I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Perdebatan


__ADS_3

Dengan kasar Amy menghempaskan tubuh Markus ke atas kasur. Suara napas memburunya menggema di dalam ruangan itu, matanya melotot marah memandang suaminya yang masih belum sadar juga dari mabuknya.


Sepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah suaminya sesekali merintih atau menggumam tak jelas dalam tidurnya.


Segala upaya sebenarnya sudah dilakukan Amy untuk menyadarkan suaminya, dari menampar wajahnya hingga menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan yang terakhir sengaja menghempaskannya ke tempat tidur. Namun suaminya tetap saja bergeming, seolah sengaja menambah kekesalan Amy padanya.


Kesabarannya sudah mencapai batasnya, kali ini ia tidak akan membiarkan Markus lepas setelah ia tahu apa yang sudah diperbuat suaminya di luar sana.


Tidak ingin melepaskan Markus dari pengawasannya, Amy sengaja duduk di kursi menghadap ke tempat tidur sembari menunggu suaminya bangun dari tidurnya.


Sebelum matahari menampakkan dirinya di cakrawala, Markus terbangun dari tidurnya dalam keadaan sakit kepala yang begitu hebat, seperti ada yang memukul-mukul kepalanya tiada henti, belum lagi rasa mual yang  dirasakannya hampir membuatnya roboh saat berlari ke dalam kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya.


Sedikit merasa lebih baikkan setelah muntah, Markus membasuh wajahnya untuk menyegarkan diri, saat itulah matanya bersitatap dengan mata Amy yang sedang berdiri menatapnya sinis dalam pantulan cermin di kamar mandi itu.


“Akhirnya kau sadar juga dari mabukmu, suamiku.”


“Apa kau yang membawaku pulang ke rumah?”


“Kenapa? Apa kau berharap saat ini kau berada di tempat lain selain di rumahmu sendiri?” tanya Amy balik. “Misalnya di ranjang kekasihmu mungkin.”


Membalikkan badannya, Markus berjalan mendekati Amy lalu berdiri di sampingnya sambil bergumam, “Setidaknya itu lebih baik daripada di sini bersamamu.”


Amy berpaling memandangnya dengan raut wajah sangat terpukul, kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi murka.


“Awalnya aku berharap kalau ini cuma dugaanku saja, tapi karena kau sudah mengakuinya tidak ada lagi yang perlu kita perbincangkan. Sekarang juga aku akan pergi dari rumah ini. Semoga kau bahagia dengan kekasih sialanmu!”


Kemudian Amy berderap pergi mengambil pakaiannya yang ada di dalam lemari pakaian dan melemparkannya ke dalam koper miliknya.


Tangan Markus tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dan menyentaknya agar berhenti melemparkan pakaiannya ke dalam koper secara membabi buta.


“Hentikan apa yang kau lakukan itu sekarang juga!” perintah Markus kasar. “Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?”


Dengan mata berkaca-kaca, Amy berupaya keras melepaskan tangannya dari genggaman Markus, dan karena tak berhasil dia memukul-mukul dada Markus menggunakan tangannya yang bebas.


“Kalau kau berharap aku akan tetap bertahan di rumah ini setelah kau mengkhianatiku seperti ini, kau gila!” Dicengkeramnya kerah baju Markus. “Balas dendammu sudah keterlaluan, Mark.”


Direnggutnya tangan Amy yang masih mencengkeram kerah bajunya.


“Aku tidak pernah sekali pun mengkhianatimu, jadi buang pikiran bodoh itu dari dalam kepalamu.” Markus menyentak tangan Amy agar wajah mereka semakin dekat. “Jika berbicara soal pengkhianatan justru kaulah ahlinya, Amy sayang. Bukankah kau masih bisa menikahi pria lain di saat kau masih mencintai orang lain?”

__ADS_1


Sindiran menusuk itu membuat kobaran amarah di mata Amy mulai meredup.


“Aku… aku….” Mulut Amy hendak mengucapkan bahwa dia sudah tidak mencintai Samuel lagi, tapi entah mengapa dia tak mampu mengeluarkan kata itu dari mulutnya, mungkin dia masih belum terlalu yakin dengan perasaannya saat ini. “Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang.”


Jawaban lirih itu membuat Markus langsung melepaskan pegangannya di tangan Amy. Tawa pahit keluar dari mulutnya.


“Sungguh Amy-ku yang malang.”


“Tapi meskipun aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang, Mark, aku bisa yakinkan kepadamu kalau aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Samuel.” Amy mengakui. “Apa pun yang kau dengar hari itu, kau harus tahu kalau aku sudah memutuskan untuk mulai belajar mencintaimu.”


Hening sesaat.


“Aku tidak butuh cintamu. Yang kubutuhkan sekarang adalah kesetiaanmu.”


“Kalau itu yang kau inginkan, maka kau tidak perlu khawatir, aku akan selalu setia kepadamu, Mark,” janji Amy. “Apa ini berarti kau sudah memaafkanku?”


“Aku tidak pernah berkata begitu,” jawab Markus cepat. “Kebohongan besarmu tidak semudah itu untuk aku lupakan, Amy.”


Sepintas tampak kekecewaan di wajah Amy, yang langsung hilang digantikan ekspresi penuh tekad.


“Kalau kau masih belum memaafkanku setidaknya kau harus berhenti menjauh dariku seperti sekarang.” Amy menatapnya jengkel. “Aku tidak akan membiarkanmu tidur di luar rumah lagi. Sama halnya seperti dirimu, aku juga menginginkan kesetiaan darimu.”


Usai mengucapkan itu, Markus berjalan menuju pintu, sudah tidak sabar menjauh dari istrinya.


“Mau ke mana kau?” tanya Amy berteriak di belakangnya.


Berhenti tepat di depan pintu, ia menolehkan kepalanya ke belakang. “Ke mana pun yang tidak ada kau di dalamnya.”


Setelah itu Markus membuka pintu kamar dan segera turun ke lantai bawah menuju ruang kerjanya yang terletak tak jauh dari tangga. Di belakangnya ia mendengar Amy berlari keluar dari kamarnya, istrinya ternyata ingin memastikan kalau ia tak akan pergi meninggalkan rumah lagi.


Ketika sudah berada di dalam ruang kerjanya, ia menghampiri lemari tempatnya meletakkan berbagai jenis minuman keras di sana.


Saat ini ia benar-benar membutuhkan minuman keras untuk kembali menghilangkan kesadarannya. Kedekatannya dengan Amy tadi hampir membuatnya gila.


Padahal ia mengira setelah tiga hari tidak melihat istri pembohongnya itu ia tidak akan merasakan apa pun lagi padanya, namun nyatanya gairah masih bergejolak dalam dirinya ketika ia bersentuhan dengan istri pembohongnya di dalam kamar tadi.


Bagaimana mungkin ia masih menginginkan Amy setelah apa yang diperbuat Amy terhadapnya. Selama tiga hari menenggelamkan dirinya dalam kubangan minuman keras, ia berharap Amy lambat laun akan terhapus dari dalam kepala maupun hatinya.


Sempat terpikir olehnya juga untuk menanggapi rayuan dari para wanita yang menggodanya di kelab malam—berharap itu akan menyakiti Amy seperti yang ia rasakan sekarang, akan tetapi setiap kali godaan itu datang padanya yang terjadi ia selalu saja melihat bayangan istri pembohongnya di wajah para wanita yang mendekatinya itu.

__ADS_1


Sialan. Sungguh sialan. Apa pun yang dilakukannya wajah Amy akan selalu menghantuinya di mana pun ia berada.


Lalu sekarang ia sudah berada dalam cengkeraman istri pembohongnya lagi dan hampir merengkuhnya ke dalam pelukan saat kedua mata penuh kesedihan itu menatapnya.


Tidak seperti yang diperlihatkannya, sebenarnya air mata Amy selalu berhasil mempengaruhinya. Apalagi ketika mendengar kata cinta dari mulut Amy tadi ia hampir saja luluh dan memaafkannya, tapi untunglah ia segera menepis pikiran itu saat teringat segala dusta yang telah Amy katakan padanya selama ini.


Ia tidak akan lagi termakan dusta yang terlontar dari bibir istri pembohongnya itu. Pengalaman mengajarkannya untuk tidak lagi gampang percaya kepada wanita untuk kesekian kalinya.


Seharusnya ia tahu jika Amy sama saja seperti wanita lainnya. Ia telah salah besar menilai karakter istrinya itu selama ini. Betapa ia menyesali kebodohannya. Sepertinya ia memang dikutuk dikelilingi wanita tak berperasaan.


##


Hari sudah agak siang saat Amy menutup pintu kamar tempat Markus sedang tertidur pulas di atas kasurnya. Rupanya suaminya itu kembali mabuk-mabukan lagi setelah pembicaraan mereka di kamar pagi tadi.


Akibat kekhawatirannya pulalah Amy tidak bisa tidur lama di tempat tidurnya, yang membuatnya segera turun ke lantai bawah dan memeriksa apakah suaminya masih berada di sana.


Saat itulah dia menemukan suaminya sudah dalam keadaan tak sadarkan diri di atas sofa dalam ruang kerjanya, yang berakhir ia meminta bantuan pelayan pria di rumah itu untuk membawa Markus ke dalam kamarnya.


Dan sekarang setelah selesai mengurus suami pemabuknya, ia bersiap turun ke lantai bawah bersiap menyantap sarapan paginya yang telah terlewat.


Dalam perjalanannya ke ruang makan, Meggie berhenti tepat di hadapannya dengan raut wajah gelisah.


“Maaf, Nona, tapi ada sesuatu yang membutuhkan perhatian Anda sekarang.”


Barulah saat itu ia mendengar suara keributan yang ada di ruang depan. Tak berapa lama kemudian muncul sesosok wanita berekspresi kesal sedang mengomel seraya mengibaskan rambutnya.


Menyadari sarapannya akan tertunda lebih lama lagi, Amy mengibaskan tangan menyuruh Meggie dan pelayan lainnya yang sedang berlari menyusul wanita pengomel itu meninggalkannya berdua bersama tamu tak menyenangkan yang sekarang berjalan mendekatinya.


“Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada para pelayan di rumah ini?” tanyanya tak senang. “Setahuku mereka tak sekasar ini dulu.”


“Mereka hanya melakukan pekerjaannya. Kau sendiri apa yang kau lakukan dengan menerobos masuk rumah atasanmu seberisik ini?” Amy bersedekap memandang sekretaris suaminya dengan raut wajah tak bersahabat. “Apa selama ini kau memang selalu bersikap tidak menyenangkan seperti ini setiap kali mendatangi rumah atasanmu?”


“Aku tidak akan bersikap seperti ini kalau saja para pelayan rumah ini tidak mengusirku seperti gelandangan,” jawab sekretaris suaminya ketus, matanya menyipit curiga memandang Amy. “Kau pasti sudah mengatakan hal buruk mengenaiku pada semua pelayan di rumah ini, makanya mereka jadi bersikap sekasar itu kepadaku.”


“Mungkin mereka punya alasan kuat untuk melakukan itu,” balas Amy sinis, semakin kesal atas kekurangajaran sekretaris suaminya ini. “Lagi pula aku cuma berpesan agar tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu suamiku hari ini. Dia tidak sedang dalam keadaan untuk menyambut seorang tamu, terutama tamu kurang ajar sepertimu.”


“Sayangnya tamu kurang ajar ini membutuhkan persetujuan dari suamimu untuk hal yang sangat penting, jadi suka atau tidak kau harus membiarkanku bertemu dengan suamimu,” balasnya pantang menyerah. “Dan berhentilah bersikap seperti istri pengekang.”


Tidak tahan lagi menghadapi hinaan mulut wanita berbisa di hadapannya ini, Amy bersiap melontarkan balasan yang sama pedasnya, akan tetapi suara seorang wanita tak dikenalnya menyela pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


“Semakin hari makin lancang saja kau, Madelyne Langton," decak tamu baru itu. “Padahal ‘kan ada Daniel yang bisa kau minta persetujuan kalau Markus sedang tidak ada di kantor. Memangnya ke mana perginya si wakil playboy itu?”


__ADS_2