I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Diabaikan


__ADS_3

Amy menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk dalam kamarnya sembari menghembuskan napas lelah. Ternyata waktu yang dihabiskannya mengobrol bersama para pelayan dan berkeliling seisi rumah menghabiskan waktu berjam-jam hingga ia tak sadar waktu sudah menjelang sore, dan suaminya belum juga menampakkan dirinya.


Meski begitu ia bersyukur mengisi waktu luangnya dengan mengenal para pelayan di rumah itu satu per satu, karena kesibukannya itu ia jadi lupa waktu dan melupakan masalahnya dengan Markus selama beberapa jam yang menyenangkan itu.


Apalagi awalnya ia skeptis bisa cepat mengingat seluruh wajah dan nama para pelayannya, namun berkat pekerjaannya sebagai sekretaris dulu yang harus menemui banyak klien bersama Markus, ia tidak membutuhkan waktu lama mengingat wajah dan nama para pelayan di rumah ini.


Walaupun tentu saja ada beberapa pelayan yang masih belum dihapalnya, tapi ia memiliki banyak waktu untuk mengenal semua pelayan di rumah ini dengan baik—jika pembicaraannya dengan Markus nanti berjalan lancar.


Tidak menutup kemungkinan Markus bisa saja menceraikannya dalam waktu dekat ini. Mungkin setelah menjauh sejenak, Markus sadar mempertahankan Amy di sisinya untuk membuatnya sengsara hanya membuang-buang waktu saja.


Jika itu yang diinginkan Markus, maka Amy tidak punya hak memprotes, meski ia sebenarnya ingin mempertahankan pernikahan mereka berdua.


Melirik ke arah pintu tempat pakaian Markus berada, Amy teringat jika tadi ia menyuruh seorang pelayan memindahkan semua kopernya ke kamar Markus.


Suka atau tidak, Amy tidak akan membiarkan Markus menempatkannya di kamar lain. Ia akan berada di kamar yang sama dengan suaminya itu, yang kembali mengingatkannya kapan suaminya itu akan pulang ke rumah.


Apakah dia sengaja pulang terlambat agar bisa menghindarinya?


Jika itu yang direncanakannya, maka Markus akan melihat betapa gigihnya Amy menunggu suaminya itu pulang meski harus menahan rasa kantuk sepanjang malam.


Sayangnya sekuat apa pun Amy menahan rasa kantuknya malam itu, kelopak matanya tetap saja lambat laun menutup ketika jam sudah menunjukkan waktu tengah malam.


Terbangun keesokan paginya, Amy mengedarkan pandangan ke seluruh kamar mencari tanda-tanda keberadaan suaminya, yang setelah diamatinya baik-baik kamar itu tetap seperti terakhir kali dilihatnya.


Tidak ada jejak yang menandakan suaminya telah masuk ke dalam kamar itu. Untuk memastikannya Amy turun ke lantai bawah dan bertanya kepada Meggie yang sedang sibuk memerintahkan beberapa pelayan bertugas.


"Meg, apa kau melihat suamiku sudah kembali?"

__ADS_1


"Maaf, Nona, sepertinya Tuan Xander tidak pulang tadi malam," jawabnya, terlihat kasihan kepada Amy. "Mungkin ada pekerjaan mendesak yang membutuhkan perhatian Tuan Xander di kantor."


Amy tersenyum kecut mendengarkan alasan payah itu. Kalau itu alasannya, tentunya Markus bisa mengabarinya, alih-alih membuatnya terlihat bodoh di depan pelayannya karena tidak tahu di mana keberadaannya sekarang.


Tidak ingin menyalahartikan kekesalannya diakibatkan oleh jawaban Meggie yang berniat menghiburnya dan membuat para pelayan di rumah itu bergosip tentang hubungan tidak baiknya dengan Markus, Amy memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.


"Mungkin kau benar. Aku tadi lupa untuk mengecek hp-ku, bisa saja suamiku sudah mengirimiku pesan mengenai alasan dia tak pulang semalam."


Sepanjang perjalanannya kembali ke kamar, Amy mempertahankan senyum palsu di wajahnya. Ketika pintu kamar menutup, Amy bergegas menghampiri kopernya, mencari sesuatu di dalam sana.


Jika suami menyebalkannya itu tidak mau menemuinya, biar ia saja yang menemuinya.


##


Nihil. Bahkan setelah pergi ke kantor suaminya, Amy tetap saja tidak bisa menemui Markus di sana.


Menunggu selama 5 jam lamanya di sana juga tidak ada gunanya! Entah suaminya benar-benar sibuk dengan pekerjaannya atau dia memang sengaja menghindar darinya.


Suaminya itu benar-benar menyulut kemarahan dalam diri Amy. Ia sungguh frustasi. Dan puncak rasa frustasinya itu meledak di hari ketiga Markus belum juga pulang ke rumah.


Sore itu Amy berniat ke halaman belakang rumah berharap bisa menemukan kedamaian di sana. Selama tiga hari terkukung di dalam rumah menghadapi tatapan penasaran dari para pelayan di rumah itu sungguh menyesakkan dada.


Ia butuh udara segar. Berharap kesunyian di halaman belakang rumah bisa sedikit menenangkannya.


Saat hendak mendekati pintu yang mengarah ke pintu belakang, sepenggal kalimat bisik-bisik menarik perhatiannya.


"—pasti sedang bersama wanita lain di luar sana," ujar sebuah suara yang dikenali Amy sebagai Lucy. "Dari awal aku sudah tahu kalau hubungan mereka berdua tidak baik. Lihat saja penampilan mengerikannya di hari itu."

__ADS_1


"Sudah kukatakan Markus-ku tidak mungkin terpincut wanita biasa itu. Dia pasti sudah melakukan trik licik yang membuat Markus-ku terpaksa menikahinya," ucap seorang gadis lain penuh dengki.


Penasaran siapa yang mengatainya seperti itu, Amy diam-diam mengintip ke pintu yang setengah terbuka itu.


"Hus~ dia bukan "Markus-mu"!" tegur gadis lain bernama Penny. "Mau sampai kapan kau berangan-angan kalau Tuan Xander akan melirikmu, Delilah?"


"Kalau wanita biasa itu saja bisa menggaet Tuan Xander dengan trik liciknya, kenapa aku tidak bisa? Apalagi aku memiliki sesuatu yang tidak wanita biasa itu miliki," bangganya, membusungkan dada untuk memperlihatkan seberapa montok miliknya kepada yang lain.


Oh ternyata si pirang genit itu yang mengatakannya, pikir Amy sinis. Tidak heran namanya Delilah, dia memang terlihat seperti arti namanya Penggoda.


"Berhenti menyebutnya 'wanita biasa', Delilah, dia itu istri majikanmu, panggil dia Nona Amy," tegur Penny lagi. "Dan kalau kau lupa, bukankah kau dulu pernah menggunakan trik licikmu itu kepada Tuan Xander dengan melemparkan tubuhmu ke atas ranjangnya yang berakibat kau hampir saja dipecat, jika saja Meggie tidak turun tangan membantumu. Jadi, bendamu ini tidak ada gunanya!"


Kalimat terakhir itu dilontarkan Penny sambil menunjuk ke arah dada Delilah yang besar itu, sontak saja ledekannya itu memancing cekikikan dari para gadis lain di sana.


Tidak terima jadi bahan tertawaan, Delilah langsung saja melabrak Penny, dan kedua pelayan itu pun saling adu mulut, yang berakhir saling menjambak rambut satu sama lain.


Dilema harus melerai—yang artinya sama saja Amy mengumumkan kepada mereka semua bahwa sejak tadi ia sudah menguping—atau membiarkan kedua pelayan itu terus cekcok, Amy dibuat lega saat Molly—sang juru masak muncul dan menghentikan perkelahian itu.


"Dasar kalian dua gadis dungu tak tahu malu," sumpah serapah mengalir keluar tak henti-hentinya dari mulut Molly saat mengomeli kedua gadis itu.


Kedua gadis itu tertunduk takut di hadapan sang juru masak yang galak.


"Nona Amy, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" Suara bernada bingung itu terdengar dari belakang Amy.


Terlonjak kaget mendengar pertanyaan itu, Amy membelalakkan mata menghadap Meggie yang sedang menelengkan kepala memandangnya kebingungan.


Karena terlalu kaget Amy tidak sengaja menubruk pintu di belakangnya, yang mengakibatkan seluruh mata kini tertuju kepadanya.

__ADS_1


"Ya ampun, dia mendengarnya!" celetuk Lucy nyaring.


Tanpa pikir panjang Amy berderap pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


__ADS_2