
Sepanjang perjalanan menuju rumah Helen tidak ada suara sekecil apa pun yang terdengar di dalam mobil itu. Melirik ke sampingnya, Markus memperhatikan Amy yang diam membisu di tempat duduknya dengan wajah menghadap kaca mobil.
Nampaknya istrinya masih marah padanya sehingga lebih memilih melihat pemandangan di luar sana. Mungkin dengan begitu dia bisa melupakan sejenak keberadaan Markus di dalam mobil bersamanya.
Melirik ke arah leher istrinya Markus tersenyum lega. Setidaknya istrinya masih mau mengenakan kalung pemberiannya. Kalung itu terlihat sangat indah di leher cantik istrinya, dan sangat menggoda.
Dengan cepat dialihkannya pandangannya dari leher istrinya, sebelum dia melakukan sesuatu yang akan mempermalukan dirinya sendiri, misalnya memandang gundukan di bawah leher istrinya seperti hewan buas yang kelaparan.
Seharusnya tadi ia memperingatkan Amy agar mengenakan pakaian yang lebih tertutup. Tidakkah istrinya itu sadar kalau dia memperlihatkan tubuhnya yang molek sesantai itu akan membuat Markus kembali teringat malam yang mereka habiskan bersama di apartemennya dulu.
Mungkin dia mengira pertikaian yang terjadi di antara mereka telah membuat Markus kehilangan nafsu padanya. Sialan kau, Amy, pikir Markus kesal.
Padahal sebentar lagi mereka akan sampai, tapi suasana hatinya tiba-tiba berubah menjadi buruk. Menyalahkan Amy atas suasana hatinya yang berubah buruk, Markus dengan sengaja mengucapkan sesuatu yang akan menyulut emosi istrinya.
"Apa kau sudah kehabisan pakaian? Setidaknya berpakaianlah dengan lebih pantas," tegurnya ketus. "Kita ini mau menemui keponakanku, bukannya mau pergi ke kelab malam."
Sekujur tubuh Amy tiba-tiba berubah kaku mendengarkan teguran kasar itu. Kepalanya seketika berpaling cepat menghadap Markus sambil melontarkan tatapan setajam pisau.
"Kau sudah keterlaluan, Mark!" seru Amy marah. "Tadinya aku berniat memaafkanmu atas sikapmu tadi sore, tapi ini…." Amy menunduk menatap gaun berwarna biru yang dikenakannya. "Tidak ada yang salah dengan pakaianku. Mungkin yang salah itu matamu yang kolot itu. Bisa-bisanya gaun sederhanaku ini kau anggap tidak sopan."
Markus mengibaskan tangannya ke bagian atas tubuh Amy. "Setidaknya tutuplah bagian itu. Memangnya siapa yang kau ingin perlihatkan dengan mempertontonkannya seterbuka itu?"
Mulut Amy menganga mendengarkan ucapan konyol Markus itu. Mempertontonkan? Tidak ada yang salah dengan bagian atas tubuhnya. Di sana hanya terlihat sedikit saja belahan dadanya. Lagi pula ini lebih sopan daripada pakaian yang dikenakan sekretaris suaminya, yang membuat gundukan miliknya hampir tumpah keluar dari bajunya.
__ADS_1
Berniat mengatakan itu tepat di depan wajah suaminya yang menyebalkan, Amy terpaksa menelan kembali omelannya saat sopir memberitahukan pada mereka jika mereka telah sampai di rumah Helen.
Tak mau menerima uluran tangan Markus yang terjulur padanya, Amy malah membuka pintu di sampingnya dengan gerakan kasar.
Setelah berada di luar Amy segera mengatur napasnya secara perlahan. Ini bukanlah saat baginya untuk memperlihatkan raut wajah masam di depan keluarga suaminya.
Tarik napas, Amy, lupakan sejenak emosimu. Buang pikiranmu yang ingin menghantam kepala suami berengs*kmu itu dengan tas tanganmu.
Nanti. Nanti akan ada waktunya ketika mereka hanya berdua saja, ia akan menghajar suaminya itu habis-habisan. Ia harus bisa menahan emosinya untuk beberapa jam ke depan.
"Sedang apa kau di situ?" gerutu Markus, menekuk wajahnya. "Mereka sedang menunggu kita. Ayo!"
Ingin rasanya Amy menggepak tangan Markus yang menekuk menunggunya menyelipkan tangan di sana. Berani-beraninya dia bersikap lebih marah daripada dirinya setelah apa yang telah dia perbuat padanya di mobil tadi.
Bersabarlah, Amy. Ingat, nanti kau bisa melakukan apa pun kepada suami berengs*kmu itu di saat kalian berdua saja.
Di depan pintu Helen berserta keluarganya sedang berdiri menunggu mereka di sana. Nampaknya mereka telah mendengar kedatangan mereka, makanya mereka semua berbondong-bondong menyambut mereka di depan pintu.
Barulah saat mereka mendekati pintu, Amy memperhatikan rumah kakak iparnya itu dengan saksama. Berbeda jauh dengan rumah suaminya yang bernuansa klasik dengan tampilan megah dan menawan, rumah Helen bergaya gothic modern.
Meski tak sebesar rumah suaminya, tapi rumah Helen tidak kalah mewah dari rumah suaminya. Rumah ini begitu cantik dan elegan. Sungguh menggambarkan pemilik rumahnya.
Karena terlalu terpesona dengan rumah kakak iparnya, Amy tidak sadar saat Markus melepaskan gandengannya. Matanya masih terpukau memandang keindahan yang ada di depan matanya hingga ia lupa untuk menyapa tuan rumah.
__ADS_1
"Apa ini istrimu, Paman? Kenapa dia tidak berbicara? Apa dia malu? Tapi kalau dia malu, kenapa dia bersikap sangat memalukan seperti itu?" tanya gadis kecil dalam gendongan Markus, yang langsung menyentak Amy dari ketakjubannya terhadap rumah Helen. "Apa dia sebelumnya tinggal di desa? Kalau begitu, apa yang membuatmu tertarik kepada wanita dari perdesaan, Paman Mark? Apa mereka lebih–"
Helen yang sudah tak tahan lagi dengan rentetan pertanyaan yang tak habisnya dari anak perempuannya langsung mengambilnya dari pelukan Markus sambil membekap mulutnya.
"Maaf, Amy, dia bukan bermaksud menyinggungmu. Anak ini memang senang mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh," ucap Helen tersenyum malu, kemudian berpaling menatap anaknya kesal. "Sudah berapa kali ibu katakan jaga sikapmu, Elena."
Tidak merasa takut sedikit pun dengan kemarahan ibunya, Elena berontak melepaskan diri dari pegangan ibunya, dan segera bersembunyi di belakang kaki ayahnya.
"Harus kukatakan berapa kali, Ibu, aku hanya berjanji menjaga sikapku, bukan mulutku. Itu adalah dua hal yang berbeda."
"Tidak apa, Helen, aku tidak tersinggung sedikit pun." Amy mencoba melerai pertengkaran ibu dan anak itu.
"Lihatlah, Luke, inilah akibat kau terlalu memanjakan anak ini. Baru 5 tahun saja dia sudah selancang ini, bagaimana ketika dia dewasa nanti?" Helen memutar bola matanya. "Tuhan, tolonglah aku. Semoga saja Billy-ku tidak senakal ini."
"Justru inilah sisi menggemaskan Elena, sayang," jawab Luke terkekeh, tangannya terjulur ke bawah untuk mengangkat Elena dalam gendongannya. "Lagi pula sudah sewajarnya bagi anak seumurannya mengajukan banyak pertanyaan."
"Luke benar, Helen. Kecerewetan Elena adalah pesonanya," setuju Markus, tersenyum bersekongkol pada Luke.
"Kau juga jangan ikut-ikutan memujinya," keluh Helen, melotot marah.
"Aku tidak cerewet, Paman Mark!" protes Elena bersamaan dengan keluhan Helen. "Aku cuma banyak bertanya, seperti yang Ayah katakan tadi."
Pelototan marahnya tidak memberikan dampak seperti yang diinginkannya. Mereka semua hanya tertawa mendengarkan kekesalannya, termasuk Amy.
__ADS_1
Sekarang ia tahu kenapa Markus tidak tahan mendapatkan Elena dalam pengawasannya selama seminggu. Dia anak yang akan membuat suaminya mengalami sakit kepala akut karena berbagai pertanyaan bertubi-tubi yang keluar dari mulut kecilnya itu.
Meskipun begitu dia sungguh anak yang menggemaskan. Tidak heran semua orang menyayanginya. Bahkan ia saja langsung menyukai anak itu, terlepas pertemuan pertama mereka membuat Amy sangat malu atas ucapan blak-blakkannya.