I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Kesepakatan


__ADS_3

Seakan tak mempercayai apa yang barusan dia dengar, Samuel bertanya, "Apa katamu?"


"Kau mendengarku dengan sangat jelas, Sam. Aku akan menikah," ulang Amy.


Menggelengkan kepalanya, Samuel menyipitkan matanya curiga. "Kau berbohong. Tidak mungkin kau akan menikah dengan bos kayamu itu secepat ini. Kau tidak mencintainya. Kau mencintaiku!"


Memalingkan wajahnya, Amy tak sanggup menampik ucapan Samuel itu. Karena apa yang dikatakan Samuel memang benar, Amy masih mencintainya.


"Sekarang biarkan aku pergi, dan jangan menggangguku lagi untuk membahas masalah ini lagi. Lupakan aku dan berbahagialah bersama Sophie."


"Kau belum menjawabku, Amy." Samuel dengan cepat menghadang jalannya. "Apa kau mencintainya?"


"Itu tidak penting."


Dengan gerakan cepat Amy melesat ke samping dan berjalan cepat buru-buru meninggalkan Samuel, yang tentu saja langsung berlari mengejarnya sambil terus mencoba melanjutkan pembicraan mereka yang belum selesai.


"Itu penting bagiku. Biarkan aku mengingatkanmu kalau saja kau melupakannya, di hari kecelakaan Sophie terjadi kau memintaku datang untuk menemuimu di pondok, dan jangan coba-coba kau mengelak bahwa hari itu sebenarnya kau ingin menjawab lamaranku," cerca Samuel mengiringi langkah kakinya. "Akui saja, hari itu kau ingin menerima lamaranku, bukan?"


Setelah Samuel menyelesaikan pertanyaannya itu, mendadak Amy menghentikan langkahnya.


Itu memang benar. Hari itu ia memang berniat menjawab lamaran pernikahan Samuel. Butuh sebulan baginya untuk menyadari jika ia ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama sahabat kecilnya itu.


Namun sayangnya, hari yang seharusnya menjadi hari bahagia baginya malah berubah menjadi hari terburuk sepanjang hidupnya.


"Aku tahu itu, sayang, aku tahu, kau tidak akan mungkin menikahi pria lain selain diriku." Samuel merengkuhnya dalam pelukan. "Mari kita akhiri semua sandiwara bodoh ini dan menghadapi kemurkaan Sophie terhadap kita bersama-sama. Lambat laun dia pasti akan memaafkan kita, seperti yang sudah-sudah."


Menyebutkan nama Sophie sontak saja menyadarkan Amy dari lamunannya, dengan kasar dilepaskannya pelukan Samuel darinya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku tetap akan menikah dengan Mark, dan kau akan tetap melanjutkan hubunganmu dengan Sophie," cetus Amy kukuh. "Yang lalu biarlah berlalu, Sam, kita tidak akan pernah bersama lagi."


Lalu Amy kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.


"Sekali lagi kau melangkahkan kakimu, Amy, aku akan melaksanakan apa yang tadi kukatakan padamu di pondok," teriak Samuel di belakangnya. "Aku akan mengakui semuanya kepada Sophie. Persetan jika dia akan hancur karena pengakuanku itu."


Marah mendengarkan umpatan itu, Amy berbalik dan berjalan cepat menghampiri Samuel.


Mengira dia telah berhasil menakuti Amy, senyum kemenangan tersungging di bibir Samuel.


"Lakukan apa yang ingin lakukan. Ungkapkan saja semuanya, aku tidak peduli!" desis Amy, membelalakkan matanya. "Pengakuanmu tidak akan merubah apa pun. Aku akan tetap menikahi Mark. Terserah kau mau mempercayainya atau tidak."


Menyembunyikan gemetar tangannya, Amy buru-buru membalikkan badan dan pergi meninggalkan Samuel, sebelum dia sadar jika Amy tadi hanya berpura-pura tak terpengaruh dengan ancamannya itu.


Tapi melihat ekpresi terperangah Samuel tadi, setidaknya ia sudah berhasil membungkamnya untuk sementara ini.


Semoga saja kebohongannya tadi berhasil mengurungkan niat Samuel mengakui semuanya kepada Sophie. Amy hanya bisa berdoa.


***


Memutar-mutar malas gelas berisi cairan merah di hadapannya, Markus mengingat kembali pembicaraannya dengan Amy di jalanan malam itu.


Kejadian itu masih terasa segar dalam ingatannya meski sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu berlangsung. Bagaimana bisa dia melupakannya, kalau setiap hari ia selalu saja mengulang-ngulang kembali kejadian itu setiap ia senggang.

__ADS_1


Markus masih tidak percaya kalau Amy menolak lamaran pernikahannya mentah-mentah, dan bertingkah tidak ada yang terjadi pada mereka berdua keesokan harinya.


Padahal ia sempat berpikir Amy akan sengaja mengajukan cuti demi menghindarinya. Namun alangkah terkejutnya Markus saat melihat sekretarisnya itu duduk manis di meja kerjanya, seolah lamaran Markus bukanlah hal yang akan menghentikannya menjalankan aktivitasnya seperti biasa.


Ia tahu Amy selama ini memiliki sikap profesional yang tinggi, tapi tetap saja itu membuatnya kesal. Dan karena tidak ingin sekretaris profesionalnya mengetahui kekesalannya, Markus juga bertindak sama tidak pedulinya dengan dirinya.


Lalu untunglah tidak lama setelah itu Markus harus pergi mengurusi beberapa hal sehingga ia bisa dengan cepat menyingkirkan Amy dari hadapannya. Terlalu sulit baginya mempertahankan sikap masa bodonya di depan sekretarisnya itu lebih lama lagi.


Tapi tetap saja kepergiannya selama beberapa hari tidak menghentikannya memikirkan atau memimpikan Amy setiap malam di ranjangnya yang sepi dan kosong.


Jadi tidak heran jika Markus berpikir sesosok wanita berwujud seperti Amy yang berdiri di dekat pintu ruang gelap perpustakaannya hanyalah khayalannya semata. Atau mungkin ini efek ia mulai agak mabuk karena sebotol wine yang telah ditenggaknya.


Cahaya lampu yang tiba-tiba menerangi seisi ruangan itu seketika menyakiti matanya. Secara refleks diangkatnya tangannya menghalangi sinar cahaya menyilaukan itu.


"Awalnya aku sempat ragu kau ada di sini, tapi untunglah aku mengeceknya terlebih dahulu," ucap Amy dengan napas memburu, seolah baru saja berlari dalam waktu yang lama. "Kau sedang minum?"


Perlahan diturunkannya tangannya ke pangkuan, kemudian memicingkan mata memandang Amy dengan saksama. Penampilannya terlihat sangat berantakan, berbeda jauh dari sekretaris berpenampilan rapi yang selalu ditemuinya di kantor.


Dengan rambut terikat longgar di tengkuknya, beberapa helai rambut menempel di wajahnya yang bercucuran keringat. Melirik ke bawah, dilihatnya salah satu tali sepatu Amy terlepas dari ikatannya.


Yang lebih parah lagi ada beberapa noda kecoklatan mengotori pakaiannya, yang menunjukkan Amy kelihatannya baru saja terjatuh di atas kubangan lumpur.


Sadar akan tatapan menyeluruh Markus pada penampilannya yang mengerikan, Amy mencoba menutupi penampilannya dengan kedua tangannya.


Tahu itu tidak ada gunanya, Amy kembali menurunkan kedua tangannya, kemudian tersenyum kecut memandangnya.


"Maafkan atas penampilanku yang acak-acakan ini, tapi aku tadi sedang terburu-buru kemari, jadinya tidak memperhatikan jalan dengan benar," jelas Amy mengendikkan bahunya.


"Apa yang membuatmu terburu-buru datang kemari? Apa hal buruk telah terjadi pada perusahaan?" tanya Markus menautkan alisnya.


"Kalau begitu, apa lagi yang membuatmu datang kemari dengan penampilan berantakan begitu, kalau bukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan? Kau tidak pernah masuk ke apartemenku, kecuali jika itu berkaitan dengan pekerjaan."


"Aku… aku…." Amy bergerak-gerak gelisah di tempatnya berdiri, matanya berkeliaran memandang ke segala arah.


Semenit berlalu. Kemudian dua menit berlalu. Dan belum juga Amy menjelaskan maksud kedatangannya.


"Kalau yang kau lakukan di sana hanya berdiam diri seperti patung, lebih baik kau pulang saja," usirnya, lalu kembali ingin meminum segelas wine yang sudah diabaikannya begitu lama.


"Ayo menikah!" seru Amy lantang.


Gelas yang dipegangnya berhenti tepat di depan bibirnya.


"Ya, ayo kita menikah," ujar Amy mengulangi perkataannya. "Malam itu aku tidak bisa berpikir dengan jernih, jadi tanpa pikir panjang aku langsung menolakmu. Tapi setelah kupikirkan baik-baik aku telah salah mengambil keputusan, jadi… jadi… aku kemari untuk mengatakan padamu bahwa aku menyesalinya. Sekarang biarkan aku yang mengajukan lamaran. Menikahlah denganku, Mark."


Menyembunyikan keterkejutannya, Markus meletakkan gelasnya kembali ke meja dengan santai. Dengan gerakan malas, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Amy yang terlihat berdiri gemetar memandangnya.


Markus sengaja berjalan mengelilingi Amy sambil sesekali menyeka sejejak debu yang menempel di bajunya. Setelah puas membuat sekretarisnya itu merasa terintimidasi, Markus merunduk di belakang telinganya untuk berbisik.


"Apa yang membuatmu berpikir aku masih menginginkanmu menjadi istriku, Amy sayang?"


Tersentak merasakan hembusan napas hangat Markus di dekat telinganya, bulu kuduk Amy seketika meremang.

__ADS_1


Dengan suara lirih dia menjawab, "Aku… aku tidak tahu. Aku cuma berharap kalau perasaanmu kepadaku yang sudah kau pendam begitu lama tidak akan semudah itu pudar atas penolakan spontanku malam itu."


"Tentu saja kau benar," sahut Markus mengakuinya setelah seperkian detik berlalu.


Napas yang sejak tadi ditahannya, perlahan dihembuskan Amy.


Tak mau berlama-lama membuat Amy merasa tak nyaman, Markus akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Amy lalu berdiri menghadapnya.


"Tapi…," Markus sengaja memberi jeda agar Amy tidak bisa bersikap santai terlalu cepat, "aku butuh jaminan."


"Jaminan?"


"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu membuat diriku terombang-ambing lagi, Amy sayang. Kita tak pernah tahu, mungkin saja besok kau berubah pikiran lagi."


"Aku tidak akan melakukan itu! Kau bisa pegang janjiku," ucap Amy terlihat bersungguh-sungguh.


Meski begitu, Markus tetap membutuhkan jaminan dari sekretarisnya yang suka berubah-ubah itu.


"Janjimu masih belum cukup bagiku." Menundukkan kepalanya mendekat, Markus menatap mata Amy lekat-lekat. "Malam ini tidurlah bersamaku, Amy Anderson."


Terenyak oleh permintaan itu, Amy seketika merasakan kaki yang sedang menopangnya berdiri agak melemah.


Untynglah ebelum Amy sempat mempermalukan dirinya dengan terjatuh seperti orang bodoh di ruang perpustakaan itu, Markus menariknya ke dalam pelukannya.


Kini tak ada lagi yang menghalangi tubuh mereka bersentuhan selain pakaian yang mereka kenakan. Panas tubuh yang memancar keluar dari tubuh Markus melingkupi tubuh Amy.


Selama sesaat Amy lupa di mana dirinya dan apa yang dilakukannya hingga bisa berpelukan dengan intimnya bersama atasannya di dalam ruang perpustakaan apartemennya.


Sentuhan bibir panas Markus pada kulit sensitif di lehernya menyadarkan Amy dari kelinglungannya.


"Aku menginginkamu, Amy. Sekarang."


Mencengkram baju Markus kencang, Amy tertawa gugup. "Apa ini sungguh diperlukan? Lagipula kita 'kan bisa melakukannya setelah menikah. Jadi kenapa tidak melakukannya di malam pernikahan kita saja?"


Markus kembali menatap Amy dengan raut wajah seperti menahan rasa sakit. "Ya atau tidak, Amy? Aku hanya membutuhkan salah satu jawaban dari kedua kata itu."


Mengetahui jika dia tidak bisa melarikan diri dari jeratan Markus, akhirnya Amy menerima kenyataan jika ia tidak punya pilihan selain menyetujui syarat Markus jika ingin pernikahannya dengan atasannya itu terjadi.


Mengangguk kecil, secara tiba-tiba Amy mendapatkan serangan dari bibir Markus yang ******* bibirnya dengan ganas, kemudian perlahan-lahan ciuman itu mulai melembut, seakan-akan Markus sudah bisa mengendalikan dirinya.


Sejujurnya Amy sangat ketakutan, tapi ia berusaha keras menahan dirinya supaya tidak mendorong Markus dari tubuhnya. Ini harus dilakukannya demi meyakinkan atasannya itu.


Lagi pula ciuman Markus tidaklah semenjijikkan itu hingga harus membuatnya menolaknya sekasar itu. Di dalam ciuman itu, Amy bisa merasakan wine yang sudah diminum Markus beberapa waktu lalu.


Setidaknya rasa wine itu sedikit membantu meringankan ketakutannya. Mungkin itu jugalah yang membuat Amy terhanyut dalam ciuman menggebu-gebu itu, ia membalas ciuman Markus dengan sangat antusias.


Kemudian tiba-tiba saja Markus melepaskan bibirnya yang sedang bertaut begitu intim dengan bibir Amy, napasnya menderu keras menatap Amy yang sedang berusaha keras menenangkan detaknya jantungnya yang berdebar kencang.


"Bersihkan dirimu di kamar mandiku lalu tunggu aku di dalam kamarku," suruh Markus. "Sejam lagi aku akan menyusulmu ke sana. Aku perlu waktu untuk menghilangkan mabukku terlebih dahulu. Saat bercinta aku ingin berada dalam keadaan sadar sepenuhnya."


Usai menyampaikan perintahnya, Markus mendorong pelan Amy keluar dari ruang perpustakaannya.

__ADS_1


Menutup pintunya, Markus menyandarkan tubuhnya di pintu. Kesepakatan telah dibuat. Malam ini Amy akan menjadi miliknya seutuhnya.


Markus bertekad akan membuat malam ini menjadi malam yang tak terlupakan bagi Amy, yang tidak lama lagi akan menjadi istrinya.


__ADS_2