
Masih melanjutkan percakapan yang menyedihkan, merenungi setiap detik kebersamaan yang tersisa. Berusaha mencipta Kenangan sebanyak mungkin. Seperti tak pernah terbayang sejak bersama bahwa perpisahan akan menjadi akhir diantara mereka. Seolah tak ingin hari ini berlalu, hanya ingin dia saja yang ku pandang hari ini.
“Ini makanannya, silahkan!” Kata si pelayan yang membuat kami gelagapan.
“Oh iya, makasih ya Neng!”. Jawab Arya pada si pelayan muda yang kira-kira umurnya baru belasan tahun sudah harus bekerja. Kasihan sekali!
Setiap makhluk memiliki nasibnya sendiri-sendiri, sama seperti pelayan itu yang telah di takdirkan untuk menjadi pelayan begitu pun dengan diriku.
“Ayo makan! Kebiasaan banget sih melamun! Asal jangan dijadikan hobi yah”. Seolah tidak ingin membiarkan waktu terbuang percuma kami memanfaatkan segala kesempatan yang masih mungkin untuk ku raih, untuk saling meluapkan kasih sayang. Arya mulai bertindak dengan menyuapiku makanan yang sudah di pesan.
“Ayo makan yang banyak yah!, jangan sedih terus entar kamu sakit dan itu akan membuatku tidak tenang untuk pergi meninggalkanmu disini”
__ADS_1
“Iya-iya boss! aku bisa jaga diri kok, dan janji tidak akan sedih lagi, nih lihat!” kataku mencoba meyakinkannya dengan membuat senyum semanis mungkin sementara hatiku merintih.
“Kalau aku bisa!” lanjutku seolah bicara pada diri sendiri.
“Sudahlah cepat habiskan makananmu, sebentar lagi kamu ada pelajaran kan!”
****************
Beberapa hari berlalu, dan sekarang tibalah saatnya dimana perpisahan yang membuat luka itu harus terjadi. Aku tiba-tiba telah berada dibandara, sebelum berangkat Arya memberikan pelukan terakhir yang terasa begitu hangat seolah tidak ingin melepaskanku dan seakan-akan kami akan berpisah untuk selamanya. Ah mungkin hanya firasatku saja yang juga tidak ingin kehilangannya, dia pun kembali menciumi keningku beberapa kali dan kalung yang ku kenakan seolah menjadi saksi bisu sekaligus bukti akan kasih sayangnya padaku, ini kudapatkan saat kami
“Aku berikan hatiku sepenuhnya padamu. Maka, tunggulah hingga aku kembali” katanya masih berada di dalam mobil. Sedangkan aku memberinya kalung juga tetapi berbentuk kunci. Sebab, sampai kapan pun hanya dia yang mampu membuka pintu hatiku. Setelah pesawat akan lepas landas tanpa kuinginkan air mataku menetes begitu saja dia kembali berbalik dan berlari memelukku sekaligus menciumku untuk yang kedua kali. Kami mencoba melepas semua gunda lewat ciuman ini. Sebelum akhirnya dia menghilang bersama suara desing mesin pesawat yang mulai terbang menjauhi bandara.
__ADS_1
Kini tinggallah aku yang hanya bisa menangis di temani Alisa dan Andi, yang harus ku akui mereka adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Mereka dengan setia menemani dan menghiburku, bahkan Alisa harus datang dengan kondisi yang kurang sehat. Seperti biasa dia selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan kami semua. Lalu, Andi menyempatkan diri untuk hadir dengan mengorbankan acara keluarganya di Bali. Mereka berdua memang yang terbaik!.
****************
Note: Kebersamaan memang indah sebagaimana kepergian juga selalu menyisahkan duka. Tapi begitulah takdir tercipta. Jalani saja dan syukuri setiap apa yang ada disisi saat ini.
Bagaimana menurut teman-teman ketika cinta memilih untuk meninggalkan?
Apakah kalian memilih pilihan yang sama sebagaimana pilihan kedua pasangan di atas?
Jangan lupa komennya untuk lebih baik kedepannya inshaa Allah
__ADS_1
Semoga Bermanfaat
To be Continue