
Sepanjang malam Amy mengurung dirinya di dalam kamar, ia terlalu malu untuk menemui para pelayan yang ada di luar sana. Pastinya gosip mengenai dirinya yang menyedihkan sudah tersebar luas di antara para pelayan.
Alih-alih memarahi para pelayan yang sudah menggosipinya di belakangnya, ia malah bersembunyi di kamarnya seperti seorang pengecut. Aksi pengecutnya ini juga sekaligus mengakui kalau hubungannya dengan Markus memang sedang bermasalah.
Biarkan saja mereka menganggapnya menyedihkan, ia sudah tidak peduli lagi. Bukankah itu yang diinginkan Markus dengan meninggalkannya seorang diri di sini agar para pelayan di rumah ini mencemooh dirinya sebagai pengantin wanita yang diabaikan suaminya sehari setelah pernikahan mereka.
Amy akui Markus telah berhasil membalaskan dendam kepadanya dengan mempermalukannya seperti ini. Jika ini baru permulaannya saja, ia tak tahu apakah masih sanggup untuk menghadapi yang berikutnya.
Walaupun begitu ia akan tetap menerimanya karena ia memang pantas mendapatkan penghinaan ini. Sebab yang ia lakukan kepada Markus lebih buruk dari apa yang ia alami sekarang.
Suara ketukan pintu kembali terdengar lagi dari luar, itu sudah yang ketiga kalinya. Yang pertama, Meggie memintanya turun ke bawah untuk makan malam, yang tidak digubrisnya sama sekali. Kedua kalinya Meggie mengetuk, dia memberitahukan jika makan malam dia letakkan di meja dekat pintu kamarnya.
Merasa bersalah sudah membuat kepala pelayannya yang baik hati itu bolak-balik ke kamarnya, Amy berniat membukakan pintu supaya dia berhenti mengkhawatirkannya, akan tetapi nada dering ponselnya tiba-tiba saja bergetar di atas meja, mengambil ponselnya ia sangat lega, yang kemudian langsung berubah menjadi amarah ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Akhirnya sang suami yang telah hilang kabar selama tiga hari lamanya kini mulai menampakkan dirinya.
Dengan nada bersungut-sungut ia mengangkat telepon dari suaminya. “Dari mana saja kau! Apa kau tidak tahu aku sudah menunggu telepon darimu selama berhari-hari. Kalau begini caramu mencoba membalas perbuatanku, aku akui kau sudah berhasil, tapi setidaknya kita harus berbicara empat mata, bukannya saling menjauhkan diri seperti ini.”
Menarik napas sejenak, Amy menunggu Markus menanggapi omelan panjang lebarnya barusan. Tentunya suaminya tidak akan tinggal diam saja setelah dia mendengarkan luapan emosinya tadi. Namun yang didengarnya malah lebih mengejutkannya.
“Maaf, Amy, aku Luke, kakak ipar Markus, kalau kau ingat kita pernah bertemu di pernikahanmu beberapa hari lalu.”
“Oh, Luke Dryden?” Hanya itu yang bisa dikatakannya setelah tahu ia ternyata sedang berbicara dengan kakak ipar suaminya.
Belum hilang rasa malunya terhadap para pelayan di rumahnya, sekarang ia malah menambahnya dengan mempermalukan dirinya kepada kakak ipar suaminya. Ia tidak yakin bisa menghadapi kakak ipar suaminya lagi tanpa mengingat kejadian memalukan ini.
__ADS_1
Tapi tunggu dulu, ini bukanlah saatnya untuk merasa malu, yang harus dipertanyakannya sekarang kenapa yang berbicara di ponsel suaminya malah Luke? Apa hal buruk sudah terjadi kepada Markus, dan karena itukah Luke menghubunginya dengan ponsel suaminya.
Dalam sekejap ingatan akan kecelakaan tragis yang menimpa Sophie terlintas dalam benaknya. Dengan nada suara gemetar ia menyuruakan ketakutannya kepada Luke.
“Apa… sesuatu sudah terjadi kepada suamiku?”
Luke yang menyadari ada nada kekhawatiran dalam suara Amy sadar bahwa dia sudah membuat istri adik iparnya salah paham. Pasti istri adik iparnya itu mengira Markus sedang mengalami kecelakaan.
Sebenarnya apa yang terjadi kepada Markus hampir menyerupai itu, tapi dalam artian yang berbeda, yang kembali mengingatkan Luke niatnya menelepon Amy menggunakan ponsel Markus.
“Bukan hal buruk seperti yang kau pikirkan,” terdengar ******* napas lega dari ponselnya, “tapi hal ini tetap saja membutuhkan perhatianmu sekarang juga.“
Seperkian detik berlalu, sebelum Luke melanjutkan penjelasannya dengan nada ragu-ragu. “Aku tahu seharusnya aku tidak turut campur dalam urusan rumah tangga kalian berdua, tapi mengingat Helen akan memukulku jika tahu aku diam saja setelah melihat ini, aku….” Terdengar beberapa patah kata umpatan lalu Luke kembali melanjutkan perkataannya, “Jadi begini Amy, sebaiknya kau kemari dan membawa suamimu pulang sebelum dia melakukan hal bodoh yang akan melukai kalian berdua.”
Setelah menyampaikan hal ambigu itu, Luke mengirimkan pesan alamat tempat Amy akan pergi menjemput suaminya. Bergegas mengambil mantel dan tasnya, Amy hampir saja menubruk Meggie yang sedang bersiap mengetuk pintu kamarnya lagi.
Sama seperti sebelumnya Meggie langsung menjalankan perintahnya tanpa banyak bertanya dan memanggilkan seorang sopir untuk mengantarkannya.
Meskipun ia lebih suka mengendarai mobil itu sendiri, tapi apa yang bisa dilakukannya jika Markus sudah berpesan kepada kepala pelayannya agar Amy selalu ditemani sopirnya ke mana pun ia pergi.
Mungkin suaminya takut kalau ia sewaktu-waktu akan mencoba kabur menggunakan salah satu mobilnya.
Sesampainya di tempat tujuannya, Amy sekarang tahu apa maksud ucapan ambigu Luke kepadanya di telepon beberapa waktu lalu. Ternyata tempatnya harus menjemput suaminya adalah sebuah kelab malam.
Sekarang ia tahu ke mana selama ini suaminya bersembunyi. Dia ternyata sibuk bersenang-senang di luar sana bersama banyak perempuan yang entah ada berapa banyak jumlahnya.
__ADS_1
Sialan kau, Mark. Haruskah kau membalasku dengan cara mengkhianatiku seperti ini.
Di depan pintu masuk kelab, Luke sedang berdiri menunggunya di sana.
“Akhirnya kau tiba juga,” lega Luke menyambut kedatangannya. “Dia ada di dalam sana bersama sekretarisnya. Kalau begitu sampai bertemu lagi, Amy.”
Usai mengucapkan kalimat perpisahan itu, Luke bergegas meninggalkannya seorang diri di depan pintu masuk kelab.. Nampak sekali dia tidak ingin terlibat dalam pertikaian yang sebentar lagi akan terjadi.
Tidak butuh lama bagi Amy untuk menemukan suaminya. Sesaat masuk ke dalam kelab itu ia berpapasan dengan seorang wanita yang sedang bersusah payah membopong pasangannya yang sedang dalam keadaan mabuk berat. Yang tentunya pasangan wanita itu adalah suaminya Markus.
Apa wanita berpakaian terbuka ini yang dimaksud Luke sebagai sekretaris suaminya. Dilihat dari caranya yang dengan sengaja membuka dua kancing kemejanya untuk memperlihatkan gundukan yang ada di sana sambil sekali-kali menyenggolkan bagian itu ke wajah suaminya pastilah dia bermaksud menggoda suaminya yang sedang mabuk.
“Berikan dia padaku.” Amy menarik kasar Markus dari rangkulan wanita genit itu.
Tidak senang mangsanya direnggut, wanita genit itu mengernyit memandangi Amy.
“Memangnya kau siapa?” tanyanya kesal.
“Istrinya. Dan kau pastilah sekretaris suamiku,” jawab Amy seraya melemparkan tatapan cemooh pada penampilannya. “Aku tidak tahu kalau seorang sekretaris juga bertugas menemani atasannya ke kelab malam.”
Bukannya merasa malu mendengarkan sindiran itu, wanita genit itu malah tertawa.
“Oh, jadi kau Amy, aku sudah banyak mendengar tentang dirimu dari Mark,” ujarnya dengan tatapan ‘aku tahu segalanya’ itu. “Kau seharusnya duduk manis menunggu di rumah saja layaknya Nona Muda, sayang, biarkan aku yang mengurus Mark.”
Sungguh lancang sekali mulut wanita ini.
__ADS_1
“Tugasmu adalah membantu pekerjaan suamiku, bukan mengurus urusan pribadinya,” balas Amy, menggertakkan giginya. “Karena usai bekerja Mark akan menjadi urusanku, sebab aku istrinya. Aku harap kau tidak lupa lagi dengan posisimu itu, Nona Sekretaris.”
Puas dengan ekspresi terperangah yang terpampang di wajah sekretaris genit suaminya itu, Amy langsung keluar membawa suaminya pergi dari cengkeraman wanita berbisa itu.