
Jam menunjukkan pukul empat saat kami tiba di dermaga ini. Pemandangan di sekelilingnya betul-betul indah hamparan air di laut lepas, pesona karang-karang yang diterpa ombak, pantai dengan pasir putih, didukung dengan cuaca yang cerah, namun tidak terlalu panas. Sejuknya angin laut ini langsung menerpa merasuk hingga ke dalam-dalam. Hingga terasa hilang semua beban hidup ini.
Setibanya di dermaga, aku menoleh dan kulihat Andi tengah memanfaatkan kesempatan hari ini. Dia tampak sangat serasi dengan Alisa. Entahlah! Apa ini sudah direncanakan sebelumnya atau tidak, yang dominan biru. Andi
memakai kemeja biru dengan garis putih lengkap dengan jeans hitam, sangat cocok dengan Alisa yang memakai blouse biru dan rok putih.
Aku iri pada mereka, tapi tak mengapa. Lalu kulirik Arya yang ternyata berjalan mendekat ke arahku. Kami duduk bersamaa menikmati suasana. Ingin sekali aku menoleh padanya walau hanya sekali atau tanpa sengaja. Kuharap ada malaikat yang mendengar doaku untuk bisa menatapnya lebih dekat. Tapi, sayangnya rasa takut menyergapku, takut dia akan tahu bagaimana perasaanku. Berada di sampingnya dengan jarak yang sangat dekat membuatku tak bisa menikmati alam aku hanya mampu untuk terus tertunduk. Mencoba mengerjakan apa saja untuk mengalihkan perhatianku padanya.
“Pemandangannya bagus yah!”
“Hemm, iya bagus banget. Aku suka laut, tahu kenapa? Sebab, ini mengingatkanku pada adegan romantis di serial drama korea kesukaanku. Sangat menyentuh sekali kisahnya, sama ketika aku membaca novel”
“Oh iya, apa kau mau, aku membantumu mewujudkan adegan demi adegan itu menjadi nyata”
“Apa!! Maksud kamu?”
“Iya, jadi gini loh, ..." lama ia berpikir seolah mencari kata yang tepat untuk mengungkap sesuatu yang lama tertahan.
"kamu mau enggak jadi orang yang selalu setia di sampingku? sebagai gantinya aku berjanji akan membantumu mewujudkan semua adegan –adegan romantis seperti dalam setiap buku yang kamu baca menjadi nyata, bahkan lebih dari itu pun akan kulakukan, asal itu bisa membuatmu bahagia akan kulakukan karena
bahagiamu adaalah kebahagiaanku” katanya lugas dengan wajah berbinar, membuat Elina tak bergeming masih ternganga mencari kesadarannya.
__ADS_1
“Tapi. . tapi, kukira kamu suka pada Alisa?”
“Apa? Alisa? tidaklah, tidak mungkin. Aku hanya menggapnya teman tidak lebih dari itu, lagi pula aku tidak mungkin kan mengambilnya dari Andi. Aku tahu kok kalau Andi menyukainya dan kupikir Alisa juga punya rasa yang sama untuk Andi, kan?”
“Tapi. . . tidak mungkin! Nyatanya selama ini kalian begitu dekat, selalu ada hal menarik yang selalu bisa kalian bicarakan berdua. Jangan membohongiku sejauh ini!” sangkalnya pada diri sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Sungguh aku jujur dari lubuk hatiku yang terdalam, aku tak mungkin rela menyakitimu. Kalau untuk masalah Alisa, aku dekat dia itu juga karena kamu kok. Tahu enggak, sebenarnya sejak awal aku sudah suka sama kamu. Tapi, karena aku ragu-ragu untuk mendekatimu, makanya aku mencoba mencari informasi dulu padanya. Karena setahuku dia adalah orang yang tepat untuk meminta keterangan tengtangmu".
“Oh iya, jadi begitu. Tapi, kenapa kamu bisa suka sama aku” tanya Elina menyelidik
“Maaf, untuk pertanyaan yang satu itu rasanya tak mampu untuk ku jawab”
“Tapi kenapa? Bukankah itu berarti aku tidak terlalu berharga untukmu, kamu tidak seriuskan
Masih berdiri mematung di hadapan lelaki yang tetiba mengungkapkan perasaannya itu. Kami beradu pandang
“Bukan begitu. Aku harus jawab apa, tak ada jawaban yang kutemukan untuk menyatakan alasanku mengapa menyukaimu. Sebab memang tidak ada alasan untuk tidak mencintaimu” jelasnya, yang seketika membuat wajahku merah merona, ada rasa bahagia yang menyelinap dalam hatiku saat itu.
“Jadi, bagaiman aku diterima enggak?”
“Hmm, pikir-pikir dulu yah” lama menkemudian, dengan malu aku mengangguk pelan.
__ADS_1
“Ok, aku anggap anggukan itu berarti iya!” “Terima kasih!” sambut si arya kegirangan
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk semuanya”.
Kami melewati sore ini dengan bahagia. Terlihat matahari akan segera beranjak dari tempatnya dan
mulai terbenam, cahayanya yang jingga seperti api kasmaran yang tengah membara dihati kami, dia seolah
mengerti dengan situasi hati kami yang seakan tak ingin berpisah. Sementara, disisi lain kulihat Alisa dan Andi pun tengah bermesraan. Aku yakin Andi pasti bisa menaklukkan anak itu. Kami pun pulang berbarengan dengan perasaan berbunga-bunga. Acara hari ini berlangsung sukses dan menyenangkan, dan mungkin akan menjadi awal dari perjalanan-perjalanan yang lebih menakjubkan lagi. Rasanya sangat sukar buatku untuk mengakhiri hari ini saking bahagianya.
Aku tak pernah berpikir sebelumnya bahwa perasaanku pada Arya ternyata terbalaskan, pikiranku
yang dulu bahwa dia menyukai Alisa kini jelas sudah bahkan sangat jelas setelah dia menjelaskan panjang lebar akan caranya mengenalku, dan mencintaiku tanpa alasan sangat membuatku tergugah. Tapi, hal lain membuatku bimbang apakah aku akan merasakan kebahagiaan ini untuk seterusnya, rasa takut pun hinggap dalam benakku. Takut semua ini hanya mimpi dan akan berakhir setelah aku terbangun. Namun, apapun itu hari ini penuh dengan kebingungan, tiba-tiba saja aku bersama Arya, dan Alisa bersama Andi. Tapi, memang inilah yang terjadi dan jalani
sajalah dulu apa yang ada karena sejujurnya aku menginginkannya.
****************************
Hari demi hari berlalu aku dan Alisa semakin kompak saja, bahkan dalam segala hal. Yup! Termasuk soal cinta juga dong. Kami semakin mesra dengan pasangan masing-masing dan satu hal yang ku tahu dengan pasti dan telah terbukti sekarang bahwa rasa takut yang selalu terbayang kini sirna sudah. Arya lelaki yang mampu meyakinkanku bahwa ketakutan itu tidak perlu diantara kami. Sebab, kami akan bersama selamanya hingga maut memisahkan, perasaanku padanya pun setinggi gunung Himalaya dan luas samudra hindia, (hehe). Tapi, kurasa tidak juga (lebih dari itu!) karena dia adalah dunia bagiku. Memberikan banyak hal dalam keseharianku.
__ADS_1
Semoga kalian suka yah. Mohon Sarannya