I Love but You Go

I Love but You Go
Episode 28 Duniaku Runtuh


__ADS_3

Sakit yang mendera kepalaku semakin hari semakin sering kambu dan rasanya semakin sakit. Maka, aku mulai teringat akan kecelakaan yang menimpaku beberapa minggu yang lalu. Yah, sepulang dari acara Andi dan Evi, malam itu entah mengapa kepalaku begitu berat dan aku merasa kurang enak badan sehingga motor yang ku kendarai berbelok arah dan hampir menabrak pohon, aku terjatuh saat menghindarinya. Aku terpental meski tak terlalu jauh dari motor, alhasil dari kecelakaan itu ku peroleh beberapa luka di bagian lutut, dan tangan. Sejak saat itu pula aku sering merasa sakit pada kepalaku.


Kalian tidak akan menyangka saat itu aku merasa lebih baik, meski sakit kepalaku mendera setiap saat. Tetapi, aku merasa bahagia! Sebab, di dalam ruang yag sempit ini  setiap saat aku bisa bermain bersama Alisa, kami bercerita, tertawa bersama bahkan bersendau gurau hingga larut malam. Arya pun selalu berada di sisiku, dia selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Aku tidak suka keluar dari tempat ini, sebab ada banyak monster-monster kecil di luar sana yang suka mengejekku. Mereka selalu berteriak-teriak di jendelaku ketika melintas.


“Kakak gila-kakak gila! Kaka gila-kakak gila!” selalu mengulang-ulangi hingga mereka jauh masih bisa ku dengar suara-suara bising mereka. Siapa yang gila aku atau mereka?


“Apa tidak sebaiknya kita mengungsikannya ke tempat ibu di kampung? Apa ibu tidak malu dengan cibiran tetangga karena memiliki anak yang tidak waras seperti dia?” cerita ayah suatu hari dengan ibu, saat makan malam. Aku berpikir, siapa yang mereka maksud gila, apakah diriku?

__ADS_1


Aku merasa waras! Sangat waras malah, meski harus ku akui terkadang sedikit kacau kala rasa sakit pada kepalaku kambu. Maka, aku akan berteriak histeris meminta bantuan Alisa atau Arya. Tetapi, mereka hanya duduk terdiam. Aku meronta tidak terima kenapa mereka melakukan hal itu kepadaku.


“Ibu pun malu Ayah! Anak itu semakin hari semakin menjadi-jadi. Berbicara pada boneka, bahkan yang terakhir ini dia sampai berbicara sendiri hingga larut malam, tertawa seperti orang kesurupan, ibu benar-benar takut!”


Sejak saat itu mereka membawaku kemari, di tempat yang sunyi jauh dari keramaian dan yang pasti jauh dari luka lama yang mengingatkanku pada masa lalu. Ketika terbayang masa lalu itu, aku tak kuasa untuk menahan tangisku. Aku menangis sejadi-jadinya.


“Elina hobby banget sih baca buku!” hal itu yang selalu dikatakan Alisa padaku.

__ADS_1


“Biarin, yang penting aku suka dan menambah wawasan! Dari pada kamu?”


Lalu, terlintas lagi kata-kata terkahir Arya padaku hari itu.


“Elina, besok aku kembali dari Jerman. Tunggu yah!”


“Iya, besok aku jemput yah di bandara.!” Kemudian seketika air mataku akan menetes lagi karena Arya tidak kunjung tiba, sementara ketika aku ingin mengungkapkan ke riasuan hatiku pada Alisa, dia pun pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Note: Pernahkah kalian merasakan seperti ingin gila saat begitu banyak ujian mendera. Tak ada tempat untuk berbagi cerita kecuali diri sendiri. Kadang kita tidak ingin menunjukkan kekurangan pada orang lain. Tapi, seperti lelah dan jenuh yang benar-benar mengekang langkah meminta


__ADS_2