
Ini memang pertama kalinya Amy berjumpa dengan wanita berambut hitam dengan mata berwarna hazel yang kini sedang berjalan mendekatinya, tapi ia langsung mengenalinya karena wanita cantik yang ada di hadapannya tidak lain merupakan kakak perempuan suaminya Helen Margareth Xander.
Amy bisa langsung mengenalinya bukan karena pernah melihat potret dirinya di rumah ini, melainkan Helen terlihat sangat mirip dengan ibunya yang pernah ditemuinya beberapa tahun lalu di Nort West.
Dia tampak seperti versi muda ibu suaminya. Mungkin seperti inilah penampakan ibu suaminya semasa muda dulu.
“Hai, Helen, lama tak jumpa,” sapa Madelyne, memasang raut wajah tak senang melihat kedatangannya. “Seperti yang kau tahu sendiri mungkin Danny saat ini sedang asyik bermain di bawah rok perempuan, siapa pun itu entah di mana, jadi aku tidak punya pilihan selain mendatangi Markus ke rumahnya, meski aku lupa sekarang bukan hanya Markus yang berada di rumah ini.”
Tatapan mencemooh yang dilemparkan Madelyne kepada Amy sontak saja memancing kemarahannya lagi. Namun, sebelum ia sempat membalas, Helen terlebih dahulu melontarkan balasan yang kali kedua ini berhasil membungkam mulut wanita berbisa itu.
“Maddy sayang, kau salah, kau bukannya tidak punya pilihan,” cela Helen selembut sutra, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Andai saja kesopanan yang kau miliki sebagus otak pintarmu itu, tentu datang kemari tidak akan pernah menjadi pilihanmu.”
Wajah Madelyne seketika memerah mendengar hinaan itu. Sayangnya Helen belum selesai mencerca perilaku sekretaris suaminya itu.
“Kau tahu sendiri 'kan Markus baru saja menikah, yang berarti dia masih dalam masa pengantin baru, jadi tidaklah pantas bagimu mengganggu atasanmu itu di pagi hari seperti ini. Lebih tepat bagimu mengganggu si playboy Danny itu daripada Markus yang sudah memiliki istri, bukankah begitu Maddy sayang?” Helen menaikkan sebelah alisnya. “Dan kali berikutnya aku harap kau menjaga sikapmu di depan istri atasanmu, karena walau bagaimanapun juga kau itu bawahan suaminya, jadi kau juga berada di bawahnya. Oke, Nona Sekretaris?”
Mendengar nama panggilan yang juga pernah Amy berikan kepada sektetaris suaminya itu tadi malam membuatnya mendengus karena berusaha menahan tawa.
Wajahnya yang menahan tawa membuat Madelyne yang sudah marah bertambah lebih besar lagi rasa amarahnya. Secara bergantian dia memandang Amy dan Helen, merasa dia akan kalah melawan mereka berdua, dia menghentakkan kakinya lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Aku tak habis pikir kenapa Markus masih mempertahankan si jal*ng itu di sisinya,” gerutu Helen memandang kepergian Madelyne dengan alis tertaut.
Akhirnya tawa Amy pecah juga setelah tak mampu lagi menahan gelak tawa yang berusaha ditahannya. Helen yang heran mendengarkan tawanya yang tiba-tiba itu lambat laun tidak bisa menahan senyumannya juga.
“Senang mendengarmu tertawa. Padahal aku sudah khawatir akan bertemu dengan adik iparku yang berwajah masam, atau mata sembap.”
Menyeka air mata di sudut matanya, kali ini Amy yang menatap Helen heran. “Kenapa aku harus seperti itu?”
Helen meraih tangannya. “Aku sudah mendengar semuanya dari Luke. Karena itulah aku sekarang berada di sini.”
Sembari bercerita Helen menuntunnya ke arah belakang rumah untuk berbicara berdua saja di sana. Menurut Helen berbicara di halaman terbuka lebih nyaman daripada di dalam rumah, sebab akan ada banyak pasang telinga yang mendengar dari balik dinding.
Makanya dia membawa Amy duduk bersamanya di sebuah bangku bersantai dengan meja bundar kecil. Mereka mengobrol dikelilingi pepohonan rindang dan bermacam-macam bunga menghiasi halaman rumah dengan indahnya.
Dari obrolan itu akhirnya Amy tahu di mana selama ini Markus tidur selama beberapa hari terakhir. Ternyata kelab malam yang didatanginya malam itu milik sepupu Luke, dan di sanalah selama ini Markus menginap, sebelum akhirnya sekretaris genitnya itu tidak sengaja bertemu dengannya di sana.
Merasa itu kesempatannya mendapatkan Markus dalam pelukannya, dia berniat membawa Markus ke hotel hari itu, yang untungnya segera dihentikan, berkat Luke yang datang ke sana karena dihubungi sepupunya mengenai keberadaan suaminya.
__ADS_1
Hanya mendengarkannya saja sudah membuat Amy ingin mendatangi Madelyne dan menjambak rambut wanita jal*ng itu sampai semua rambutnya terlepas dari kepalanya. Berani sekali dia mengambil kesempatan dari pertengkarannya dengan Markus.
Khayalan kejamnya buyar ketika seorang pelayan sedang menyajikan minuman dan kudapan untuk mereka berdua.
Barulah setelah pelayan itu pergi meninggalkan mereka akhirnya Helen menanyakan hal yang sejak awal sangat ingin ditanyakan kepada Amy.
“Aku tahu ini pertemuan pertama kita, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi dari rasa penasaran yang menggerogotiku ini,” ujar Helen memulai. “Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu dan Mark, Amy? Kenapa dia bersikap begitu di hari pertama kalian menikah?”
Sejak tadi inilah hal yang ditakutkan Amy saat mengobrol bersama Helen, ia takut kakak iparnya akan menanyakan penyebab Markus bersikap sedingin ini padanya.
Walaupun sudah menduganya ia benar-benar belum siap untuk menceritakan semua ini kepada kakak iparnya. Meski baru sebentar mengobrol dengan Helen, ia sudah sangat menyukai kakak iparnya ini.
Pembawaannya yang ceria serta ramah membuat Amy merasa nyaman. Ia merasa seperti berbicara dengan adiknya Sophie. Betapa ia sangat merindukan keluarganya.
Merasakan keraguan Amy untuk bercerita, Helen meraih tangannya dan tersenyum lembut padanya.
“Kalau kau masih belum siap untuk menceritakan masalahmu tidak apa, sayang, aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku cuma ingin membantumu. Asal kau tahu saja, aku senang kau menjadi bagian dari keluarga kami.”
Ucapan tulus itulah yang akhirnya membuat Amy menceritakan semuanya kepada Helen tanpa ada satu pun yang ditutup-tutupi. Pada akhirnya Helen pasti akan tahu juga nanti, jadi apa bedanya jika memberitahukannya padanya sekarang.
Meskipun ia sedikit berharap Helen akan mengerti dirinya, dan percaya jika ia tidak akan mengkhianati Markus terlepas pernikahan ini berawal dari sebuah kebohongan.
"Aku tahu aku telah melakukan hal kejam pada Mark karena keegoisanku, tapi Helen aku bersumpah aku sudah mengakhiri semuanya dengan Samuel, dan aku juga sudah memutuskan akan mencurahkan seluruh hidupku untuk Mark seorang." Amy meraih tangan Helen. "Aku juga tahu kau pasti kecewa setelah mengetahui semua ini, tapi Helen, kumohon bantu aku mendapatkan hati Mark kembali."
Pandangan Helen tertuju pada sesuatu yang ada di belakangnya, seolah tak sanggup menatap mata Amy secara langsung.
"Kurasa itu akan sulit dilakukan."
Genggaman Amy terlepas dari tangan Helen, menghela napas ia menunduk menatap pangkuannya.
"Kau benar. Seharusnya aku tahu kebohonganku ini memang sulit untuk dimaafkan," ujar Amy, tersenyum letih. "Maafkan aku sudah bersikap tak tahu malu dengan meminta bantuanmu. Walau bagaimanapun juga ini semua ulahku, jadi bagaimanapun caranya aku harus menyelesaikannya seorang diri, meski aku harus berlutut dan meminta belas kasih Mark selama sisa hidupku."
"Oh, Amy, sepertinya aku sudah membuatmu salah memahami ucapanku barusan," celetuk Helen. "Maksud ucapanku tadi bukan mengenai dirimu, tapi Mark."
"Apa maksudmu?"
Menggigit bibirnya, Helen bimbang harus menceritakan tentang masa lalu kelam Markus atau tidak pada Amy, tapi mengingat Amy sekarang adalah istri adiknya, ia merasa Amy berhak tahu masa lalu suaminya. Apalagi jika hal itu membuat Amy bisa mengerti apa yang menyebabkan Markus sulit sekali untuk memaafkannya.
__ADS_1
"Apa kau tahu Amanda Piers?"
"Amanda Piers?"
Dahi Amy berkerut mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Ia yakin sekali pernah mendengar nama itu di suatu tempat, hanya saja ingatan mengenai nama itu masih samar-samar dalam kepalanya.
"Dia mantan tunangan Mark," ucap Helen membantunya mengingat.
Saat itulah ingatannya akan Amanda Piers mulai tergambar jelas di dalam kepalanya. Di dalam ingatannya itu jugalah ia jadi ingat gosip tentang tragedi yang menimpa tunangan suaminya saat itu.
Kala itu banyak gosip buruk mengenai Markus sehubungan dengan tragedi yang menimpa tunangannya, yang tentu saja dianggapnya hanyalah sekadar gosip belaka. Atau mungkin semua yang dikatakan gosip itu benar adanya? Tidak, itu mungkin.
Tapi bagaimana jika itu benar? Mungkin karena itulah Helen mengungkit mengenai tunangan suaminya itu, seketika Amy bergidik membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.
Helen yang sedari tadi mengamati wajahnya seakan-akan tahu apa yang saat ini sedang dipikirkannya, dia tiba-tiba berkata, "Aku harap kau tidak mempercayai omong kosong mengenai adikku yang membunuh tunangannya karena dia ketahuan berselingkuh."
"Tidak, tentu saja tidak. Aku tidak pernah sekali pun percaya dengan gosip yang tak jelas seperti itu," elak Amy panik. "Aku hanya… yah, aku cuma heran kenapa tiba-tiba kau mengungkit soal tunangan Mark dulu."
Selama sesaat Helen hanya mengamati wajahnya penuh selidik, mencari tanda-tanda kebohongan darinya, kemudian ekspresinya berubah melunak.
"Karena ini ada hubungannya dengan sikap Mark yang sulit mempercayai seseorang, sayang."
Lalu Helen pun mulai menceritakan panjang lebar mengenai kisah asmara Markus dengan Amanda Piers di masa lalu. Dari awal mula perjumpaan mereka berdua hingga suatu peristiwa yang membuat Markus mulai menutup hatinya kepada setiap wanita yang datang mendekat sampai akhirnya dia mulai membuka hatinya kembali setelah bertemu dengan Amy.
Betapa hati Amy terkoyak mendengarkan kisah pilu yang telah menimpa suaminya di masa lalu. Bagaimana mungkin ada gosip yang mengatakan Markus telah membunuh tunangannya setelah dia disakiti dengan kejamnya oleh tunangannya itu.
Tidak heran di malam pernikahan mereka saat kebohongannya terbongkar Markus menatapnya sangat dingin, ia pasti mengingatkan suaminya pada pengkhianatan yang dilakukan tunangannya dulu.
Sudah saatnya Amy menyadarkan suami bodohnya itu kalau dia tidaklah sama dengan tunangan kejamnya itu. Ia memang telah berbohong, tapi mengkhianati suaminya, itu tidak akan pernah dilakukannya.
"Sejujurnya aku masih belum bisa mempercayai Manda akan melakukan hal keji seperti itu, apalagi sampai mengakhiri hidupnya," ujar Helen mengakhiri ceritanya. "Tapi begitulah manusia, mereka selalu saja tak terduga, seperti dirimu misalnya."
Sejenak Amy mengira Helen menyindir kebohongan yang dilakukannya, namun kedipan mata Helen memberitahukan padanya jika kakak iparnya itu hanya bercanda.
"Sialan kau, Amy, di mana kau!" teriakan penuh umpatan itu berasal dari dalam rumah. "Kau tidak akan lepas dari masalah ini."
"Nampaknya sang singa sudah terbangun dari tidurnya," desah Helen dramatis. "Sebagai istrinya sudah menjadi tugasmu untuk menenangkan sang singa."
__ADS_1
Mereka berdua saling bersitatap dengan mata berbinar geli.