
Tangisan pilu yang menggema di gang kecil itu sangatlah menyayat hati. Samuel sungguh tak tahan melihat Amy terus-menerus menyalahkan dirinya atas sesuatu yang tak dilakukannya.
Perlahan dibantunya Amy kembali berdiri dan merengkuh kekasihnya itu dalam pelukannya.
"Amy, dengarkan aku. Amy, tenanglah!" perintah Samuel, menggoyang-goyangkan tubuh Amy untuk mendapatkan perhatiannya. "Kumohon tenanglah. Ini bukan salahmu."
Mendongak memandangnya dengan pandangan berkabut karena air mata yang masih belum juga berhenti mengalir, Amy mengedip-ngedipkan matanya agar bisa melihat wajah Samuel dengan lebih jelas.
"Ini bukan salahmu, Amy. Ini semua salahku, Andai saja hari itu aku…."
Melepaskan pelukannya, pandangan Samuel seketika menerawang jauh, sorot matanya terlihat begitu terluka, seakan-akan mengingat kejadian itu saja sudah membuat luka yang masih segar terbuka kembali.
Menarik napas perlahan, Samuel kembali mengalihkan pandangannya kepadanya. "Apa yang kau katakan tadi tidak pernah terjadi. Tidak seperti itu."
"Perkataanku yang mana maksudmu? Soal Sophie mengetahui hubungan kita, Sophie mengakui perasaannya terhadapmu atau kecelakaan Sophie berkaitan dengan hubungan kita? Jadi yang mana? Katakan lebih jelas agar aku mengerti!" desak Amy tak sabar.
"Ini tidak ada hubungannya dengan hubungan kita berdua," tampik Samuel tegas. "Kuakui hari itu Sophie memang mengakui perasaannya kepadaku–"
Mengangkat tangannya, Samuel menghentikan Amy yang hendak memotong perkataannya. "Setidaknya dengarkan aku sampai selesai dulu. Kau ingin dengar semuanya 'kan, tanpa ada satu hal pun yang aku tutupi."
Melemparkan tatapan kesal pada Samuel, mau tidak mau Amy menahan jawaban pedas yang akan dilontarkannya ke depan muka kekasihnya itu.
Memangnya salah jika Amy ingin mendengar semuanya. Andai saja Samuel tidak bersikap misterius setelah kecelakaan yang menimpa Sophie, pasti ia tidak akan terlalu curiga dan menduga-duga seperti ini.
Puas atas kebungkamannya, Samuel kembali melanjutkan ceritanya.
"Sore itu sebelum aku selesai bekerja, Sophie mendatangiku di bengkel. Dan seperti yang kau duga, dia mengakui perasaannya padaku. Awalnya aku cukup terkejut karena sejujurnya aku tak pernah sekali pun mengira Sophie memiliki perasaan romantis terhadapku selama itu. Kau tahu sendiri bagaimana aku memperlakukannya. Dia hanya kuanggap seorang adik perempuan yang sangat kusayangi."
Ya, Amy tahu itu. Bahkan itu juga jadi alasan utama Amy merahasiakan hubungan mereka selama ini. Amy takut hubungan mereka akan terasa canggung saat Sophie tahu hubungan mereka berdua.
Saat mereka masih remaja, Sophie pernah berkata kalau dia tak ingin persahabatan mereka dihancurkan oleh perasaan romantis yang mungkin saja nanti akan tumbuh di antara mereka bertiga.
Nyatanya hal itu memang benar terjadi adanya. Beberapa tahun setelah janji itu diucapkan, Samuel mengakui perasaannya kepada Amy. Awalnya Amy menolak Samuel karena saat itu ia tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Ditambah ketakutannya akan jalinan persahabatan mereka yang nantinya akan rusak jika putus.
Seiring waktu berjalan, akhirnya Amy tahu jika ia tidak bisa lagi menjadi sekadar sahabat untuk Samuel. Dan ketika ia mengutarakan apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap Samuel, ia sangat terkejut bahwa Samuel selama ini masih menunggunya untuk menyadari perasaannya itu.
Dua tahun telah berlalu sejak kejadian membahagiakan itu terjadi.
"Amy, Amy," panggilan berulang-ulang itu langsung menyadarkan Amy dari lamunannya. "Apa kau mendengarkanku?"
Memusatkan kembali perhatiannya pada Samuel yang berdiri menghadapnya dengan raut wajah khawatir, Amy membalas tatapan Samuel dengan kembali berwajah serius.
"Aku mendengarkanmu. Lanjutkan ceritamu"
Ragu selama sesaat, akhirnya Samuel melanjutkan ceritanya tadi.
"Setelah mendengarkan pengakuan itu, aku spontan saja memberitahukan padanya apa yang kurasakan terhadapnya. Awalnya dia tak percaya, tapi saat kukatakan aku punya seseorang yang kucintai, dia langsung berlari keluar." Kemudian sorot mata Samuel kembali menerawang lagi, matanya meredup sedih saat mengingat kembali kejadian naas itu. "Tidak tetpikirkan olehku untuk mengejarnya. Aku hanya berdiam terpaku di tempatku seperti orang bodoh. Lalu saat itulah aku mendengar keributan di luar. Sophie… Sophie… ini semua salahku. Harusnya aku tidak membiarkannya pergi dalam keadaan seperti itu, tapi–'
Tak kuasa melihat penderitaan Samuel menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Sophie hari itu, Amy merengkuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Karena itulah aku merahasiakannya darimu. Sudah cukup sakit bagiku menanggung rasa bersalah ini, aku tidak ingin menambahnya dengan kehilanganmu juga kalau kau tahu akulah penyebab Sophie menderita begini."
"Tidak, Sam, aku tidak menyalahkanmu. Ini sudah takdir. Tidak ada yang menduga hal buruk ini akan menimpa Sophie."
Mendengarkan itu, Samuel langsung memeluk balik Amy sekuat tenaga. Dia seolah tak mempercayai kalau Amy tidak menyalahkannya sedikit pun atas hal yang menimpa adiknya.
Mereka berdua pun saling berpelukan erat mencoba menghibur satu sama lain.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan terhadap kondisi Sophie? Aku ingin sebisa mungkin membantunya melewati semua ini, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," ungkap Samuel sedih.
Mendongak dengan senyuman lebar di wajahnya, Amy langsung memberitahukan pada Samuel apa yang baru saja didengarnya dari Markus tadi.
##
Sekarang Amy dan ibunya sedang duduk gelisah di luar ruang pemeriksaan. Mereka berdua sangat gugup menunggu Dokter Peter yang sedang memeriksa adiknya di dalam.
Pagi itu setelah percakapannya dengan Samuel, ia langsung menyampaikan kabar baik itu juga kepada ibu dan adiknya. Keduanya memberikan reaksi yang sangat bertolak belakang.
Meski ibunya terlihat sangat bahagia atas kabar baik itu, lain halnya dengan Sophie, adiknya itu tampak sangat skeptis tentang itu. Sophie terlihat begitu rentan. Seakan harapan kecil pun bisa menghancurkannya.
Oleh sebab itu, sekarang Amy berdoa sepenuh hati supaya Dokter Peter bisa mengangkat Sophie dari keterpurukannya. Cuma ini satu-satunya harapan yang dimilikinya.
Amy tidak tahu lagi jika Dokter Peter ternyata tidak mampu menyembuhkan adiknya, ia harus melakukan apa.
Sebuah tangan hangat tiba-tiba saja menggenggam tangannya dengan lembut, menengok ke sampingnya, Amy tersenyum berterima kasih kepada Samuel yang juga ada di sana bersamanya untuk memberikannya kekuatan menghadapi cobaan ini.
Seolah sadar ketegangan yang sedang terjadi pada mereka yang berada di luar, Dokter Peter memberikan senyuman menenangkan pada mereka. Dengan anggukan kecil dia lalu menyampaikan mengenai hasil pemeriksaan Sophie.
Girang dengan kabar baik itu, Amy spontan saja berteriak gembira, lalu menutup mulutnya karena sudah mengganggu pasien dan perawat yang ada di rumah sakit itu. Sebagai gantinya ia memeluk ibunya sangat erat lalu menyeka air mata yang mengaliri pipi ibunya.
"Semua baik-baik saja, Bu. Sophie akan kembali seperti dulu lagi" katanya girang.
Tak berapa lama setelah mengantar kepergian Dokter Peter dan ibunya dari rumah sakit, Amy kembali ke dalam ruangan tempat Sophie dirawat. Sampai di sana ia memandang sedih pada Samuel yang hanya berdiri di luar pintu sambil menatap ke dalam ruangan adiknya dengan murung.
Meskipun sudah mendengarkan kabar baik itu, Sophie tetap menolak menemui Samuel. Sepertinya adiknya masih belum siap bertemu dengan Samuel.
Menyadari kedatangan Amy kembali, Samuel dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih ceria.
"Sebaiknya kau masuk ke dalam saja, Sam. Ada baiknya kau dan Sophie menyelesaikan masalah di antara kalian berdua," saran Amy.
"Tidak usah. Aku baik-baik saja. Mungkin dia masih perlu waktu lagi untuk menemuiku," tolak Samuel mengeleng-gelengkan kepalanya. "Kau jangan memaksanya."
"Tidak. Ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus, aku perlu berbicara dengan Sophie mengenai sikap kekanakannya ini."
Ia sudah muak dengan sikap dingin adiknya kepada Samuel. Sampai kapan dia akan terus menyalahkan Samuel atas kecelekaan yang menimpanya ini. Tidak bisakah dia melihat kalau Samuel juga sama menderitanya dengan dirinya.
Sebelum Samuel sempat menghentikannya, dengan mantap Amy memutar kunci supaya Samuel tidak bisa menerobos masuk mengganggu pembicaraannya dengan Sophie. Dalam kamar itu, Sophie sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Sophie, aku perlu bicara serius denganmu," ucap Amy memulai pembicaraan. "Ini soal–"
__ADS_1
Menghentakkan ponsel di samping tubuhnya, Sophie melontarkan tatapan tajam padanya. "Kalau kau ingin membahas mengenai pengobatanku di Cambry, biar kukatakan padamu aku tak tertarik untuk menjalani pengobatan itu sama sekali."
Usai menyampaikan itu, Sophie langsung menutup matanya bersiap tidur.
Kaget oleh pernyataan mengejutkan itu, Amy selama sesaat tak bisa membalas perkataan adiknya. Setelah mampu memulihkan diri dari keterkejutannya, Amy menyentak selimut adiknya untuk mendapatkankan perhatiannya.
"Apa yang kau lakukan! Pergilah. Sekarang aku ingin tidur," usir Sophie, mencoba menarik selimut yang masih digenggam erat olehnya.
"Kenapa kau tidak mau menjalani pengobatan itu? Bukankah kau ingin mendapatkan kembali kemampuanmu dalam berjalan? Atau mungkin kau ingin lumpuh selamanya?" bentak Amy, kesal atas sikap adiknya yang tidak bisa dimengerti. "Kau pikir mudah mendapatkan pertemuan dengan Dokter Peter ini? Jika bukan karena bantuan atasanku, kita tidak akan pernah tahu bahwa kau memiliki peluang untuk pulih. Setelah apa yang sudah aku dan ibu lewati, dengan mudahnya kau menolak tawaran ini, seperti anak kecil yang tidak ingin pergi piknik bersama keluarganya."
Secara tiba-tiba mimik memberontak Sophie hilang dari wajahnya, kemudian setetes air mata membasahi pipinya.
"Bukan begitu," gumamnya lirih, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku takut."
Pengakuan dengan nada pilu itu *******-***** jantung Amy. Dilepasnya tangannya dari selimut Sophie lalu segera duduk mendekati adiknya.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sophie. Kau akan baik-baik saja di sana. Ada ibu yang akan menemanimu melewati semua proses itu."
Perlahan ditariknya tangan Sophie yang menutupi wajahnya, setelah itu disekanya air mata yang membasahi pipi adiknya.
"Bagaimana jika setelah melewati semua proses itu aku tetap saja seperti ini, Amy? Membayangkannya saja aku sudah tak sanggup."
"Tidak. Itu tidak akan terjadi. Percayalah kepadaku."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
Saat hendak menjawab pertanyaan itu, Sophie mendahuluinya berbicara.
"Selalu ada kemungkinan, Amy. Kemungkinan gagal itu selalu ada. Seperti yang dikatakan Dokter Peter kepada kalian, pengobatan itu kemungkinan berhasilnya 90%. Berarti ada kemungkinan 10%-nya gagal. Dan aku takut dengan 10% itu."
"Berhentilah berpikiran negatif. Itu tidak menghasilkan apa pun, selain merusak pikiranmu. Sebaiknya kau istirahat, mungkin itu bisa membantumu untuk merenungkan ini lebih dalam lagi."
"Kau tidak mengerti, Amy," balas Sophie, menepis tangan Amy yang hendak menyelimutinya.
"Yang tidak mengerti di sini adalah kau, Sophie, pikiran jelekmu itu hanya akan memperburuk keadaanmu," cetus Amy kesal.
"Apa yang kuharapkan dari dirimu yang sok tahu segalanya itu. Kau tidak akan pernah memahami perasaan seseorang yang sudah kehilangan orang yang dicintainya kini juga harus mengalami proses semenyakitkan ini akibat ulah bodohnya yang tidak bisa menghadapi penolakan dengan baik. Sungguh memalukan!" gerutu Sophie menarik kasar selimutnya. "Tidak ada bedanya aku bisa berjalan lagi atau tidak, aku tetap tidak bisa kembali bersamanya. Andai saja aku tidak melakukan hal itu, mungkin dia akan menemaniku melewati semua ini."
Gumaman terakhir itu meskipun terdengar lirih, Amy mendengarnya sangat jelas di telinganya. Ternyata ketakutan serta keluhan Sophie ini bukanlah pikiran negatifnya semata, melainkan dia ingin Samuel bersamanya di masa sulitnya itu.
Tanpa memgucapkn sepatah kata pun, Amy beranjak pergi meninggalkan Sophie yang sedang bersiap-siap tidur. Di luar Samuel menyambutnya dengan tatapan heran melihatnya yang berjalan keluar dengan tatapan kosong.
"Apa yang sudah terjadi, kenapa kau terlihat terguncang begini? Amy?" Samuel menelengkan kepala menghadapnya. "Sudah kukatakan padamu kau tidak perlu memaksa Sophie untuk menemuiku. Lihatlah dirimu sekarang, kau terlihat letih sehabis berdebat dengannya. Seperti yang kita berdua tahu dengan baik betapa keras kepalanya Sophie jika sudah menetapkan sesuatu."
Menggelengkan kepalanya, Amy membuka lalu menutup kembali mulutnya. Kerongkongannya terasa sangat kering seolah baru saja berteriak keras tadi.
Berdeham, Amy mencoba untuk kedua kalinya berbicara. Saat berikutnya ia berbicara, suaranya terdengar begitu serak.
"Sam, Sophie membutuhkanmu."
__ADS_1