I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Undangan


__ADS_3

Masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi malam, Markus keluar kamarnya dengan penampilan yang acak-acakkan, semua itu karena ulah Amy yang telah melakukan sesuatu yang sudah membuatnya naik pitam.


Bagaimana tidak, saat terbangun dari tidurnya ia sangat terkejut ketika menengok jam tangannya, di sana menunjukkan waktu sudah hampir sore. Sungguh gila! Bagaimana mungkin tidak ada seorang pun di rumah ini yang berinisiatif untuk membangunkannya.


Akan tetapi itu bukanlah alasannya berteriak-teriak di rumahnya seperti orang gila dengan badan berbau alkohol, keberadaan ponselnya yang tidak ada di mana punlah yang membuatnya berkeliaran dalam rumahnya mencari keberadaan istri pembohongnya.


Tidak ada orang lain yang akan berani mengambil ponselnya itu selain Amy istri menyebalkannya itu. Berani sekali dia mengambil ponsel miliknya tanpa seizinnya.


"Mana Nona kalian, kenapa dia tidak ada di mana pun?" bentak Markus pada para pelayan yang gemetar ketakutan menghadapi kemurkaannya. "Jawab aku, sialan kalian!"


Seorang pelayan yang terlihat masih sangat muda yang baru pertama kali dilihatnya tiba-tiba menangis histeris saat ia berjalan mendekatinya, dia bersikap seakan-akan Markus akan memukulnya, alih-alih meminta jawaban sederhana mengenai keberadaan istrinya.


"Hentikan tangisan cengengmu itu, gadis bodoh!" hardik Molly, juru masak yang telah bekerja di rumahnya hampir 40 tahun lamanya. "Tuan Xander sedang bertanya padamu."


Bukannya menghentikan tangisannya, pelayan muda itu malah semakin kencang saja tangisannya saat dia berlari pergi ke arah dapur. Molly yang melihat kelakuan kurang ajarnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Tuan Xander, gadis itu baru sebentar bekerja di sini," ucap Molly menjelaskan, kepalanya tertunduk malu. "Ini salahku, seharusnya aku mengajari anak itu lebih keras lagi supaya dia tidak bersikap kurang ajar seperti itu kepada Anda, tapi mengingat sifat gampang histeris anak–"


Markus mengibaskan tangannya menghentikan juru masaknya itu menyampaikan keluh kesahnya tentang pelayan baru itu lebih banyak lagi, ia sekarang tidak punya waktu untuk mengurusi masalah kedispilinan para pelayan di rumah ini. Yang ingin didengarnya sekarang adalah di mana istrinya berada sekarang.


"Lakukan saja apa yang menurutmu baik," sahut Markus acuh. "Di mana istriku, Molly? Apa dia sedang keluar? Aku tidak melihatnya di mana pun."


"Aku di sini, sayang," teriak Amy dari arah pintu belakang.


"Sialan kau, Amy, dari mana sa–"


Markus langsung menghentikan omelannya saat melihat kakak perempuannya Helen muncul dari belakang Amy sambil melambaikan tangannya dengan ceria.

__ADS_1


Sederet kata umpatan seketika meluncur keluar dari mulutnya yang membuat sebelah alis Molly naik mendengarnya. Dan sebelum pergi juru masaknya yang sudah tua itu dengan beraninya melemparkan senyuman mengejek padanya.


"Sungguh pertunjukkan yang sangat menghibur di hari cerah yang sangat menyegarkan ini, adikku sayang," ejek Helen padanya. "Sudah lama sekali aku tidak melihatmu mengamuk seperti tadi. Ternyata aku telah memilih waktu yang tepat untuk datang kemari."


"Kenapa kau ada di sini? Seharusnya kau masih berada di ranjangmu."


"Ayolah, Willy," Helen selalu saja sengaja memanggilnya dengan nama baptisnya itu untuk memancing amarahnya karena dia tahu dengan baik betapa Markus sangat membenci nama baptisnya itu. "Memangnya kau pikir aku wanita lemah sehingga perlu waktu lama untuk pulih."


"Setidaknya itu akan membuat suami tercintamu senang," balas Markus, tersenyum mengejek.


"Jangan bahas suami posesifku itu di depanku, dia benar-benar membuatku kesal," gerutu Helen mencebik. "Aku sungguh muak dengan sikap berlebihannya. Padahal 'kan ini bukan pertama kalinya aku melahirkan, tapi tetap saja dia ingin aku beristirahat lebih lama lagi di dalam kamar menyesakkan itu."


Berkebalikan dengan gerutuannya, Markus menangkap nada sayang dalam suara kakak perempuannya. Helen tidak bisa menutupi betapa dia sangat mencintai suaminya itu.


Jika bukan karena Luke, mungkin sekarang Helen akan tetap menjalani hidup sembrono seperti yang dijalaninya dulu. Sungguh ajaib cinta bisa membuat perubahan besar pada hidup seseorang.


Namun nyatanya ia salah besar. Justru kehancuranlah yang menghampirinya. Lalu matanya bertemu pandang dengan Amy yang memandangnya dengan tatapan yang sangat misterius seolah ada yang sedang direncanakannya. Perasaan waspada sontak saja meliputinya.


"Hari sudah hampir sore, kenapa kau tidak sekalian  saja makan malam di sini, Helen," saran Amy. "Kau bisa menghubungi suami dan anak-anakmu supaya mereka makan malam juga di sini."


"Ya ampun!" seru Helen, matanya terbelalak seolah teringat sesuatu yang telah dilupakannya. "Maaf, sayang, Billy-ku pasti sedang mencari-cariku sekarang. Mengobrol denganmu telah membuatku lupa waktu."


Kemudian Helen berbalik menghadapnya dengan berkacak pinggang. "Dan kau Mark, sebaiknya kau bersihkan dirimu, kau terlihat sangat mengerikan. Malam ini aku mengundangmu dan Amy makan malam di rumahku."


Mengangkat sebelah tangannya, Helen menghentikan Markus menolak undangannya.


"Kalau kau ingat kau belum sekali pun menengok keponakan barumu sekembalinya kau kemari. Jadi, malam ini harus datang bersama Amy. Aku tidak menerima alasan apa pun darimu. Lagi pula Elena sudah sangat merindukanmu."

__ADS_1


Mengucapkan salam perpisahan, Helen dengan terburu-buru bergegas pergi, tapi sebelum keluar pintu dia berbalik menghadapnya, dan berteriak, "Kau harus datang, Willy, jika tidak aku akan menyuruh Elena untuk tinggal bersamamu selama seminggu."


Sungguh peringatan yang sangat menakutkan. Meskipun Markus sangat menyayangi keponakannya itu, ia tidak akan sanggup tinggal bersama keponakannya itu lebih dari sehari.


Kepalanya akan pecah menghadapi rentetan pertanyaan yang tak ada habisnya keluar dari mulut kecil itu.


"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu mereka."


Ucapan Amy langsung saja menyadarkan Markus dari lamunannya, ekspresi wajahnya berubah menjadi garang saat berbalik menghadap istrinya.


Dengan tangan terulur, Markus mendesak, "Kembalikan handphoneku! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan dengan mengambilnya dariku?"


"Supaya kau tidur tenang, mungkin," jawab Amy ketus. Merogoh ke dalam kantong celananya, dia menghentakkan ponsel miliknya dalam telapak tangannya. "Dan omong-omong sekretaris kurang ajarmu tadi datang kemari, yang tentu saja langsung aku usir dengan tidak hormat."


"Apa yang memberimu hak melakukan hal itu kepada sekretarisku?" tanya Markus menggertakkan giginya. "Dia pasti ingin membahas masalah penting denganku."


"Apa pekerjaanmu begitu penting daripada istrimu sendiri? Asal kau tahu saja, setiap kali wanita berbisa itu membuka mulutnya dia selalu saja mengatakan hal-hal buruk mengenaiku," Amy mengangkat dagunya, matanya menyala penuh amarah. "Sebenarnya apa yang sudah kau ceritakan tentang diriku pada sekretaris kurang ajarmu itu sampai dia bersikap tidak hormat begitu padaku."


"Tidak ada yang perlu diceritakan, mungkin dia bisa melihat sendiri betapa busuknya dirimu."


Usai mengucapkan kalimat itu, Markus langsung menyesalinya. Tidak seharusnya ia berkata begitu kepada Amy, tapi tuduhan istrinya telah menyulut emosinya.


Memangnya untuk apa ia menceritakan tentang Amy kepada sekretarisnya. Ia tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu. Dan sepertinya ia perlu berbicara dengan Madelyne perihal kelakuan kurang ajarnya terhadap istrinya. Dia tidak punya hak berlaku tak pantas seperti itu pada istri atasannya.


Meski menyesal, Markus tidak bisa menarik kembali ucapannya barusan, jadi ia dengan sengaja mengabaikan sorot terluka yang terpancar di mata Amy.


"Aku harap kau tidak akan pernah lagi melakukan ini." Ia menggoyang-goyangkan ponselnya di depan wajah istrinya. "Kalau begitu, sampai ketemu nanti malam."

__ADS_1


__ADS_2