
*Bantu dukung karya kami dengan memberi komen yang membangun yah.
“Kenapa tiba-tiba mencariku, Ndi?” tanyaku memulai percakapan. Ketika kami telah berada di ruang tengah tempat tinggalku yang terasa pengap. Belum lagi dia sempat menjawab, aku kemudian melanjutkan lagi.
“Oh iya, Andi! Kenalin ini Evi teman dekatku sekarang…Evi, ini Andi sahabatku”
“By the way, apakah dia Andi yang dimaksud Nisa?” tanggapan Evi yang secara mendadak mengungkit tentang Nisa, membuat raut wajah Andi berubah seketika.
“Apa Lin? Nisa adik Alisa …kamu ketemu dengan mereka? Dimana? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Oh ya, apa dia masih di tempatnya yang dulu? Jawab dong Lin! Jangan diam saja”
“Bagaimana aku bisa menjawab jika kamu memberiku seabrek pertanyaan yang tiada henti!”
“Maaf-maaf! Habis aku kangen sama dia, pengen tahu bagaimana keadaannya sekarang! Beri tahu dong … cepat katakan!”
“Baiklah-baiklah, sabar dulu kenapa! Sebenarnya … Alisa sudah tidak di sana lagi!”
“Apa dia pindah? Pindah kemana?”
__ADS_1
“Iya dia telah pindah, … pindah ke sebuah tempat yang jauh bahkan sangat jauh. Hingga tidak bisa kita jangkau!” setelah mengatakan itu, rasanya dadaku sesak, mengapa begitu sulit untuk menerima kenyataan yang ada.
“Apa maksudmu sebenarnya Lin,? Jangan membuatku takut! Ada apa dengan Alisa?” jelas terlihat kecemasan yang teramat sangat di raut wajahnya.
“Haruskah ku katakan bahwa Alisa telah pergi meninggalkan dunia ini … meningglkan kita semua. Dia pergi menyusul Arya!” aku tak lagi mampu membendung gejolak hatiku yang perih semua terlampiaskan lewat air mataku yang meniti dengan cepat di pipi ini. Aku terus terisak tak ada lagi kata yang mampu untuk ku lontarkan. Ku lirik Andi yang telah berlinangan air mata. Mata yang sama saat dimana dia selalu mencemaskan Alisa ketika sakit, mata yang sendu ketika harus berpisah dengan Alisa.
“Apa …? Jangan bercanda Lin! Kamu tidak sedang mengerjaiku kan?” Masih terperanga dengan pernyataanku.
“Tidak … sama sekali tidak! Elina tidak bercanda, aku berada di sana juga kok mendengarnya langsung dari adik Alisa! Cobalah untuk menerimanya.”
“Benarkah?” katanya seraya bergegas berlari keluar.
“Jika kau pikir untuk menemuinya di rumah lama. Maka, kamu salah! Mereka semua sudah tidak tinggal disana lagi! Jadi jangan gegabah!” lanjutku dengan mengeluarkan segenap kekuatan yang ada. Terlihat dari jauh, dia mengurungkan niatnya, dan berjalan kembali ke kursinya semula.
“Tapi, aku belum lagi sempat pamit padanya, meski itu untuk yang terakhir kali!” nada suaranya mulai melemah.
“Aku tahu persis bagaimana perasaanmu Ndi! Aku juga terkejut saat mengetahui kenyataan ini. Aku pun tidak sempat berjumpa dengannya. Tapi, dia menitipkan sebuah surat untukmu.! Ini ambillah!” lalu ku berikan sepucuk surat berwarna biru itu pada Andi.
Dia mengambil surat itu dan mulai membacanya.
__ADS_1
Dear Andi
Sahabatku tersayang, sekaligus pemilik hatiku, penentram jiwaku, kekasihku yang ku cintai.
Andi! Aku tidak tahu harus memulai dari mana, yang pasti aku menulis ini karena aku takut, jika nanti aku pergi sebelum sempat bertemu denganmu lagi. Aku merasa hari-hari yang berat ini membuatku lelah, aku ingin pergi ke tempat yang jauh lebih tenang. Maaf, karena tak banyak yang bisa ku katakan padamu berhubung karena kondisiku
hari ini terasa lebih buruk dari hari-hari kemarin. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku sangat bahagia pernah mengenalmu, kau mengajarkanku banyak hal, membuatku merasakan bagaimana manisnya cinta.
Tapi, aku minta maaf jika selama ini yang ku lakukan hanya menyusahkanmu dan yang lain. Sekarang aku sudah merasa lega, terlepas apakah kamu akan membaca surat ini atau tidak, yang jelasnya aku berharap kamu akan bahagia bersama orang lain.
Dariku yang sangat mencintaimu dan akan selalu begitu hingga akhir.
Alisa
To be Continue
__ADS_1