I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Ada Yang Salah


__ADS_3

Sebuket bunga mawar tergeletak begitu indahnya di atas meja bertaplak putih nan bersih dengan bermandikan cahaya lilin disertai sinar rembulan yang menyinari ruangan luas dan megah. Ditambah lagi suara alunan pengiring musik yang mengalun dalam kesunyian. Sungguh romantis. Suasana yang sering didambakan para gadis ketika pergi berkencan bersama pasangannya.


Hanya saja ada yang salah. Ya, ini salah. Semua yang ada di sini begitu sempurna. Semua berada pada tempatnya. Yang menjadi masalah dan tidak berada pada tempatnya adalah diriku. Itulah yang saat ini Amy pikirkan ketika dia duduk berhadapan dengan atasannya yang kini sedang duduk begitu elegannya sembari menatap tajam padanya dengan sorot mata menunggu respons darinya. Butuh waktu bagi Amy untuk mengingat kembali apa yang telah menyebabkan atasannya bersikap seperti itu.


Seolah tahu isi pikirannya. Atasannya kembali mengucapkan kalimat yang telah membuatnya jengah sehingga tidak mampu merespons dalam waktu lumayan lama.


"Berkencanlah denganku, Amy." Kali ini atasannya bukan hanya berucap saja, melainkan sembari mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Amy dengan begitu lembutnya.


Tersentak oleh sentuhan tak terduga itu, Amy hampir saja terjungkal dari kursi yang sedang didudukinya.


"Sepertinya aku telah membuatmu terkejut," ucapnya santai dengan senyum kecil di bibirnya.


Kau baru tahu itu? Sudah sejak tadi kau membuatku hampir pingsan! Jerit Amy dalam benaknya. Oh, andai saja ia bisa meneriakkan kalimat itu di depan wajah atasannya yang menyebalkan ini.


"Ini bukan hanya sekadar kaget, kau tahu itu," balas Amy jengkel. "Bukannya aku bermaksud kasar, Mark, tapi aku benar-benar tak menduga kau akan mengucapkan kalimat… kalimat…." Amy hendak berucap "tak masuk akal" tapi ia mengurungkannya karena takut akan menyinggung perasaan pria yang telah menjadi atasannya selama 3 tahun itu. "Kalimat romantis seperti itu". Setidaknya ungkapannya itu tidaklah terlalu menyinggung. "Kupikir…."


Belum sempat Amy menyelesaikan perkataannya, atasannya sudah terlebih dahulu memotongnya. "Kau pikir apa? Kau pikir selama ini aku tidak menyukaimu?" Mencodongkan tubuhnya lebih dekat, atasannya itu kini menatap matanya dengan kedua bola matanya yang berwarna abu-abu begitu lekat. "Aku pikir aku sudah menunjukkannya begitu jelas selama ini."


Kali ini Amy berusaha memahami apa maksud ucapan dari atasannya itu.


Menunjukkan padaku? Memangnya selain berbincang mengenai pekerjaan, kita pernah membahas atau melakukan sesuatu yang begitu intim?


Oh, ini sungguh membuat frustasi. Andai saja Amy bisa berbicara sesuka hatinya mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya begitu saja tanpa merasa cemas akan menyinggung atasannya, mungkin masalah membingungkan ini akan selesai begitu cepat. Namun, ia tidak bisa melakukan itu. Walau bagaimanapun juga yang ada di hadapannya ini adalah atasannya, sebaik dan sedekat apa pun mereka, ia tidak boleh kehilangan pengendalian dirinya.


Ah, itu dia! Kebaikan atasannya. Mungkin itu yang dimaksud atasannya perihal "menunjukkannya selama ini".


Semakin ia pikirkan itu bisa jadi jawabannya. Jika bukan karena atasannya ini, ia tidak akan pernah memiliki kesempatan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan besar tempatnya bekerja saat ini. Bukan karena ia payah ataupun tidak kompeten, melainkan ia tidak memenuhi syarat untuk bekerja sebagai seorang sekretaris. Ia hanyalah lulusan dari universitas biasa, belum lagi ada begitu banyak kandidat yang lebih pantas menduduki posisi itu daripada dirinya.


Makanya alangkah terkejutmya Amy saat mengetahui dirinya ditunjuk langsung oleh atasannya ini untuk menduduki posisi itu. Hingga banyak rumor yang mengatakan bahwa ia sudah tidur dengan atasannya ini demi bisa mendapatkan posisi emas itu, bagi dirinya yang saat itu hanyalah karyawan magang.


Itu benar-benar tidak masuk akal. Karena pertama kalinya ia bertemu atasannya ini ketika ia sudah ditunjuk sebagai sekretarisnya, tidak sebelum itu. Jadi, bagaimana mungkin ia dan atasannya yang tak terduga ini bisa menjalin hubungan. Atau mungkin sebelum ia bertemu dengan atasannya itu di ruang kerjanya, mereka pernah bertemu sebelumnya. Jika benar begitu, ia tidak mengingatnya sama sekali.


Itu baru kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua, mungkin setelah ia bekerja selama setengah tahun bersama atasannya itu. Saat itu ia sedang dalam kesulitan keuangan sehingga dengan tekad bulat ia memberanikan diri meminjam uang dalam jumlah besar pada perusahaan, yang dalam sekejap mata segera disetujui. Hal itu benar-benar mengejutkannya.


Bukan hanya itu saja, sebenarnya ada begitu banyak bantuan yang telah diberikan Markus padanya. Saat itu Amy hanya berpikir jika ia sangat beruntung memiliki atasan sebaik dan sepengertian Markus William Xander. Tidak pernah tebersit dalam benaknya kalau atasannya itu tertarik terhadapnya.


Karena selain tindakan-tindakan baiknya itu, Markus tidak pernah bersikap begitu intim kepadanya. Dia selalu pendiam dan berekpresi kaku setiap kali bersamanya. Atasannya itu benar-benar makhluk yang begitu misterius. Itulah aura yang terpancar dari sikap tubuhnya. Begitu banyak desas-desus di kantor mengenai kehidupan pribadi atasannya itu.


Tentu saja Amy tidak begitu saja mempercayai dan mempedulikan rumor tak jelas itu. Pekerjaanya lebih penting daripada mempertanyakan kehidupan pribadi atasannya. Tapi kini ia mulai penasaran.


Tiga tahun lamanya bekerja bersama Markus tidak lantas membuat Amy bisa membaca apa yang ada dalam pikiran atasannya itu. Seperti yang sedang terjadi dalam ruangan remang-remang ini.

__ADS_1


"Harus berapa lama lagi aku menunggu jawaban darimu, Amy Anderson."


Teguran dengan nada tak sabar itu sontak saja menyadarkan Amy dari nostalgianya.


Berdeham, Amy mencoba kembali mendapatkan kembali suaranya. Harus berapa kali lagi aku mengalami kehilangan kata-kata ini.


"Maafkan aku yang lamban ini. Tidak setiap hari aku mendapatkan pengakuan seromantis ini," sahut Amy datar.


"Tidak perlu sarkastis begitu."


Oh, sial. Jaga mulutmu Amy Anderson.


"Maafkan aku," ujar Amy menyesal. "Aku tidak tahu apa yang merasukiku sehingga berkata begitu, tapi kau benar-benar mengagetkanku." Menghela napas dalam-dalam, Amy terkejut saat melihat sorot mata Mark bersinar jenaka menatapnya. "Tidak ada yang lucu dari situasi ini, Mark."


"Memang tidak." Bersandar santai di kursinya, Mark memutar-mutar gelas yang berisikan wine dengan sikap acuh tak acuh.


"Kau ini… ah, sudahlah," tepis Amy menghentikan dirinya melanjutkan ucapannya. "Sebelum itu, ada yang aku ingin tanyakan padamu. Kenapa sekarang? Kau tidak bisa menyalahkanku karena tidak menyadari perasaanmu selama ini. Sikap baikmu tidak bisa menjadi landasan bagiku untuk tahu perasaanmu. Kalau kau memang menyukaiku selama itu, seharusnya kau bersikap lebih transparan lagi, alih-alih samar-samar begitu." Beranjak berdiri dari tempat duduknya, Amy mencondongkan tubuhnya mendekat pada Markus. "Kau mengerti 'kan maksudku? Jadi, kenapa baru sekarang kau mengungkapkannya sejelas ini?"


Meletakkan gelasnya perlahan, Mark mendekatkan wajahnya sejauh helaan napas darinya. "Karena sudah waktunya."


Usai memberikan jawaban ambigu itu, Mark kembali bersantai di kursinya.


Mengedipkan matanya, Amy bingung selama beberapa detik oleh jawaban singkat itu. Setelah panjang lebar mengungkapkan isi pikirannya, hanya ini saja yang didapatkannya sebagai jawaban. Atasannya ini benar-benar menguji kesabarannya.


Oh, yang benar saja! Apa atasannya yang menyebalkan ini berharap jawaban singkat dan ambigu itu akan membuatnya memahami semua situasi aneh ini.


Amy sudah tidak tahan lagi. Persetan yang namanya atasan! Biar ia tunjukkan pada atasannya itu semua yang ada dalam pikirannya saat ini. Tidak perlu lagi memilah-milah apa yang harus dan tidak diucapkannya kepada atasannya yang baik hati dan pengertian ini.


Belum sempat mengutarakan isi pikirannya, nada dering ponsel Amy berbunyi. Bimbang harus mengangkatnya atau tidak, Markus memberikan gestur agar ia menjawab panggilan telepon itu.


"Halo?" jawabnya ketus.


Awalnya Amy yang tadi marah-marah sekarang mimik wajahnya berubah serius, kemudian berganti menjadi khawatir lalu berubah kosong. Selesai panggilan telepon itu berakhir, Amy terduduk lemas di kursinya.


"Ada apa?" tanya Mark waspada.


Setitik air mata bergulir di pipi Amy. "Adikku kecelakaan."


##


Sesudahnya Amy tidak terlalu memperhatikan bagaimana caranya ia bisa tiba di rumah sakit tepat pada waktunya seorang dokter keluar dari ruang operasi dan kini sedang berbicara sangat serius kepada ibunya. Berjalan mendekat, Amy kebingungan melihat ibunya jatuh lemas dalam pelukan Samuel, sahabatnya sejak kecil, yang juga merupakan kekasihnya, tapi tentu saja tidak ada yang mengetahuinya, selain Amy dan Samuel, mengenai hubungan rahasia mereka.

__ADS_1


Menyadari keberadaan Amy yang sekarang berdiri di sebelahnya, ibunya seketika menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Sam, ada apa ini?" Amy semakin panik melihat reaksi ibunya yang menangis begitu pilu. Dadanya begitu sesak, ia mulai takut apa yang menjadi dugaanya benar terjadi adanya. "Apa… apa.…" Menarik napas dalam-dalam, ia berupaya keras mengajukan pertanyaan mengerikan yang ada dalam benaknya kini. "Apa Sophie…."


Seolah tahu apa yang akan dipertanyakannya, Samuel menepuk bahunya pelan. "Sophie baik-baik saja. Operasinya berjalan lancar."


"Kalau begitu, kenapa?" tanyanya heran seraya mengutarakan maksudnya dengan melirik ibunya yang masih belum juga berhenti menangis.


Saat itulah kedua mata Samuel mulai berkaca-kaca dan dia langsung membuang muka, seakan tak sanggup menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Oh, berhenti membuatku bingung!" teriaknya frustasi. Ia sudah tidak tahan lagi dengan situasi membingungkan ini.


Jika adiknya, Sophie, sungguh baik-baik saja, lalu kenapa dua orang yang dicintainya ini terlihat sangat sedih? Apakah Samuel berbohong mengenai keadaan adiknya demi bisa menenangkannya ataukah ada sesuatu hal lain yang mengakibatkan mereka berdua bersikap begini.


Mendorong tubuh ibunya pelan, Amy menunduk menatap ibunya. "Ibu, kumohon, katakan padaku, sebenarnya apa yang telah membuat Ibu dan Sam begitu sedih?"


"Oh, Amy" isak ibunya, menggenggam kedua tangannya begitu erat. "Apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita lakukan?"


"Lakukan apa? Katakanlah dengan jelas apa maksud Ibu?"


"Sophie… Sophie… dia ca... cat," lanjut ibunya terbata-bata.


Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu Ibunya hampir saja tersungkur ke lantai, yang untungnya segera ditangkap oleh atasannya—yang ternyata selama ini berada di situ juga—, dengan sigap dibantunya ibunya untuk duduk di sebuah kursi yang berada di dekat situ.


Sejenak Amy terdiam membeku di tempatnya berdiri, berusaha mengingat kenapa atasannya bisa berada di rumah sakit itu juga. Tak berapa lama ingatannya yang samar-samar mulai mengingat kembali apa yang terjadi beberapa puluh menit ynag lalu.


Akibat terlalu linglung dengan semua hal yang baru saja terjadi serta hal mengejutkan yang barusan telah didengarnya, Amy benar-benar tak sadar bahwa yang telah mengantarkannya ke rumah sakit ialah Markus, atasannya. Kepalanya saat ini benar-benar pening sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.


Tanpa sadar tatapannya bertemu pandang dengan Markus, di sana, di dalam kedalaman mata keabu-abuan itu terpancar sorot mata yang seolah mengatakan kepadanya semua akan baik-baik saja dan tidak perlu ada yang ditakutkannya.


Anehnya tatapan itu sedikit mengurangi rasa kekhawatirannya. Di dalam hatinya tumbuh secercah harapan bahwa masalah ini tidaklah semengerikan seperti yang dipikirkannya.


Sungguh aneh. Amat teramat sangat aneh. Ada apa dengannya? Kenapa ia merasa seperti ini hanya karena sebuah tatapan sekilas dari Markus? Apa pengakuan cinta dari atasannya di restoran tadi telah mempengaruhinya begitu kuat. Mungkinkah hatinya mulai goyah oleh pengakuan mengejutkan itu.


Sentuhan lembut di bahunya menyentakkannya dari lamunannya. Di sampingnya berdiri Samuel yang menatapnya penuh simpati. Saat itulah Amy sadar jika ia baru saja melupakan keberadaan kekasihnya tersebut di sana.


"Semua akan baik-baik saja, Amy. Kita pasti bisa melewati ini," ucap Samuel menenangkannya.


Tidak, semuanya tidak baik-baik saja, Sam.


"Ya, semua akan baik-baik saja," balas Amy tersenyum lemah.

__ADS_1


Oh Tuhan, apa yang sudah terjadi kepadaku? Semuanya terasa salah. Ya, sangat salah.


__ADS_2