
Di ruang tamu mereka disambut suara rengekan bayi yang sedang ditimang seorang wanita paruh baya. Menyerahkannya dalam gendongan ibunya, wanita paruh baya yang merupakan seorang pengasuh di rumah itu segera meninggalkan Helen yang mulai memperkenalkan anak keduanya pada Markus dan Amy yang datang berkunjung.
Bayi laki-laki yang masih berumur satu minggu itu terlihat sangat tampan persis seperti ayahnya. Namun, rambutnya berwarna hitam pekat mewarisi warna rambut ibunya.
"Bagaimana, Paman? Billy kami sangat tampan, bukan?" tanya Elena bangga sambil membusungkan dadanya.
"Iya, Manis. Kalian berdua sungguh dua bersaudara yang sangat rupawan."
Senang atas pujian itu, Elena nyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
Mengalihkan kembali perhatiannya pada Helen, Markus mengulurkan tangannya sembari berkata, "Bisakah aku?"
Dengan hati-hati Helen menyerahkan bayi laki-lakinya dalam gendongan Markus. Saat merasa posisi bayinya pas dalam gendongan lengannya, Markus menimang-nimang keponakannya seraya bergumam lembut padanya.
"Dia sungguh menggemaskan, Helen," ucap Markus, dia tak mampu mengalihkan pandangan dari bayi laki-laki yang berada dalam gendongannya.
Dan saat Billy menggengam satu jarinya dengan erat, sorot mata Markus berubah takjub bercampur rasa sayang serta… kerinduan? Amy tak tahu pasti karena terlihat sepintas saja, yang mungkin saja hanya khayalannya belaka.
Akan tetapi melihat pemandangan Markus menggendong seorang bayi tak lantas membuat Amy membayangkan jika yang ada dalam gendongan suaminya itu adalah anak mereka berdua.
Mungkinkah jika ia mengandung, Markus akan kembali seperti dirinya dulu? Apakah kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka akan memperbaiki hubungan mereka yang telah memburuk?
Itu mungkin saja jika dilihat dari sikap Markus yang sangat menyayangi anak-anak saudarinya. Jadi tentunya memiliki darah dagingnya sendiri akan meluluhkan hati suaminya yang kini sedingin es itu.
Seolah bisa mendengarkan isi pikirannya, Helen tersenyum penuh arti padanya dengan pandangan mata terarah ke perutnya.
Tak mampu menutupi reaksinya atas tatapan penuh arti itu, pipi Amy bersemu merah.
"Oh ya, Paman, kapan kau akan memberikan aku sepupu yang tampan dan cantik?" tanya Elena dengan polosnya.
Pertanyaan tiba-tiba itu langsung saja mengubah sikap tubuh Markus yang awalnya santai menjadi tegang. Dengan perlahan diserahkannya Billy dalam pelukan Helen kembali.
Luke menepukan kedua tangannya. "Nah, nah, sudah waktunya kita ke ruang makan," ucapnya riang, memecah keheningan menegangkan itu. "Ayo, Manis, kita isi perutmu yang sejak tadi berbunyi itu."
"Tapi, Ayah, aku belum lapar," protes Elena saat Luke memaksanya menuju ke arah ruang makan. "Lagi pula Paman Mark belum menjawab pertanyaanku."
Entah apa yang dibisikkannya kepada anak perempuannya, Elena tiba-tiba saja menghentikan protesnya lalu meloncat-loncat kegirangan menuju ruang makan. Pastilah itu sesuatu yang sangat menyenangkan, pikir Amy.
**
__ADS_1
Syukurlah makan malam itu berjalan dengan lancar tanpa ada lagi pertanyaan mengenai sepupu yang keluar dari mulut Elena. Sang bayi juga telah diserahkan kembali pada pengasuhnya di lantai atas sebelum Helen bergabung bersama mereka di meja makan itu.
Usai makan malam selesai, Elena langsung mengucapkan salam perpisahan pada mereka, kemudian melesat pergi ke lantai atas dengan kecepatan yang sungguh mengagumkan untuk seorang anak kecil.
"Ya ampun, Elena! Kau bisa mematahkan lehermu jika berlari secepat itu," teriak Helen, berdiri tegak memandang kepergian anak perempuannya dengan tatapan ngeri. "Sebenarnya apa yang sudah kau katakan tadi sampai kakinya terlihat melayang dari permukaan begitu?"
Helen melontarkan tatapan menuduh pada suaminya. Luke hanya tertawa melihat sikap dramatis istrinya.
"Tidak ada yang spesial, Sayang, hanya mainan baru."
"Yang benar saja. Elena dan mainan barunya," gerutu Helen, duduk kembali di tempat duduknya sembari menenggak habis air minumnya.
"Yah, kau tahu sendiri 'kan anak seumuran Elena memang gemar mengoleksi mainan," sahut Markus, bersandar santai di kursinya. "Jadi tidak heran dia kegirangan saat mengetahui ada mainan baru untuknya."
"Tapi mainan baru itu memang ada 'kan, Luke? Kau tidak mengada-ngadanya hanya untuk membungkamnya saja, 'kan?" tanya Amy khawatir.
"Tentu saja ada. Aku tidak akan berani membuat mainan khayalan untuk Elena, itu sama saja aku mencari masalah namanya," jawab Luke, bergidik ngeri. "Sebenarnya mainan itu niatnya ingin kuberikan sebagai hadiah ulang tahun untuk anak rekan kerjaku yang sebentar lagi berulang tahun, tapi biarlah aku bisa membelinya lagi nanti."
Pembicaraan itu pun berlanjut membahas berbagai perilaku Elena yang tiap harinya selalu membuat sakit kepala karena kerewelannya, tapi juga mengisi rumah itu dengan tawa dan kebahagiaan.
Sampai akhirnya percakapan mereka beralih ke arah yang mengubah suasana riang di ruang makan itu berubah menjadi suram.
"Omong-omong, Mark, tega sekali kau tidak memberitahu ibu perihal kabar pernikahanmu padanya," ujar Helen, melirik Markus hati-hati dari balik bulu matanya. "Beliau sangat terkejut mengetahui berita itu dariku. Yang kembali mengingatkanku–"
Suara hentakan itu sontak saja membuat Amy berjengit di tempat duduknya. Lain halnya dengan Helen dan Luke, mereka tetap duduk tenang di kursi mereka, seolah sudah terbiasa dengan amukan Markus barusan.
"Aku tidak ingin mendengar apa pun mengenai wanita itu!"
"Tapi, Mark–" protes Helen.
"Cukup, Helen!" geram Markus, melotot marah pada kakaknya. "Kau tahu apa yang baik untukmu."
Menganggap itu sebagai tantangan, dagu Helen terangkat dengan angkuh menengadah adiknya.
"Baik bagaimana maksudmu? Kalau kau pikir aku akan menciut ke–"
Kali ini giliran Luke yang menghentikan Helen meneruskan ucapannya, tangannya terulur menyentuh siku istrinya, meminta dalam diam agar Helen berhenti memprovokasi Markus lebih jauh lagi.
Awalnya Helen hendak memarahi suaminya juga karena dia lebih memilih memihak Markus daripada dirinya, tapi saat dia melihat tatapan cemas Amy yang gelisah menyaksikan pertikaiannya dengan Markus, akhirnya dia memutuskan untuk mengalah, dan meredakan emosinya dengan menuang air dingin ke dalam gelasnya lalu menenggak habis minuman itu.
__ADS_1
"Lebih baik kita keluar, Mark," ajak Luke, merangkul bahu Markus. "Lagi pula ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
Selama sesaat Markus ragu meninggalkan Amy berdua saja dengan Helen di ruang makan itu. Akan tetapi, Luke sekuat tenaga menyeret tubuhnya agar beranjak dari sana, jadi sebelum pergi lebih jauh dia melemparkan tatapan memperingatkan pada Helen, menyampaikan melalui tatapan matanya supaya Helen tidak mengatakan sesuatu yang aneh pada Amy.
Mendapatkan tatapan memperingatkan itu Helen hanya mendengus dengan raut wajah masam.
"Dia pikir peringatannya itu akan membuatku tutup mulut," gumam Helen menggerutu.
Dalam sekejap ekspresi jengkel itu hilang dari wajah Helen digantikan senyum ramah yang bersahabat saat menatap Amy yang duduk di seberangnya.
Beranjak bangun dari tempat duduknya, Helen mengajak Amy ikut bersamanya ke ruang bersantai yang berhadapan dengan kolam renang. Duduk berdampingan mereka menikmati segelas limun dingin seraya menghangatkan diri dekat perapian.
"Maukah kau menceritakan kepadaku soal ibu kalian, Helen," mulai Amy, membalikkan badan menghadap Helen. "Kulihat Markus memiliki hubungan yang sangat buruk dengan ibunya."
"Apa kau tidak pernah mencoba menanyakan soal itu kepada Markus?" tanya Helen datar, wajahnya tetap lurus menghadap pemandangan di luar.
"Aku sudah mencobanya, dan dia menghindari pertanyaanku itu segesit dia menghindariku sekarang," jawab Amy muram.
"Ceritanya panjang, Amy."
"Ceritakan saja selama yang kau bisa. Kita tidak tahu kapan kedua suami kita itu kembali dari obrolan mereka di luar."
Menghela napas, akhirnya Helen membalikkan badan menghadapnya.
"Ini rumit, tapi singkat kata Markus tidak pernah merasakan ikatan antara ibu dan anak pada ibu kami Elisabeth."
"Jelaskan padaku."
Sorot mata Helen seketika menerawang, seakan-akan sedang mengingat kembali kejadian berpuluh-puluh tahun lalu itu.
"Saat itu Mark masih berusia 5 tahun saat ibuku memutuskan kabur bersama guru musik kami."
Satu lagi daftar wanita yang telah menyakiti Markus dalam hidupnya.
"Itu gila!" celetuk Amy spontan.
Tidak tersinggung oleh ucapannya, Helen hanya tersenyum sedih menatapnya.
"Itu memang gila, tapi bukan itu yang menyebabkan Markus sangat membenci ibu kami, Amy," jelas Helen. "Markus baru tahu itu belakangan."
__ADS_1
"Kalau bukan itu, lalu apa?" tanya Amy mulai kebingungan. "Apa ada hal yang lebih buruk lagi daripada perselingkuhan ibu kalian?"
"Oh, tentu saja ada," jawab Helen getir. "Dia memperkenalkan kekasih barunya pada Mark, dan dengan tidak tahu malunya meminta Mark memanggil pria itu dengan sebutan 'Ayah'."