
Samuel berupaya memahami apa yang baru saja disampaikan Amy padanya. "Membutuhkanku bagaimana maksudmu?"
"Sophie membutuhkanmu untuk bersamanya," jawab Amy singkat.
"Jelaskan padaku lebih rinci agar aku bisa memahaminya, Amy, kau membuatku bingung," ujar Sam mengerutkan dahinya. "Aku sungguh tak mengerti, bukankah Sophie tidak ingin melihatku, jadi bagaimana mungkin dia membutuhkanku sekarang. Itu tak masuk akal."
Mengepalkan kedua tangannya, Amy menguatkan dirinya menyampaikan sesuatu, yang pastinya akan menimbulkan keberatan dari Samuel.
"Seperti yang kau tahu Sophie mencintaimu. Dan situasi yang dialaminya sekarang sangatlah berat baginya untuk melewatinya seorang diri. Sophie membutuhkanmu di sisinya, Sam, dia–"
"Tunggu, tunggu," potong Samuel menghentikan Amy melanjutkan ucapannya. "Sepertinya aku tidak akan menyukai arah pembicaraan ini, firasatku mengatakan kau akan meminta sesuatu yang tidak akan kusukai sama sekali."
"Ya, yang kau pikirkan sekarang ini memang benar," ucap Amy gamblang. "Aku memintamu mengatakan kepada Sophie bahwa apa yang kau katakan di hari kecelakaannya hari itu hanyalah bohong belaka. Katakan padanya kalau kau mengatakan itu karena takut…." Amy memaksakan dirinya mengatakan kalimat mengerikan itu dari tenggorokannya. "Karena kau takut kehilangannya, kalau kau juga mencintainya."
"Apa kau gila!" teriak Samuel lantang.
"Astaga, turunkan nada suaramu!" desis Amy, melongok mengintip ke dalam kamar Sophie, takut adiknya itu akan mendengarkan pembicaraannya dengan Samuel di depan pintu kamarnya.
Merasa aman Sophie tetap tertidur lelap di ranjangnya, Amy melotot marah pada Samuel yang juga sama marahnya dengan dirinya.
"Bagaimana jika Sophie mendengarkan percakapan kita. Apa yang akan dia pikirkan."
"Aku tidak peduli apa yang akan Sophie pikirkan, sekarang ini kau–"
Dengan gerakan cepat Amy menarik keras tangan Samuel agar menjauh dari pintu kamar adiknya. Jika mereka ingin membahas hal ini tanpa sepengetahuan Sophie, lebih baik mereka berada sejauh mungkin dari kamar tidur adiknya.
Sesampainya di taman belakang rumah sakit, Amy langsung melepaskan tangan Samuel dari genggamannya. Setidaknya di sini tidak ada yang akan menggangu mereka berdua.
"Kau gila Amy kalau kau pikir aku akan menuruti permintaan konyolmu ini. Itu sama saja kau memintaku untuk menerima perasaan adikmu, yang artinya kau ingin aku menjalin hubungan dengan kalian berdua sekaligus," cerca Samuel sesaat Amy membalikkan badan menghadapnya. "Itu gila, Amy!"
"Aku tidak berkata begitu!" elak Amy keras. "Aku… aku akan merelakanmu untuk Sophie."
Ternganga mendengarkan pengakuan itu, Samuel memberikannya tatapan seolah dia tidak mengenal wanita yang saat ini sedang berdiri menghadapnya.
Melangkah mendekat, Amy menyentuh pelan lengan kekasihnya itu. "Kumohon, Sam, sekarang ini Sophie lebih membutuhkanmu. Hanya kau satu-satunya yang bisa merubah pikirannya saat ini."
Menepis kasar tangan Amy dari lengannya, Samuel perlahan melangkah mundur darinya.
"Apa itu berarti kau sudah tidak membutuhkanku lagi?"
Sebuah tawa dengan suara yang tidak memiliki nada humor di dalamnya keluar dari mulut Samuel.
"Aku ini bukan mainan, Amy, yang bisa begitu saja kau buang setelah kau tidak membutuhkannya lagi," ucap Samuel pahit. "Serendah itukah aku di matamu sehingga kau dengan gampangnya melemparkanku kepada adikmu? Apa sekarang kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Tentu saja aku masih mencintaimu!" balas Amy cepat. "Tapi–"
"Kalau begitu, beres. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," sela Samuel tegas. "Sebaiknya kau pulang saja, saat ini yang kau perlukan adalah istirahat yang cukup. Kau belum mendapatkan istirahat yang cukup setelah kecelakaan Sophie terjadi. Tidak perlu mengkhawatirkan Sophie, aku akan menjaganya untukmu."
Menghentak lepas rangkulan Samuel darinya, Amy menjaga jarak dari kekasihnya agar sekiranya Samuel tidak bisa menjangkaunya.
"Aku serius, Sam, dengan apa yang kukatakan barusan."
"Aku juga serius, Amy," balas Samuel sengit..
Sadar kemarahan maupun permohonan putus asanya tidak akan mendapatkan hasil apa pun, Amy mengubah taktiknya. Mungkin ia akan terdengar sangat jahat, tapi apalah daya ini cara terakhir yang dimilikinya.
Sebenarnya ia tidak ingin menggunakan cara ini, tetapi melihat kekeraskepalaan Samuel yang tetap teguh dengan pendiriannya, ia terpaksa melakukan ini.
Amy sudah benar-benar putus asa menolong adiknya. Jika ini juga gagal, ia tidak tahu harus menggunakan cara apa lagi untuk membujuk Samuel melakukan apa yang diinginkannya.
"Sam, aku tahu permintaanku ini terdengar gila, tapi cuma ini yang terpikirkan olehku demi membantu Sophie menemukan semangatnya lagi."
__ADS_1
"Itu menurutmu. Pastinya ada cara lain selain ini jika kau merenungkannya baik-baik," gerutu Samuel pelan.
Mengabaikan gerutuan itu, Amy tetap saja mengutarakan sesuatu yang akan menyakiti Samuel.
"Seperti yang kau katakan sebelumnya, andai saja kau mengejar Sophie hari itu mungkin hal buruk ini tidak akan menimpanya. Kau masih bersalah 'kan padanya? Jadi lakukanlah ini demi menebus rasa bersalahmu, kalau permintaanku ini terlalu berlebihan bagimu."
Samuel benar-benar tak mempercayai pendengarannya, dia tak percaya kalau wanita yang sangat dicintainya baru saja mengucapkan kalimat menyakitkan itu terhadapnya dengan santai.
Bergeming kaku di tempatnya, Amy menahan dirinya ketika melihat sorot mata terluka di mata Samuel saat menatapnya dengan perasaan sakit hati.
Usai memulihkan dirinya dari rasa syok atas sikap kejam Amy padanya, Samuel perlahan berjalan mendekati Amy sampai hanya satu jengkal telapak tangan saja yang memisahkan mereka berdua.
"Baiklah," ucap Samuel menggertakkan giginya.
Amy tersentak kaget oleh perkataan Samuel yang langsung mengabulkan permintaannya itu tanpa perlawanan. Ia benar-benar tak menduganya.
Sekarang ia sudah mendapatkan keinginannya, tapi kenapa tiba-tiba saja ia merasa sulit bernapas. Bahkan hatinya terasa teremas-remas di dalam dadanya.
"Tapi aku akan bersama Sophie sampai dia sembuh, setelah itu kita akan bicra lagi mengenai kelanjutan hubungan kita berdua," lanjut Samuel, melontarkan tatapan tidak ingin dibantah.
"Sam, kau tidak bisa melakukan itu," seru Amy tak setuju.
"Ya, aku bisa melakukannya," balas Samuel keras kepala. "Kau tidak bisa mendapatkan semua keinginanmu, Amy. Kau harus terima tawaranku ini."
"Aku tidak menawarkan apa-apa padamu!" jerit Amy frustasi.
Lalu mereka berdua pun saling beradu tatap dengan sengit, tanpa mereka sadari seseorang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Sepertinya aku sudah mengganggu kalian," ujar seseorang di belakang Amy tanpa ada nada tidak bersalah sedikit pun di suaranya.
Berbalik badan, Amy sangat terkejut saat tahu siapa yang sudah mengganggu pembicaraannya dengan Samuel yang masih belum tuntas.
Di sana dengan postur berdiri santai dengan kedua tangan berada dalam kantong celananya, Markus melambaikan tangan padanya.
"Sekarang aku akan pergi menemui Sophie untuk melakukan permintaan egoismu," bisik Samuel tajam di telinganya. "Kau di sini saja meladeni bosmu itu."
Secepat kilat Amy menarik pergelangan tangan Samuel saat dia melewatinya. "Kita belum selesai, Sam. Nanti kita akan bicara lagi."
"Kau belum, tapi aku sudah," balas Samuel ketus, menyentak lepas tangannya.
Bimbang antara mengejar Samuel yang akan menemui Sophie atau meladeni atasannya, Amy akhirnya memutuskan untuk meladeni Markus saja. Setidaknya itu yang harus dilakukannya supaya kecurigaan atasannya itu tidak semakin bertambah.
Bagaimanapun juga tidak boleh ada yang mengetahui hubungannya dengan Samuel, terutama atasannya itu.
"Aku pikir kau akan lebih memilih mengejarnya daripada di sini bersamaku," ucap Markus seraya menelengkan kepalanya menunjukkan kepergian Samuel yang sekarang sudah berjalan jauh. "Aku rasa kalian punya sesuatu yang harus kalian selesaikan di antara kalian berdua."
"Tidak ada yang harus kami selesaikan. Kami tadi hanya berdebat kecil, tapi itu akan terlupakan dengan sendirinya," elak Amy acuh tak acuh.
"Ucapanmu itu berbanding terbalik dengan apa yang terlihat di wajahmu. Kau terlihat seperti baru saja kehilangan pujaan hatimu."
Secara refleks Amy menyentuh wajahnya panik. "Omong kosong! Aku tidak terlihat begitu. Kami tidak lebih dari sahabat kecil yang sudah bertetangga lama."
"Ah, begitu, kalian sahabat, begitu ya."
"Jangan menatapku seperti itu, Mark! Aku berkata yang sejujurnya."
"Memangnya siapa yang berkata kalau kau berbohong?" tanya Markus tersenyum meledek padanya.
Mengabaikan sindiran itu, Amy beupaya mengalihkan pembicaraan ke sesuatu yang lebih aman.
"Omong-omong, kenapa kau ada di sini? Saat tidak melihatmu sepanjang siang tadi, aku pikir kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu, makanya kau membatalkan niatmu untuk berkunjung."
__ADS_1
Selama sesaat Markus hanya menatapnya penuh pertimbangan, seakan-seakan sedang mempertimbangkan apakah harus melanjutkan pembicaraan mereka mengenai hubungan Amy dan Samuel. Atau mengikuti kemauan Amy agar mengalihkan pembicaraan ke hal lain Untunglah, Markus memilih yang kedua.
"Aku memang sibuk, makanya terlambat datang kemari. Lalu saat tahu kau tidak ada di kamar adikmu, aku berkeliling mencarimu, sekarang seperti yang kau lihat di sinilah aku," jelas Markus mengendikkan bahunya. "Dan aku juga sudah mendengar kabar baik itu dari Dokter Peter. Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar."
"Ini semua berkatmu, Mark. Jika bukan karena kau, kami mungkin masih berkubang dalam keputusasaan," ucap Sophie penuh rasa syukur. "Seharusnya kau tidak perlu memaksakan dirimu kemari, aku tidak ingin kondisi Sophie mengganggu pekerjaanmu."
"Aku tidak memaksakan diriku, Amy, aku kemari karena sehari tidak melihatmu di tempat kerja membuat tempat itu terasa kosong," kata Markus berwajah serius. "Di samping itu, syukurlah aku datang kemari karena jika tidak aku akan melewatkan pertunjukkan menarik yang kau perlihatkan dengan… sahabatmu itu."
Penekanan pada kata sahabat memberitahukan pada Amy bahwa atasannya itu masih belum percaya sedikit pun dengan apa yang dikatakannya tadi.
"Berhubung sebentar lagi menjelang malam, bagaimana jika kita mencari tempat untuk makan malam bersama?" saran Markus. "Melihat kondisimu yang lesu sekarang ini, aku yakin kau belum makan dengan benar dari kemarin."
Lega atas pengalihan pembicaraan itu, Amy segera saja menyetujui saran itu. Lagipula atasannya itu benar adanya, sejujurnya dari kemarin Amy hanya makan sedikit saja.
Mungkin itulah yang membuat kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing, ditambah kakinya yang mulai melemah untuk berdiri tegap. Sepertinya energinya telah terkuras habis.
##
Terdengar suara pintu terbuka di dalam kamarnya, mengira itu adalah Amy yang baru saja kembali entah dari mana, Sophie langsung saja mengomeli kakaknya.
"Dari mana saja kau? Tadi bosmu kemari sedang mencarimu," cetus Sophie, tanpa sedikit pun memalingkan wajahnya dari ponselnya.
"Ini aku," sahut seseorang yang baru saja datang itu lirih.
Mengenali suara itu sama baiknya seperti ia mengenali suara anggota keluarganya, Sophie membelalakkan mata menatap Samuel dengan perasaan ngeri yang kini sedang dirasakannya.
"Kena-pa k-au a-da di sini?" tanyanya terbata-bata. "Di mana Amy?"
Melihat kepanikan di mata Sophie yang mulai bergerak-gerak gelisah di atas kasurnya mencoba mencari cara untuk kabur dari dengan keadaannya yang memprihatinkan, Samuel berjalan mendekat, takut Sophie histeris seperti kemarin lagi.
"Tenang, Sophie. Aku tidak bermaksud untuk menakutimu, aku cuma ingin berbicara sebentar denganmu."
"Takut? Kau bilang aku takut?" seru Sophie, tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. "Aku tidak takut sedikit pun padamu! Aku malu, Sam, aku malu padamu. Karena kebodohanku sekarang aku cacat. Dan itu semua karena aku ditolak olehmu!"
"Maafkan aku, Sophie, ini semua salahku." Samuel menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah. "Tidak seharusnya aku membuatmu seperti ini."
"Aku tidak menyalahkanmu, Sam. Tidak pernah tebersit sedikit pun dalam benakku untuk menyalahkanmu," ucap Sophie, menyentuh lengan Sam agar kembali melihat padanya. "Semua ini disebabkan kecerobohanku, Sam. Seharusnya hari itu aku memperhatikan jalan dengan benar, tapi karena terlalu sibuk dengan patah hati yang kurasakan aku tidak memperhatikan jalanan dengan benar."
"Dan karena akulah kau jadi tidak berhati-hati hari itu. Ini semua disebabkan keegoisanku."
"Apa maksudmu?"
"Sejujurnya…." Samuel sengaja tidak menatap langsung mata Sophie, takut kebohongannya akan terlihat sangat jelas di matanya. "Aku bohong mengenai apa yang kukatakan padamu hari itu. Itu hanyalah keegoisanku untuk mempertahankanmu di sisiku."
"Maksudmu kau bohong mengenai perasaanmu kepadaku?"
Kesal Samuel tetap saja tidak mau menatap matanya secara langsung, Sophie menyentak kuat tangan Samuel.
"Tatap aku, Sam," pinta Sophie tegas.
Tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Sophie, akhirnya Samuel memaksa dirinya menatap langsung kedua matanya.
"Kalau kau sengaja mengatakan kebohongan ini karena merasa bersalah dengan keadaanku sekarang ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Sam."
Cengkraman Sophie seketika menguat di lengannya, kukunya menancap tajam di kulitnya.
Kerapuhan yang nampak di wajah Sophie membuat rasa bersalah Samuel semakin besar. Betapa ia tak tega mematahkan harapan kecil yang sekilas terlihat di mata sahabat sekaligus adik kekasihnya itu.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, Sophie, aku sungguh-sungguh dengan yang apa kukatakan barusan. Apa yang menimpamu seolah menyadarkanku dari kebodohanku." Kebohongan kejam itu meluncur dengan mudahnya dari bibirnya. "Selama ini aku juga mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
Air mata yang sejak tadi ditahan Sophie seketika mengalir deras menuruni pipinya, tanpa menahan rasa senangnya lebih lama lagi, Sophie menarik Samuel untuk memeluknya dalam dekapannya.
__ADS_1
Samuel memejamkan matanya, berharap semua ini hanyalah mimpi semata. Mimpi buruk yang akan segera berakhir.