
Besok paginya sesudah terbangun dari tidur nyenyaknya, Amy bersiap-siap turun ke lantai bawah. Pagi ini sebelum Markus berangkat kerja ia berniat melanjutkan kembali pembicaraan mereka yang tadi malam belum selesai.
Mengira suaminya berada di ruang makan, ia sangat terkejut saat tidak menemukan keberadaan suaminya di sana. Para pelayan yang melihat kedatangannya segera menyajikan makanan yang masih hangat di atas meja makan.
Baru saja hendak menanyakan keberadaan suaminya kepada salah satu pelayan di sana, suara ricuh dari dalam dapur menarik perhatiannya. Penasaran apa yang sedang terjadi di dalam sana ia segera berjalan menuju dapur.
Di depan pintu dapur terlihat banyak sekali para pelayan perempuan mengerumuni tempat itu, mereka saling berdesak-desakan menonton sesuatu yang ada di dalam ruang dapur.
Dari dalam sana terdengar suara tangisan seorang wanita yang sedang berbicara tak jelas sebab suaranya teredam oleh banyaknya badan menutupi pintu. Belum lagi suara bisikan di antara para pelayan menghalangi Amy untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
"Apa yang sedang terjadi?" tanyanya pada salah satu pelayan yang matanya selalu fokus melihat ke dalam berusaha tidak melewatkan apa pun.
"Perempuan jal*ng itu akhirnya diusir juga," jawab pelayan itu, yang setelah diperhatikan Amy dengan baik ternyata dia adalah Lucy. "Itulah yang didapatkannya jika tidak bisa menjaga kelakuan liarnya."
"Memangnya siapa perempuan jal*ng itu?"
Lucy menghela napas jengkel, tapi dia tetap menjawab pertanyaannya. "Tentu saja Delilah. Memangnya siapa lagi yang kelakuannya lebih liar daripada dirinya?"
"Oh, kau benar juga."
Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi malam di kamar suaminya?
"Sepertinya kau ini pelayan baru di sini, dilihat dari sikapmu yang tidak tahu ap–"
Jeritan melengking meluncur keluar mulut Lucy saat dia berbalik menghadapnya. Kedua matanya membulat besar menatap Amy dengan raut wajah syok sekaligus ketakutan.
Kehisterisannya itu tidak hanya mengagetkan Amy saja, melainkan seluruh pelayan yang sedang berkerumun di sana serentak mengalihkan perhatian memandangnya. Lalu dalam hitungan detik semuanya buru-buru pergi melanjutkan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Barulah saat itu matanya bertemu pandang dengan sorot mata penuh kebencian Delilah yang tertuju kepadanya. Mengerjap, ia bergeming melihat pancaran kebencian dari mata pelayan kurang ajar itu.
Memangnya dia siapa berani menatapku seperti itu.
"Ini semua ulah wanita jal*ng itu," desis Delilah menatapnya dengki. "Membawanya kemari merupakan malapetaka."
"Delilah, jaga ucapanmu!" bentak Molly, melotot marah pada Delilah. "Belum cukup kau membuat aib besar di rumah ini, sekarang kau dengan beraninya memaki majikan yang memberimu makan."
Tidak mau tinggal diam dicaci maki oleh pelayan jal*ng itu, Amy berjalan menghampirinya berniat menutup mulut kurang ajarnya itu.
Akan tetapi baru beberapa langkah berjalan, Meggie muncul di hadapannya, kemudian menggiringnya keluar dari ruang dapur itu seraya mencoba meredakan amarahnya selagi mereka berjalan menuju ke arah belakang rumah.
"Abaikan saja dia, Nona Amy. Lagi pula kau tidak akan pernah lagi melihatnya di rumah ini," ucap Meggie, menyuruhnya duduk di atas bangku selagi dia meminta pelayan mengambilkan minuman.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Meg? Dan di mana suamiku?"
"Tuan sudah berangkat kerja setengah jam lalu."
Padahal tadi malam ia sudah mengatakan dengan jelas jika mereka akan membicarakan masalah tadi malam pagi ini. Tapi lihatlah sekarang, suami menyebalkannya itu malah berlari kabur darinya sebelum mereka menyelesaikan masalah di antara mereka.
"Tidak lama setelah Tuan Xander memanggil Delilah dan Joseph ke dalam ruang kerjanya, Tuan langsung bergegas pergi ke kantor."
"Joseph? Maksudmu si Joseph penjaga gerbang?"
Meggie menganggukkan kepala mengiyakan. "Rupanya kedua orang bodoh itu ketahuan telah melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya di dalam kamar Tuan Xander tadi malam." Meggie meliriknya hati-hati. "Tuan Xander marah besar kepada mereka berdua karena telah berani berbuat tidak senonoh di dalam kamarnya diam-diam. Apalagi hal itu mengakibatkan Anda jadi salah paham kepadanya."
Amy terenyak di tempat duduknya. Itukah yang sebenarnya terjadi tadi malam? Rupanya Markus tidak berbohong kepadanya saat bilang saat itu dia sedang tidak berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ditambah lagi Delilah ke sana sebenarnya hendak melancarkan rayuan mautnya lagi kepada Tuan Xander, yang sayangnya tidak berhasil sebab Tuan tidak sedang berada di kamarnya." Kepala Amy sontak berpaling cepat menatap Meggie. "Yang kemudian berakhir Joseph yang selama ini sudah kepalang mabuk cinta kepada Delilah menyergapnya di sana, yang tentu saja disambut dengan antusias oleh perempuan liar itu. Begitulah yang dikatakan para pelayan yang telah menguping."
Meggie mengakhiri ceritanya itu dengan menuangkan secangkir teh untuk Amy. Meski penyampaian ceritanya terdengar sangat berapi-api dia menyampaikan cerita itu dengan wajah dan suara yang sangat datar. Sungguh pemandangan yang aneh.
Menyeruput minumannya, Amy menutupi senyumannya dari kepala pelayan tanpa emosinya itu. Akan sangat menyenangkan sekali jika bisa melihat kepala pelayannya itu mengeluarkan emosinya.
Biasanya seseorang yang jarang menampakkan emosinya ketika dia meledak marah maka itu akan terlihat sangat mengerikan sekali. Kira-kira apa yang bisa memancing emosi itu keluar dari kepala pelayan cantiknya ini, renung Amy.
Sekarang bukanlah waktu baginya memikirkan cara memancing keluar emosi kepala pelayannya. Yang harus dipikirkannya apa yang harus dikatakannya saat suaminya pulang nanti.
Tidak seharusnya ia bertindak gegabah dengan melabrak suaminya tadi malam. Andai saja ia bisa berpikir lebih jernih seharusnya ia melihat rekaman CCTV dulu sebelum menarik kesimpulan sembrono.
Yah, anggap saja ini pelajaran baginya agar nantinya lebih bersikap lebih hati-hati lagi sebelum mengambil keputusan gegabah.
***
Selesai mengobrol panjang lebar dengan adiknya Sophie di ruang perpustakaan, perutnya yang sedari tadi meminta perhatiannya membuat Amy bergegas pergi menuju ruang makan. Kebohongan demi kebohongan yang disampaikannya kepada adiknya sungguh menguras energi.
Sulit sekali baginya mengarang cerita rekaan mengenai perjalanan bulan madunya yang nyatanya tidak pernah terjadi. Meski ia merasa bersalah sudah terlalu sering membohongi keluarganya, hal ini tetap harus dilakukannya sebab ia tidak mau membuat keluarganya khawatir tentang kehidupan pernikahan seumur jagungnya ini.
Dan syukurlah adiknya mempercayai kebohongannya itu.
Namun baru sampai menjejakkan kaki menuruni tangga terdengar suara mobil di luar rumah. Ia langsung membatalkan niatnya ke ruang makan dan berjalan terburu-buru ke depan berniat menyambut suaminya yang telah pulang kerja. Tidak biasanya suaminya pulang secepat ini.
Berdiri dengan senyum lebar di wajahnya, ia membuka pintu rumah.
"Akhirnya kau pulang juga," sambutnya riang.
__ADS_1
Dalam sekejap senyuman bahagianya sirna dari wajahnya saat melihat siapa sebenarnya yang sedang berdiri di hadapannya.
Oh tidak, jangan sekarang.