I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Kecurigaan


__ADS_3

Sekembalinya Amy dari makan malam bersama Markus, ia berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Sophie dirawat, berharap akan menemukan Samuel di sana.


Selama makan malam tadi, Amy tidak bisa memusatkan perhatiannya terhadap percakapan yang dilakukannya bersama atasannya itu. Bahkan makanannya pun hampir tidak tersentuh. Pikirannya seolah berada di tempat lain.


Untungnya Markus mengira itu disebabkan karena Amy terlalu khawatir meninggalkan Sophie di rumah sakit, meskipun ada Samuel di sana menemani adiknya.


Sejujurnya Amy menduga jika Markus akan kembali menanyakan perihal hubungannya yang sebenarnya saat mereka makan malam bersama, yang tentunya ia salah besar.


Markus bersikap seolah-olah dia sudah melupakan kecurigaannya atas sikap canggungnya saat mengelak mengenai hubungan romantisnya dengan Smauel beberapa waktu lalu, yang menurut Amy sangatlah aneh.


Markus bukanlah orang yang mudah menyerah demi bisa mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Dia akan terus-menerus menyudutkan lawan bicaranya sampai dia merasa puas dengan jawabannya.


Mungkinkah Markus sengaja melakukan itu untuk membuatnya gelisah lebih lama lagi? Atau Markus sudah tidak terlalu tertarik lagi padanya, makanya dia tidak berniat mengungkit hal itu lagi.


Apa pun jawabannya, sepanjang malam itu Amy sangatlah gugup, takut sewaktu-waktu Markus akan menagih jawabannya soal pernyataan cintanya kemarin di restoran mewah itu. Karena sejujurnya Amy belum siap memberikan jawabannya.


Masih banyak yang harus diselesaikannya terlebih dahulu sebelum bisa menjawab pernyataan cinta Markus. Ia tidak ingin terlalu gegabah mengambil keputusan.


Menggelengkan kepalanya, Amy menepis masalah runyamnya bersama Markus dari kepalanya. Sekarang ia memusatkan kembali perhatiaannya kepada Samuel sang kekasih.


Atau haruskah Amy menyebutnya sekarang mantan kekasih, jika apa yang dikatakan Samuel di taman rumah sakit tadi akan dilakukannya.


"Kenapa kau hanya berdiri saja di sana, Amy?" tanya Ibunya, membuyarkan lamunan Amy yang sedang termenung di depan pintu kamar adiknya.


"Biarkan saja dia, Ibu. Sepertinya pikiran Amy sedang berada di tempat lain, Bu. Mungkin dia masih terbayang-bayang pertemuannya dengan atasan tampannya itu," ujar Sophie tersenyum penuh sekongkol menatap ibunya.


Mengerjap kaget, Amy sontak langsung mencoba mencari keberadaan Samuel dalam ruangan itu. Gelisah tidak menemukan Samuel di sana, dengan enggan ia melangkah mendekati ibunya yang sedang duduk di bangku dekat ranjang adiknya seperti biasa.


"Hubungan kami tidak lebih dari rekan kerja, Sophie, jadi jangan berasumsi yang aneh-aneh mengenai kami berdua," tegur Amy cemberut.


"Siapa pun bisa melihat kalau atasan tampanmu itu tertarik kepadamu," tawa Sophie tersenyum meledek. "Untuk apa lagi dia datang kemari di tengah-tengah kesibukannya menjenguk adik sekretarisnya, kalau bukan karena dia memiliki perasaan kepadamu? 'Hubungan kami tidak lebih dari rekan kerja, Sophie.' Ha! Lucu sekali. Memangnya siapa yang coba kau bodohi?"


"Sophie, berhenti mengejek kakakmu!" tegur Ibunya.


Walaupun ibunya terlihat tidak ingin membuatnya terlihat tidak nyaman karena percakapan itu, Amy tahu kalau sebenarnya ibunya juga penasaran mengenai hubungannya dengan Markus.


Meski begitu, Amy tetap tidak ingin membahas hal pribadi perihal hubungannya dengan Markus kepada ibu dan adiknya. Nanti jika ia sudah memutuskan bagaimana kejelasan status hubungannya dengan Markus, tanpa mereka pinta pun ia akan memceritakannya dengan senang hati.


"Dilihat dari sikapmu yang berbeda jauh dari saat terakhir kali aku meninggalkanmu, sepertinya ada sesuatu yang sudah membuatmu kembali pada sikap lamamu yang menjengkelkan," balas Amy tajam.


Usahanya untuk mengalihkan pembicaraan ke topik lain ternyata berhasil, Sophie seketika melupakan rasa penasarannya terhadap Markus.


"Oh, Amy, kau tidak akan mempercayai hal ini," ucap Sophie berseri-seri.


"Bahkan Ibu juga masih belum bisa mempercayainya," gumam Ibunya lirih.


Meski tahu apa yang akan didengarnya dari mulut Sophie selanjutnya, Amy pura-pura tetap memasang wajah kesal.


"Samuel memcintaiku, Amy! Dia mencintaiku," ucap adiknya tersenyum lebar. "Kuharap ini bukan mimpi. Karena jika ini memang mimpi, aku tidak mau terbangun dari tidurku."


"Ini bukan mimpi, Sayangku," ujar Ibunya menepuk-nepuk tangan adiknya penuh kasih sayang. "Meski Ibu tidak tahu kalau ada sesuatu yang lebih di dalam persahabatan kalian selama ini, Ibu tetap turut bahagia untukmu."


Usai sudah hubungannya dengan Samuel. Kini orang yang dicintainya telah menjadi milik adiknya. Sekuat tenaga Amy menahan dirinya agar tidak berlari keluar dari ruangan itu untuk menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Mengulas senyuman di wajahnya, yang diharapnya tidak terlihat terlalu dipaksakan, Amy mendekat memeluk adiknya.


"Aku juga turut bahagia untukmu, Sophie. Aku harap kalian bahagia. Katakan saja padaku kalau dia berani-beraninya membuatmu menangis, karena aku akan memberikan pelajaran padanya."


"Maafkan aku, Amy, karena sudah mengingkari janji kita, tapi aku sudah tidak bisa lagi membendung perasaanku terhadap Samuel," sahut Sophie balas memeluknya. "Aku sangat mencintainya."


"Lupakan janji kekanakan kita di masa lalu. Tidak ada yang bisa melawan cinta, adikku sayang."


Dalam kesunyian, tanpa sepengetahuan adik dan ibunya, Amy cepat-cepat menyeka air mata yang menitik keluar dari matanya.


Sekarang semua sudah beres. Amy tidak perlu lagi mengkhawatirkan kondisi adiknya. Berkat Samuel kini Sophie bersemangat untuk memulihkan dirinya.


Selama adiknya bahagia, maka ia juga akan bahagia. Walau kebahagiaan itu telah membuat orang yang dicintainya terluka.


***


Sudah hampir seminggu lamanya Samuel menghindarinya. Setiap Amy ingin mendekatinya untuk mengajaknya berbicara Samuel akan selalu menemukan alasan menjauh pergi darinya.


Dalam sebagian alasan itu Samuel selalu menggunakan Sophie sebagai tamengnya untuk menghindari Amy—seakan dia tahu Amy tidak akan berani mendekatinya jika ada Sophie bersamanya—yang tentunya itu ampuh menjauhkannya.


Amy tidak ingin Sophie menyadari ketegangan di antara dirinya dan Samuel. Memancing kecurigaan adiknya bukanlah sesuatu yang ingin dilakukannya sekarang.


Tapi hari ini takdir telah memihak kepadanya. Amy akhirnya berhasil menyudutkan Samuel dalam perjalanannya pulang dari tempatnya bekerja. Kali ini ia tidak akan melepaskan Samuel dari genggamannya sebelum masalah di antara mereka tuntas.


Terkejut dengan kemunculanya yang tak disangka-sangka, Samuel mengacak-ngacak rambutnya jengkel. Seolah menyadari dia tidak bisa menghindari Amy lebih lama lagi, Samuel memandangnya dengan raut wajah menantang.


"Ayo, sekarang sampaikan apa yang ingin kau katakan kepadaku. Kuberi kau waktu lima menit."


"Sudah cukup sikap kekanakanmu merajuk kepadaku, Sam," cibir Amy cemberut. "Kita harus menyelesaikan masalah di antara kita berdua secepat mungkin."


"Memangnya apa lagi yang bisa menjelaskan sikapmu yang terus-menerus menghindariku selama beberapa hari ini kalau bukan merajuk?" balas Amy mengangkat dagunya sama marahnya.


Saling melontarkan tatapan menusuk terhadap satu sama lain, Samuel akhirnya mundur selangkah menjauhinya. Berharap jarak di antara mereka bisa meredakan kemarahannya.


"Baiklah, jika kau mengatakannya begitu, lalu apa maumu?" Samuel mengetuk-ngetukan jam tangannya, sengaja mengingatkan Amy soal waktu yng telah diberikannya. "Setelah ini aku akan pergi menjenguk Sophie, seperti yang kau tahu dia sangat membutuhkanku."


Kata terakhir itu sengaja ditekankan dengan nada mengejek untuk mengingatkan Amy kembali apa penyebab mereka bersitegang seperti ini.


"Berhenti menyalahkanku, Sam, sekarang kau sudah menjadi kekasih Sophie, kau tidak boleh bersikap seolah kau terpaksa melakukannya."


"Memamg benar 'kan aku terpaksa melakukannya?" celetuk Samuel marah.


"Mungkin sekarang iya, tapi seiring waktu kau akan benar-benar mencintainya," ucap Amy, berharap itu sungguh akan terjadi supaya mereka semua bisa bahagia. "Aku harap kalian bahagia, Sam, aku sungguh tulus mendoakan kebahagiaan kalian berdua."


"Sudah kukatakan, ini hanya sementara! Aku hanya ingin bersamamu, dan bagiku Sophie hanyalah seorang adik yang membutuhkan kasih sayangku sekarang ini, tidak lebih." Samuel mengguncang-guncang tubuh Amy, tetap tidak menerima bahwa hubungan mereka telah berakhir. "Aku tidak akan mencintai wanita lain selain dirimu, Amy."


Mencurahkan seluruh tenaganya, Amy melepaskan cengkraman Samuel di pundaknya, kemudian melangkah menjauh darinya.


"Tidak. Kita sudah berakhir, Sam, kau tidak boleh mencintaiku. Cintailah Sophie sekarang, dan untuk selamanya.'


"Kenapa kau bersikeras mengakhiri hubungan kita berdua?" tanya Samuel menyipit curiga menatapnya. "Apa ini ada hubungannya dengan perasaan tertarik bosmu terhadapmu? Apa sekarang kau juga mulai tertarik kepadanya, makanya kau ingin hubungan kita berdua berakhir? Kau tergoda dengan bosmu yang tamoan dan kaya itu."


Tuduhan-tuduhan dengan nada kebencian itu tak henti-hentinya meluncur keluar dari bibir Samuel, seperti percikan api melahap sasarannya dengan begitu ganasnya.

__ADS_1


"Ap-apa yang kau bicarakan? Ini tidak ada hubungannya dengan Mark!" tampik Amy terlalu keras, yang hanya semakin menambah kecurigaan Samuel padanya.


"Lihatlah caramu memanggilnya dengan begitu akrabnya."


"Aku memang selalu memanggilnya begitu, Sam. Itu tidak berkaitan dengan omong kosong brengs*k yang kau tuduhkan kepadaku barusan."


"Begitukah?" tanya Samuel tak percaya seraya mengarahkan pandangannya ke belakang Amy. "Lalu kenapa sekarang dia ada di sini lagi?"


Mengikuti arah pandangan Samuel di belakangnya, Amy sangat terkejut menemukan Markus sedang berjalan mendekati mereka lagi dengan alis terangkat penuh tanda tanya.


"Apa aku mengganggu pembicaraan serius di antara kalian berdua lagi?" tanya Markus setelah berdiri tidak jauh dari mereka.


Bolak-balik menghadap kedua pria itu secara bergantian, Amy bingung harus mendahulukan siapa terlebih dahulu.


Apakah ia harus menghilangkan kecurigaan Markus kepada mereka, atau meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan Samuel yang sedang berlangsung tadi.


Ah, sudahlah, biarkan saja Samuel salah paham terhadapnya dan Markus, mungkin dengan begitu Samuel akan menyerah memaksa Amy melanjutkan hubungan mereka berdua lagi.


Berjalan mendekati Markus, ia menggenggam tangan atasannya itu.


"Kau datang tepat pada waktunya. Kami baru saja menyelesaikan percakapan kami."


Seolah tak mempercayai ucapannya, Markus hanya bergeming sambil mengerutkan dahi membaca raut wajahnya berupaya menerka apa yang dicoba disembunyikannya.


"Kita belum selesai, Amy," cetus Samuel, menarik sebelah tangannya cepat.


Berbalik menghadap Samuel dengan raut wajah kesal, Amy mendelik marah padanya. "Kita sudah selesai."


Menyentak lepas tangannya dari genggaman Samuel, ia langsung pergi menyeret Markus pergi sejauh mungkin dari pandangan Samuel yang menatap tak percaya Amy telah pergi bersama Markus meninggalkannya di sana seorang diri.


Sesampainya di depan mobil Markus, dengan cepat dibukanya pintu sopir lalu masuk ke dalam sana bersiap pergi ke tempat mana pun yang akan membawanya.


Sekali lagi menaikkan alis memandangnya, Markus heran dengan sikap lancangnya mendesak atasannya itu masuk ke kursi penumpang secepat mungkin. Mengabaikan permintaan itu, Markus malah duduk di sebelahnya.


##


Sekarang setelah Amy sudah pergi menjauh dari Samuel, ia duduk gelisah di dalam mobil, gugup harus berkata apa untuk memecah kesunyian canggung ini.


"Setelah bersikap lancang beberapa menit lalu, sekarang kau malah kehilangan suaramu?" Markus berbalik menghadapnya dengan raut wajah tak terbaca.


"Maafkan kelancanganku tadi, tapi kemarahanku telah mengambil alih tubuhku," jawab Amy menyesal.


"Jujur aku sedikit terkejut dengan sisi dirimu yang ini, tapi hanya itu saja." Markus mengangkat bahunya acuh lalu berbaring santai di tempat duduknya sambil memejamkan mata sejenak.


Lalu hening kembali.


Dan entah apa yang merasukinya, tiba-tiba saja Amy mengucapkan sesuatu yang ia sendiri juga terkejut dengan perkataannya tersebut.


"Omong-omong, Mark, mengenai pernyataan cintamu beberapa hari yang lalu, aku ingin menj–"


"Tidak perlu. Aku sudah berubah pikiran," ucap Markus menghentikan kalimatnya, masih dengan mata tertutup rapat.


Amy amat teramat sangat terkejut dengan jawaban tak terduga itu. Jika Markus berkata dia sudah melupakan pernyataan cintanya waktu itu, mungkin Amy tidak akan seterkejut ini.

__ADS_1


Karena walau bagaimanapun ia sudah menunda jawabannya begitu lama. Yang mungkin saja itu membuat Markus menyesali pengakuannya hari itu.


Tapi apa maksudnya sekarang ini? Dia sudah berubah pikiran? Berubah pikiran bagaimana maksudnya? Berubah tidak menyukainya lagi atau, atau apa? Amy kehabisan ide.


__ADS_2