1
“Iya-iya aku janji deh, memangnya ada apaan? Cerita dong!’
“Jadi begini, barusan aku dari ruang rektorat mengahadap. Lalu,… “
“Lalu kenapa? Apa kamu berbuat sebuah masalah?”
“Bukan-bukan, aku sama sekali tidak pernah buat masalah. Kecuali karena terlalu berprestasi makanya itu aku di panggil!”
“Maksudnya? Aku tidak mengerti. Bukannya itu justru bagus? Kamu memang hebat, aku bangga jadi pacar kamu!”
“Jadi, aku salah satu dari lima orang yang terpilih mendapat beasiswa …!”
“Apa? Aku semakin bangga, itu sebuah penghargaan yang menarik.” Kataku yang selalu memotong penjelasannya. Bukan tanpa alasan. Tapi, aku sengaja, sudah bisa ditebak ke mana arah pembicaraan kami, yakni bermuara kepada perpisahan. Sebabnya kenapa dari tadi perasaanku tidak enak.
“Iya, aku tahu sayang! Seharusnya aku bahagia bukannya bermuram seperti ini. Tapi, ……beasiswa ini adalah pendidikan ke luar negeri, selalu yang kumimpikan selamaini akhirnya terwujud! Namun, sekarang aku merasa begitu berat melakukannya.”
“Tak apa! … aku mengerti ini adalah impianmu, maka kejarlah. Kenapa aku harus bersedih melihat kekasihku mendapat sebuah keburuntungan, sudahlah jangan memasang wajah sedih seperti itu!”
“Aku benar-benar merasa beruntung memiliki seorang kekasih sepertimu, yang memahamiku sepenuhnya, selalu ada disisiku setiap kali kubutuhkan dan yang paling penting kau mengerti betul akan diriku. Terima kasih, sayang!”
“Jangan seperti ini ah, kita akan tetap bersama selamanya!”
__ADS_1
To be continue