
Langit sudah mulai menggelap ketika Amy melambaikan tangan untuk terakhir kalinya kepada ibu dan teman-temannya dari dalam mobil.
Setelah mobil yang ditempatinya bersama Markus mulai menjauh dari pandangan, Amy langsung menutup kaca mobilnya, kemudian duduk bersandar di tempat duduknya seraya menghela napas lelah.
Sekarang ini mereka berdua sedang menuju ke bandara. Dari sana mereka berencana akan pergi berbulan madu ke Paris selama seminggu.
Membayangkan perjalanan panjang itu saja sudah membuat Amy ingin memejamkan matanya sejenak. Akan tetapi, ia tidak bisa melakukan itu.
Ada sesuatu yang harus ditanyakannya terlebih dahulu kepada Markus sebelum rasa kantuk mengambil alih tubuhnya.
"Beristirahatlah. Tidak perlu menahan kantukmu begitu," saran Markus, menyandarkan kepalanya di pundaknya. "Nanti kalau sudah tiba di bandara aku akan membangunkanmu. Sekarang ini kau terlihat sangat lelah."
Senang atas perhatian itu, Amy mendongak sambil tersenyum manis kepada suaminya.
"Terima kasih atas pengertianmu, tapi sebelum aku jatuh tertidur ada suatu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu terlebih dahulu."
Markus memandangnya dengan raut wajah tak setuju. "Kau bisa menanyakannya nanti. Sekarang tidurlah."
Kemudian Markus dengan sengaja memejamkan matanya untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
Tidak menyerah begitu saja, Amy menggerakkan jari telunjuknya di dada Markus membuat pola melingkar di sana.
"Kenapa ibumu tidak datang ke pernikahan kita hari ini, Mark?"
Hening. Tidak ada jawaban apa pun yang keluar dari mulut suaminya. Hanya suara napas teraturnya yang terdengar dalam kesunyian itu.
Meskipun begitu, Amy tetap berusaha mendapatkan jawaban dari suaminya, sekecil apa pun itu.
"Aku tahu hubunganmu dengan ibumu tidak baik, tapi tetap saja ketidakhadirannya sangat terasa. Bahkan aku sempat mendengarkan bisik-bisik dari beberapa para tamu kalau alasan ketidakhadirannya di pernikahan kita karena dia tidak menginginkan menantu miskin sepertiku. Bahkan hari ini ibuku terus-menerus me–"
"Ketidakhadiran ibuku tidak ada hubungannya dengan dirimu, jadi jangan mengatai dirimu seperti itu," sela Mark, terdengar sangat kesal saat mengetahui ada yang menghina latar belakang istrinya tanpa sepengetahuannya.
"Bukan aku yang mengatai diriku miskin, tapi para orang-orang bodoh itu yang mengatakannya," sahut Amy jengkel.
"Kalau begitu, lupakan saja apa yang kau dengar. Abaikan saja kalau kau bertemu lagi dengan orang-orang bodoh yang iri denganmu itu."
"Aku bukannya ingin membahas orang-orang bodoh itu, Mark, aku cuma penasaran kenapa–"
Dirasakannya Markus meremas lengannya untuk menghentikannya berbicara.
"Tidurlah, Amy, perjalanan kita masih panjang. Daripada menghabiskan energimu dengan bertanya soal tidak penting seperti itu, lebih baik kau memikirkan malam pengantin kita nanti."
Sadar Markus sengaja mengungkit tentang bulan madu mereka karena merasa tidak nyaman membicarakan ibunya lebih lama lagi, Amy tidak punya pilihan selain menuruti permintaan tak terucap itu.
Walaupun begitu ia hanya menundanya untuk sementara waktu. Nanti jika Markus sedang dalam suasana hati yang lebih baik ia akan kembali menanyakan tentang hubungan tidak baiknya dengan ibunya lagi.
Suka atau tidak, suaminya tetap harus menceritakan apa yang membuatnya bersikap kaku setiap kali ibunya disebutkan.
Mungkin karena merasa telah berhasil membungkamnya, Markus menghembuskan napas lega, yang memancing Amy untuk mengganggu suaminya itu lagi dengan pertanyaan lain.
Tapi kali ini pertanyaan yang diajukannya berhubungan dengan dirinya, dan pertanyaan itu perlu ditanyakannya demi menenangkannya dari perasaan gelisah yang masih belum hilang sepenuhnya dari benaknya.
"Omong-omong, Mark, aku jadi ingat suatu hal yang membuatku sedikit penasaran," ujarnya ragu-ragu.
__ADS_1
Seketika tubuh suaminya kembali menegang lagi, seolah dia takut Amy akan kembali mengajukan pertanyaan yang membuatnya tak nyaman.
"Tadi ibuku sempat berkata kepadaku kalau kau sebenarnya sudah terlebih dahulu mencariku, tapi karena kau juga tak kunjung muncul akhirnya ibuku memutuskan untuk mencariku juga," lanjut Amy, melirik hati-hati pada suaminya. "Yang ingin kutanyakan, apa kau benar-benar tersesat seperti yang dipikirkan ibuku akibat sulit menemukan keberadaanku. Apa benar begitu?"
Seulas senyuman geli terbentuk di bibir suaminya mendengarkan pertanyaan itu.
"Aku bukan anak kecil yang bisa tersesat di tempat sekecil itu, Sayangku," jawab Markus terkekeh. "Memang benar aku berniat mencarimu saat kau belum juga menapakkan dirimu, tapi di tengah perjalanan aku bertemu dengan Luke, dia menarikku ke luar dan memintaku untuk lebih bersabar menunggu calon pengantinku di altar. Walaupun aku kesal dia menyeretku kembali ke tempat para tamu menunggu di luar, aku lega saat tahu kalau ibumu juga sedang mencarimu, dan memutuskan untuk menunggumu kembali bersama ibumu. Nah, masih ada lagi yang ingin kau tanyakan padaku?"
Amy menggeleng cepat lalu kembali menyandarkan kepalanya dengan santai di dada Markus sembari menghela napas puas. Sekarang ia bisa tidur nyenyak dalam pelukan suaminya.
Dalam sekejap Amy sudah tertidur lelap dan bermimpi sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya di tempat duduk sambil sesekali melirik ke ruangan Markus setiap menitnya.
Yang menyebabkannya tidak bisa fokus dengan pekerjaannya saat ini dikarenakan ibu Markus sedang menunggu atasannya itu di dalam sana hampir sejam lamanya.
Padahal sudah sejam lalu ia mengabarkan kepada Markus kalau ibunya datang berkunjung ke kantornya. Tapi lihatlah, sampai sekarang atasan menyebalkannya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Sebenarnya apa yang sudah menyebabkannya datang selambat ini? Setahunya rapat penting yang dihadiri atasannya itu sudah lama selesai.
Tiba-tiba suara pintu terbanting membuka membuat Amy terlonjak berdiri dari tempat duduknya saat seorang wanita berparas cantik berpakaian elegan melangkah keluar dari ruangan Markus dengan raut wajah tak senang.
Siapa pun yang melihat wanita cantik di depannya ini tidak akan menyangka bahwa dia sudah berusia 48 tahun. Tidak ada kerutan di wajahnya, seperti yang seharusnya terlihat pada orang seusianya.
Bahkan ibunya yang berusia 43 tahun saja sudah memiliki kerutan-kerutan kecil di wajahnya.
Entah ibu atasannya ini sudah melakukan operasi plastik atau dia pintar merawat dirinya hingga membuatnya masih terlihat awet muda seperti itu.
Andai saja dia tidak memperkenalkan dirinya sebagai ibu atasannya tadi, Amy hampir saja mengira dia kekasih atasannya. Untungnya dia tidak melakukan kesalahan besar itu.
"Tidak perlu melampiaskan kemarahanmu kepada sekretarisku. Bukan dia yang membuatmu marah," tegur sebuah suara yang dikenal Amy sebagai atasannya.
"Akhirnya kau datang juga!" seru ibu atasannya lantang.
Senang akhirnya atasannya itu datang, Amy mendesah lega seraya melemparkan tatapan berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkannya dari amukan ibunya.
Namun apa yang dilihatnya di tatapan Markus sangatlah mengagetkannya. Bola mata keabu-abuan itu menusuknya dengan tatapan dingin.
Sebentar. Sepertinya Amy pernah melihat tatapan itu sebelumnya.
Lalu sebuah kesadaran menghantamnya kalau sebenarnya ia pernah dalam situasi ini sebelumnya. Ini adalah kejadian 2 tahun lalu, saat ia bertemu dengan ibu Markus pertama kalinya.
Seluruh adegan ini sama persis dengan apa yang terjadi hari itu. Yang membedakannya kali ini tatapan dingin Markus bukan tertuju kepada ibunya, melainkan kepada dirinya.
Keringat dingin perlahan membasahi punggungnya.
Kenapa Markus menatapku penuh kebencian seperti itu? Apa dia sudah tahu kalau aku sudah membohonginya selama ini.
Tidak, itu tak boleh terjadi! Dia tak boleh mengetahuinya. Kami baru saja menikah dan aku belum melakukan apa pun untuk menbahagiakannya.
Teringat akan pernikahannya. Amy perlahan sadar kalau ini semua hanyalah mimpi.
Namun kenapa dia harus memimpikan kejadian ini? Kenapa tatapan dingin itu harus tertuju kepadanya? Mungkinkah ini sebuah pertanda buruk? Atau kekhawatirannyalah yang menyebabkan kenangan itu menghantui mimpinya? Apa pun itu, ia sama sekali tak menyukainya.
Tanpa peringatan Amy tiba-tiba terbangun dari mimpi buruknya dengan napas terengah-engah.
__ADS_1
Sudah berapa lama aku tidur?
Matanya seketika melirik ke kaca mobil untuk melihat pemandangan yang ada di luar. Betapa terkejutnya Amy saat melihat mobil mereka memasuki sebuah halaman luas dihiasi berbagai tanaman indah di sekelilingnya.
Lalu tiba-tiba mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan rumah megah yang besarnya lima kali lipat dari rumahnya di Nort West.
"Kita sudah sampai." Hanya itu yang dikatakan Markus sembari mengulurkan tangan kepadanya.
Entah kapan suaminya itu keluar dari mobil, mungkin dia melakukannya selagi Amy masih terpelongo memandang kemegahan di hadapannya.
Menyambut uluran tangan itu, Amy bertanya, "Kita ada di mana, Mark?"
"Rumahku," jawab Markus singkat.
"Rumahmu?" seru Amy terkejut. "Kenapa kita ada di rumahmu, bukankah seharusnya kita berada di bandara sekarang?"
Astaga, sebenarnya ada apa ini? Kenapa kami malah ke rumah Markus? Lalu kenapa Markus tidak mengatakan perubahan rencana ini kepadanya selama di perjalanan tadi.
Apa Markus sengaja melakukannya karena tidak ingin mengganggu tidurnya? Konyol sekali jika itu alasannya.
Rumah suaminya ini sangat besar, tapi juga terasa hampa. Tidak ada terlihat seorang pun di dalam rumah ini selain mereka berdua.
Bukankah seharusnya rumah sebesar ini memiliki banyak pelayan? Atau mungkin saja para penghuni di rumah ini sedang tidur, jika mengingat waktu kedatangan mereka kemari.
Jam dinding di dekat tangga melingkar saat Amy melewatinya tadi menunjukkan waktu sudah pukul 11 malam lewat.
Wow! Lama juga aku tidur.
Padahal rasanya ia seperti tidur beberapa puluh menit saja, alih-alih 4 jam lebih.
Karena terlalu sibuk dengan isi pikirannya, Amy tidak sadar kalau mereka sekarang sudah berada di dalam kamar besar yang menurut dugaannya kamar suaminya.
Terlalu serius memperhatikan sekelilingnya, Amy terlonjak kaget saat merasakan Markus menurunkan ritsleting gaun berwarna krem yang dikenakannya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan, Mark?" tanya Amy sembari membalikkan badan.
"Melepas gaunmu," jawab Markus datar.
"Iya, aku tahu, tapi kenapa tiba-tiba kau melakukan itu?"
Sesaat kemudian ekspresi wajah Markus berubah menggelap.
"Kenapa? Apa sekarang kau tidak bisa lagi menyembunyikan rasa jijikmu terhadapku?"
Sekujur tubuh Amy tiba-tiba memberi sinyal peringatan bahwa ada yang tidak beres dari sikap dingin Markus yang tiba-tiba ini.
"Apa maksudmu? A-Aku tidak mengerti," jawab Amy terbata-bata.
Suara gemuruh jantungnya berdentam-dentam hebat di dadanya.
"Sudahi sandiwaramu itu, Amy. Apa kau tidak capek bertingkah sok polos seperti itu terus?" ledek Markus sinis. "Aku saja sudah muak melihatnya."
Oh Tuhan, dia mengetahuinya.
__ADS_1