I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Kenyataan


__ADS_3

Bergegas masuk ke dalam kamar Sophie yang berada tepat di samping kamarnya, Amy memilah-milah barang yang harus dibawanya ke rumah sakit.


Pagi ini ibunya kembali ke rumah sakit dan segera menyuruhnya pulang. Ibunya juga telah meminta padanya agar tidak terlalu mengkhawatirkan Sophie dan melakukan aktivitasnya seperti biasa, yang tentu saja Amy tidak bisa menuruti permintaan ibunya. Terlalu banyak hal yang harus dilakukannya.


Masuk kerja bukanlah hal utama yang ada di dalam benaknya saat ini. Malam itu di rumah sakit setelah menunggu Sophie tertidur lelap di ranjangnya, Amy bergegas mendatangi dokter yang menangani adiknya.


"Apa adik Saya bisa berjalan normal lagi, Dok? Kelumpuhan ini hanya sementara, 'kan?" Amy menatap Dokter John penuh harap.


Menggelengkan kepalanya, Dokter John berujar penuh penyesalan, "Maafkan Saya. Saya sudah berusaha maksimal, tapi sepertinya Saya tidak bisa berbuat banyak."


"Tidak. Tidak mungkin," tampik Amy menolak kenyataan jika kaki adiknya tidak bisa pulih seperti sedia kala. "Pastinya ada kemungkinan, meski kecil, jika adikku bisa pulih."


Menepuk pundaknya simpati, Dokter John berusaha menyemangatinya. "Saya juga berharap demikian. Saat ini kita hanya bisa berharap keajaiban akan terjadi kepada adikmu."


Usai menyampaikan kata-kata penyemangat itu, Dokter John melangkah pergi meninggalkannya seorang diri meratap di lorong nan sunyi itu.


Keajaiban? Ingin rasanya Amy tertawa histeris. Saat ini yang dibutuhkannya adalah kepastian, bukannya omong kosong yang disebut keajaiban.


Kembali ke masa kini, Amy memusatkan pikirannya perihal hal lain yang lebih mendesak. Yaitu menghubungi atasannya perihal cutinya.


Tentunya Markus tidak akan melarang jika ia mengajukan cuti selama beberapa hari hingga masalah adiknya ini terpecahkan.


Apalagi selama bekerja tiga tahun lebih lamanya di tempat kerjanya, ia belum pernah sekali pun mengajukan cuti. Jadi, tidak ada salahnya kalau sekarang ia memintanya.


Melirik tas tempatnya menaruh segala macam barang favorit adiknya, Amy mengangguk puas. Setidaknya ini bisa mengalihkan pikiran adiknya dari kelumpuhannya selama dia dirawat di rumah sakit.


Ibunya tadi hanya sempat membawa pakaian Sophie saja, tidak terpikirkan oleh ibunya kalau Sophie juga pasti memerlukan hiburan selama berada di rumah sakit. Mungkin itu efek ibunya terlalu khawatir dengan keadaan adiknya, jadi ibunya masih belum bisa berpikir jernih.


Menghela napas panjang, Amy berjalan menuju pintu, tapi sesuatu menghentikannya saat hendak keluar kamar adiknya. Di atas meja belajar adiknya terletak sebuah novel roman yang selalu menjadi favorit adiknya.


Sudah tak terhintung banyaknya Sophie membaca novel itu secara berulang-ulang. Bahkan Amy yang tidak tertarik dengan novel pun hapal beberapa dialog yang ada dalam novel itu berkat adiknya yang selalu menyuarakan dialog favoritnya dalam novel itu.


Tanpa pikir panjang, Amy mengambil novel itu. Berharap novel itu akan mengembalikan sifat ceria adiknya. Namun, tanpa sengaja ia menjatuhkan buku yang juga ada di atas meja itu.


Berniat segera mengembalikannya ke tempatnya berada, sebab Amy mengenali buku itu sebagai buku harian adiknya. Tetapi halaman buku itu tersingkap pada bagian yang menarik matanya.


Senyum dan perhatianmu sungguh meluluhkan hatiku…


##


Karena terlalu terburu-buru keluar dari rumahnya, Amy tidak menyadari ada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari rumahnya.


Tarikan tangan seseorang di pergelangan tangannya membuatnya berpaling menghadap orang yang menariknya tersebut.


"Mark?" serunya kaget. "Apa yang kau lakukan di sini?"


Markus tidak memberikan jawaban, dia hanya menaikkan sebelah alisnya sembari menunduk menatap tas besar yang ada dalam genggamannya.


"Ah, bodohnya aku." Amy mengangguk-anggukan kepalanya, seolah kini memahami apa yang menyebabkan markus berada di sana. "Kau pasti bingung kenapa hari ini aku terlambat datang kerja dan tidak mengabarimu. Sebenarnya aku berniat men–"


"Sebetulnya itu juga salah satu alasanku kemari," potong Markus. "Setelah apa yang aku lakukan untukmu semalam, aku heran kenapa kau belum juga menghubungiku. Tapi lebih dari itu, aku ingin berbicara empat mata denganmu mengenai sesuatu ya–"


"Maaf, Mark, bukannya aku bermaksud kasar, tapi sekarang ini aku sedang terburu-buru. Mungkin lain kali saja kita berbincang," sahut Amy menyesal. "Dan mengenai keterlambatan aku hari ini, aku sebenarnya tadi ingin mengabarimu bahwa aku ingin mengambil cuti. Tapi syukurlah kita bertemu di sini, jadi aku tidak perlu lagi menghubungimu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi."


Tanpa menunggu respons dari atasannya, Amy berbalik pergi.

__ADS_1


"Padahal ini berhubungan dengan adikmu Sophie," teriak Markus di belakangnya. "Tapi apa boleh buat, sepertinya itu bisa menunggu."


Langkah Amy seketika terhenti mendengarkan apa yang disampaikan Markus kepadanya. Membalikkan badannya, Amy segera berlari menyusul Markus yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


Sama halnya yang dilakukan Markus tadi padanya, Amy menyentak lengan Markus supaya dia berbalik memghadapnya.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang kau katakan padaku barusan."


"Aku pikir kau sedang terburu-buru."


"Jangan meledekku, Mark," tegur Amy tak senang. "Soal apa yang ingin kau bicarkan denganku perihal adikku?"


"Sebenarnya semalam aku berbicara secara empat mata dengan dokter yang menangani adikmu." Markus mencari-cari tanda kemarahan dalam wajahnya, karena tak menemukannya dia pun melanjutkan perkataannya, "Aku minta maaf kalau aku melakukan hal itu tanpa ijin darimu, tapi aku tak bisa begitu saja membiarkan kau terus khawatir mengenai kondisi adikmu, makanya aku sebisa mungkin berusaha membantu sebisaku."


Perlahan pegangan Amy di tangan Markus terlepas, ditatapnya Markus hampa. "Jika kau ingin mengatakan adikku tidak memiliki harapan, kau tidak perlu mengatakannya. Aku sudah mendengarnya sendiri dari Dokter John tadi malam."


Markus tampak sedikit kaget mendengar pengakuan itu, tapi rasa kagetnya segera menghilang digantikan senyuman lebar di wajahnya.


"Bukan itu tepatnya yang ingin aku sampaikan padamu."


"Lalu apa?" tanya Amy kebingungan sekaligus penasaran.


"Tidak lama setelah berbicara dengan Dokter John, aku segera menghubungi dokter kenalanku yang ada di Cambry. Setelah menjelaskan apa yang terjadi pada adikmu, siang ini dia akan datang mengecek kondisi adikmu," jelas Markus. "Mungkin tidak seharusnya aku memberitahukan soal ini kepadamu lebih awal, tapi melihat kondisimu sekarang sepertinya kau perlu tahu hal ini. Dokter Peter mengatakan padaku bahwa ada kemungkinan adikmu Sophie bisa pulih dari kelumpuhannya, tapi itu masih kemungkinan. Kedatangannya hari inilah untuk memastikannya. Dia ingin melihat keadaan adikmu secara langsung."


Selama mendengarkan kabar menggembirakan itu, Amy hanya terdiam terpaku di tempatnya sambil menatap atasannya dengan takjub.


Keajaiban.


Itulah yang dikatakan Dokter John padanya tadi malam. Dan inilah keajaibannya, berwujud Markus William Xander. Dadanya serasa membuncah karena pengharapan yang kini mulai memenuhi dirinya.


Mungkin karena itu jugalah secara spontan dilemparkannya tubuhnya ke dalam pelukan atasannya seraya berteriak gembira.


Mark balas memeluknya balik. "Sudah kukatakan ini baru kemungkinan."


"Aku tahu, aku tahu, tapi aku sangat bahagia."


"Jika kabar ini saja sudah membuatmu memelukku seperti ini, apalagi nanti saat kemungkinan itu akan menjadi kepastian, mungkin kau akan menciumku."


Serasa tertampar oleh ucapan itu, Amy langsung buru-buru melepaskan pelukannya dari Markus dengan kalut. Sayangnya Markus tidak mau melepaskannya semudah itu.


"Mark, lepaskan aku," pinta Amy lemah. Jantungnya berdegup sangat kencang di dadanya.


Kali berikutnya mereka berdua tiba-tiba saling bertatapan begitu intens. Bola mata keabu-abuan Markus berubah menggelap menatapnya.


Tenggelam oleh kedalaman mata itu, tanpa sadar Amy menjilat bibirnya dengan gugup. Gerakan kecil itu langsung menarik perhatian Mark, dia langsung melirik bibirnya penuh minat.


"Amy!" panggil sebuah suara di belakangnya.


Dalam sekejap mata, Amy sekuat tenaga melepaskan pelukan Markus darinya, kemudian berbalik menghadap sumber suara itu.


Sebelum membalikkan badannya pun, Amy sudah tahu siapa yang telah memanggil namanya itu.


Sepintas memandangnya, Amy segera teringat apa yang telah membuatnya lari terburu-buru keluar dari rumahnya tadi sebelum ia bertemu dengan Markus di luar.


Jika dilihat dari raut wajahnya yang terlihat tak senang dan penuh selidik, Amy tahu apa yang saat ini ada dalam pikiran kekasihnya itu.

__ADS_1


Ha! Bisa-bisanya dia menatapku seperti itu setelah apa yang telah dia lakukan terhadapku.


Perlahan Samuel berjalan mendekat menghampirinya.


"Kenapa kau berada di sini? Aku pikir kau sedang berada di rumah sakit."


Alih-alih menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu, Amy malah berbalik menghadap atasannya.


"Terima kasih atas kabar baiknya, Mark. Aku rasa kita akan berjumpa lagi siang ini."


Markus meliriknya dan samuel secara bergantian, mencoba mencari tahu hubungan di antara mereka berdua.


"Mungkin," jawabnya sambil lalu, matanya tertuju pada Samuel yang kini memandangnya dengan tatapan bermusuhan.


"Kalau begitu, hati-hati di jalan." Lalu Amy berbalik menghadap Samuel dan merenggut tangannya dengan kasar. "Dan kau ikut denganku."


Sadar akan tatapan Markus yang terus mengikutinya sepanjang jalan, Amy dengan cepat berbelok ke gang kecil. Ia tidak ingin siapa pun mendengarkan pembicaraannya dengan Samuel saat ini.


Menyentak lepas tangannya, Samuel terlebih dahulu mendahuluinya dalam berbicara.


"Ada hubungan apa kau dengan Bosmu? Kenapa kalian tadi berpelukan mesra di tengah jalan?"


Marah oleh pertanyaan tersirat Samuel itu, Amy langsung mengambil sebuah buku dari dalam tasnya dan melemparkannya ke dada Samuel dengan kasar.


"Sebelum kau menuduhku yang bukan-bukan, sebaiknya kau jelaskan dulu soal ini," balas Amy, mendelik marah.


"Soal apa maksudmu," ujar Samuel seraya memungut buku yang tergeletak jatuh di dekat kakinya. "Buku apa pula i–"


Gerutuan Samuel terhenti saat menyadari buku apa yang berada dalam genggamannya. Matanya terbelalak membaca tulisan yang ada di sana.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku kalau Sophie memiliki perasaan terhadapmu?"


Mendongak memandangnya, Samuel melangkah mendekatinya. "Aku bisa jelaskan, Amy."


Mundur selangkah, Amy menolak saat Samuel ingin menyentuhnya.


"Kenapa kau melakukan ini kepadaku, Sam? Dari semua orang, kenapa harus kau? Kau tahu betapa aku sangat mempercayaimu, tapi kenapa? Kenapa hal penting seperti ini tidak pernah kau beritahukan kepadaku. Padahal kau tahu sendiri bahwa aku berhak mengetahui hal ini."


"Karena inilah aku tidak ingin memberitahumu!" seru Samuel frustasi. "Karena aku tahu kau akan bereaksi seperti ini. Tapi Amy, ini tidaklah seperti yang kau pikirkan."


"Memangnya apa yang aku pikirkan?" Menggelengkan kepalanya, Amy mengubah pertanyaannya. "Tidak. Seharusnya aku tudak bertanya begitu. Yang seharusnya kutanyakan adalah sejak kapan kau mengetahui hal ini? Apa kau mengetahuinya baru-baru ini atau kau sudah mengetahuinya sebelum kita memutuskan pacaran. Jadi, yang mana?"


"Percaya atau tidak aku baru memgetahuinya belum lama ini," jawab Samuel.


"Kapan?"


Mengalihkan pandangannya, Samuel menolak menjawab pertanyaannya itu. Barulah saat itu sesuatu terlintas dalam benak Amy.


Menutup mulutnya dengan kedua tangan, Amy memandang Samuel berlinangan air mata.


"Kecelakaan itu...." Amy berusaha menahan isak tangisnya, menguatkan dirinya ia melanjutkan perkataannya, "Karena itulah kalian berdua bersikap aneh di rumah sakit. Sophie pasti mengakui perasaannya kepadamu hari itu."


Tidak perlu jawaban. Kebisuan serta tatapan penyesalan Samuel menjawab segalanya.


Beberapa saat kemudian muncul pikiran mengerikan dalam benak Amy.

__ADS_1


"Oh Tuhan, Oh Tuhan." Amy mencengkram baju Samuel. "Jangan katakan padaku kalau kau juga mengatakan pada Sophie jika kita menjalin hubungan? Apa benar begitu? Astaga itu pasti membuatnya hancur"


Merosot turun, Amy tidak bisa lagi membendung isak tangisnya. "Aku sudah membuat adikku cacat. Ini semua salahku."


__ADS_2