
Menengadah melihat langit malam yang gelap dengan cahaya bulan yang menjadi satu-satunya yang menerangi kegelapan di sana, tidak ada satu pun bintang yang berkelap-kelip menemani. Sungguh malam yang suram, persis seperti apa yang dirasakannya sekarang.
Keheningan malam itu dipecahkan oleh suara langkah kaki Luke yang berjalan mendekat menghampirinya, tangannya terjulur menyerahkan segelas sampanye padanya.
Tepat seperti yang dibutuhkannya. Dengan cepat ditenggaknya minuman itu dalam sekali teguk.
"Pelan-pelan, Sobat," tegur Luke, menggelengkan kepala melihat kelakuannya. "Omong-omong kau belum berterima kasih kepadaku, Mark."
"Berterima kasih untuk apa?"
"Wah, wah, kau melukaiku, Mark. Bagaimana mungkin kau bisa melupakan kebaikan yang telah kulakukan untukmu?" Luke berdecak tak senang. "Jika bukan karena aku, kau pasti tidak akan berada di sini bersama istrimu Amy."
"Sebenarnya kau ini bicara apa? Kebaikan apa–" Markus menghentikan ucapannya saat sesuatu terlintas dalam benaknya. Menyipitkan matanya, ia cemberut menatap sahabat sekaligus kakak iparnya itu. "Kalau yang kau maksud malam ketika kau mengadukanku pada Amy, maka pergilah kau ke neraka!"
"Astaga, Mark, aku menolongmu dari menghancurkan pernikahanmu, bukannya melemparkanmu ke dalam lubang neraka," keluh Luke.
"Tepatnya memang itulah yang kau lakukan. Seharusnya kau abaikan saja aku malam itu."
"Dan membuatku dimaki habis-habisan oleh Helen? Tidak akan!" kata Luke, merengut. "Kau tahu, dia sangat bahagia saat tahu kau memutuskan untuk menikah."
"Sayangnya aku tidak," balasnya masam.
"Jadi, akan sangat tidak menyenangkan sekali bagi Helen jika kau menghancurkan pernikahanmu itu dalam hitungan hari," lanjut Luke, mengabaikan keluhannya.
"Lebih tidak menyenangkannya lagi untukku."
"Kalau begitu, kenapa kau menikah?" tanya Luke jengkel. "Kalau jadinya seperti ini, seharusnya kau tidak usah menikah buru-buru."
"Makanya sekarang aku menyesalinya," gumamnya muram.
Teringat kembali akan pengkhianatan Amy padanya, ia mengambil gelas minuman Luke, dan menandaskan isi gelas itu juga.
Seharusnya ia tidak gegabah saat terburu-buru ingin menikahi Amy. Ada begitu banyak keganjilan dengan sikap Amy setiap kali ia mengungkit Samuel sahabat kecil istrinya itu.
__ADS_1
Dari caranya yang selalu menghindar saja sudah terlihat kalau sebenarnya Amy memang sedang menutup-nutupi sesuatu kepadanya. Hanya saja ia terlalu tergila-gila dengan istri liciknya itu sehingga mengacuhkan kecurigaannya terhadap hubungan istrinya dan sahabat kecilnya saat itu.
Ini semua karena ia menganggap Amy berbeda dari wanita yang ada di dalam hidupnya selama ini. Ia sudah salah menilainya.
Andai saja ia tidak terlalu terpesona dengan istrinya itu mungkin pernikahan malapetaka ini tidak akan pernah terjadi. Pada dasarnya tidak ada yang bisa disalahkan dari tragedi ini selain hatinya yang bodoh dan matanya yang tumpul ini.
"Ceritanya panjang," jawabnya singkat atas pertanyaan Luke tadi, setelah terdiam lama.
"Malam masih panjang. Lagi pula Amy dan Helen sepertinya sedang mengobrol asyik di dalam sana." Luke menelengkan kepala ke dalam rumahnya. "Jadi tentunya kita bisa mengisi waktu di sini sembari menunggu istri kita berdua menyelesaikan pembicaraan antara wanita di antara mereka."
"Apa yang sedang mereka bicarakan di dalam?" tanyanya waspada, matanya memicing curiga ke arah rumah sahabatnya.
Merangkul pundaknya, Luke menghentikan dirinya yang hendak pergi ke dalam.
"Tidak ada yang penting. Hanya pembicaraan wanita saja," sahut Luke, mengibaskan tangannya. "Berhentilah mengkhawatirkan istrimu."
"Bukan istriku yang kukhawatirkan, tapi istrimu," gerutunya.
Dan pada akhirnya Markus menceritakan semua pada Luke apa yang sebenarnya terjadi padanya dan Amy. Mungkin saja Luke bisa membantunya menemukan solusi dari masalah pelik dalam kehidupan pernikahannya ini, mengingat dia telah menjalani kehidupan pernikahan selama tujuh tahun lamanya.
##
Melirik arlojinya, waktu sudah menunjukkan sudah hampir tengah malam. Markus tidak mengira kunjungannya ke rumah Helen akan memakan waktu selama itu.
Tapi mengingat obrolan panjangnya bersama Luke, tidak heran akan menghabiskan waktu selama ini.
Dalam perjalanan pulang pun sama sunyinya seperti saat mereka berangkat tadi. Namun kali ini suasana dalam mobil lebih itu lebih menyesakkan daripada sebelumnya.
Mungkin ini akibat perseteruan panas mereka sebelumnya saat tiba di rumah Helen beberapa jam lalu. Dilihat dari sikap dingin Amy yang sedang memejamkan mata di sebelahnya, ia bisa merasakan jika istrinya itu masih marah padanya.
Sebenarnya dibanding sikap dingin istrinya, ada hal lain yang lebih mengganggu pikirannya, yaitu tepatnya apa yang telah dibicarakan Amy dan Helen tadi. Terlebih bisik-bisik misterius yang mereka lakukan saat ia dan Luke kembali ke dalam rumah.
Saat itu wajah istrinya terlihat merona akibat bisikan entah apa yang dibisikkan Helen padanya. Terlebih rona itu semakin merah padam saat mata Amy tidak sengaja bertemu pandang dengannya.
__ADS_1
Ia sungguh penasaran apa yang telah mengakibatkan istrinya merona manis seperti itu. Apakah itu berhubungan dengan dirinya?
Meski sangat penasaran ia tidak bisa menanyakan hal itu langsung pada istrinya. Sebab setelah mereka memasuki mobil, rona wajah istrinya itu hilang ditelan angin malam, digantikan raut wajah datar yang sedang berpura-pura tidur di sampingnya.
Nampaknya setelah kini mereka berdua saja, kemarahan istrinya yang sempat dipendamnya tadi kini mulai dikeluarkannya tanpa ditahan lagi. Meskipun marahnya itu dalam diam yang sungguh menyesakkan.
Oleh karena itu, ia sangat terkejut saat mereka tiba di rumah, Amy mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkannya saat ia sedang berganti pakaian di dalam kamarnya.
"Apa kau akan tidur di sini malam ini?"
"Tentu saja tidak."
Amy menggigit bibirnya, terlihat ragu mengatakan sesuatu padanya. Matanya tampak gemetar saat mencoba menatap langsung padanya.
"Apa kau tidak ingin mempertimbangkannya?"
"Sudah kukatakan aku tidak tahan satu ruangan denganmu, Amy."
"Bukan itu maksudku," tampik Amy.
Markus menaikkan sebelah alisnya, menunggu dengan tidak sabar Amy menjelaskan maksudnya.
"Anak," jawab Amy pelan. Berdeham, dia akhirnya mulai berkata dengan lantang. "Ya, anak. Tidakkah kau ingin memberikan Elena seorang sepupu yang cantik… atau tampan?"
Apa ia tak salah dengar? Istrinya sekarang sedang meminta anak darinya? Sungguh di luar dugaan.
Padahal baru beberapa menit lalu dia bersikap sangat dingin terhadapnya. Lalu sekarang dia bersikap seperti istri pemalu yang meminta perhatian suaminya.
Sebenarnya apa yang ada dalam kepala istri liciknya ini? Apa yang sedang direncanakannya?
Terlepas dari banyaknya pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya, napasnya kian memburu saat matanya menatap langsung mata istrinya.
Tidak bisa dipungkiri permintaan istrinya amat teramat sangat menggodanya. Kedua tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya, menahan dirinya merengkuh Amy dalam pelukannya saat itu juga.
__ADS_1