
Selama sesaat lamanya Amy terdiam mematung di tempatnya, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya. Di saat seperti ini kenapa dia harus kehilangan kemampuannya dalam berbicara.
Tamunya yang baru tiba itu mendadak tertawa melihat tingkahnya yang terdiam membeku di tempatnya berdiri.
"Kau pasti Amy. Aku telah banyak mendengar tentang dirimu dari Helen." Elisabeth mengaitkan lengannya di pergelangan tangan Amy. "Kedatanganku pasti telah mengejutkanmu. Ayo kita masuk ke dalam."
Barulah setelah mereka berjalan memasuki rumah, Amy mendapatkan kembali suaranya.
"Maafkan atas ketidaksopananku, tapi senang bertemu lagi dengan Anda."
"Tidak perlu terlalu formal begitu. Kau bisa memanggilku Elise," kata Elisabeth mengibaskan tangannya. "Lagi pula aku tidak terlalu suka dianggap orang tua. Yah, seperti yang kau tahu sendiri anakku Markus saja tidak menganggapku seorang ibu."
Untuk itu Amy tidak tahu harus merespons bagaimana. Yang bisa dilakukannya hanyalah tersenyum canggung menanggapinya. Dan tanpa disadarinya mereka sudah berada di rumah kaca yang berada di samping rumah.
"Hei, Tom, bagaimana kabar gadis-gadis cantikku?"
Elisabeth melepaskan gandengannya dan berjalan menghampiri tukang kebun yang selalu merawat bunga-bunga yang ada di rumah kaca itu.
"Selamat datang kembali, Madam." Tomskins menunduk hormat pada Elisabeth. "Seperti yang Anda lihat mereka telah tumbuh dengan sangat baik. Saya selalu melakukan yang terbaik untuk merawat bunga-bunga kesayangan Anda."
Melihat ibu mertuanya berbicara panjang lebar dengan wajah sumringah soal tanaman bunga mengingatkan Amy akan ibunya. Tidak berbeda jauh dari ibu mertuanya, ibunya juga memiliki hobi yang sama, yaitu menanam berbagai macam jenis bunga di halaman rumah mereka.
Karena kecintaannya terhadap bungalah ibunya membuka toko bunga di Nort West sejak menikah dengan ayahnya. Oleh sebab itulah saat Elisabeth mengenalkannya pada "gadis-gadis cantiknya" ia tidak merasa kesulitan sedikit pun mengingat nama bunga-bunga itu.
Usai menghabiskan sejam lamanya membicarakan perihal tanaman kesayangannya, Meggie menghampiri mereka berdua untuk menyampaikan jika makam siang telah siap disajikan.
"Astaga, hampir saja aku membuat menantuku mati kelaparan di hari pertama kedatanganku," ujar Elisabeth tersenyum menyesal kepadanya. "Kau pasti sangat bosan mendengarkan celotehan wanita tua ini tentang bunga-bunga kesayangannya."
"Tentu saja tidak. Anda malah mengobati rasa rinduku kepada ibuku. Asal tahu saja, ibuku juga sangat menyukai bunga sama seperti Anda."
"Aku harus mendengar tentang ibumu ini. Kami pasti akan cocok sekali jika nanti kami bertemu. Dan sudah kukatakan berulang kali, jangan terlalu formal kepadaku, Amy."
"Baik, E… Elise," ucapnya tergagap.
"Nah, begitu. Sekarang ayo kita mengisi perut kita di dalam."
__ADS_1
Berjalan masuk ke dalam, sekali lagi Amy terhenti di tengah jalan saat menuju ruang makan. Kali ini kedatangan Helen-lah yang mencegahnya mengisi perut kelaparannya.
Sama halnya seperti ia tadi, Helen juga sama terkejutnya dengan dirinya saat melihat ibunya berada di sana. Namun dia dengan cepat memulihkan kekagetannya itu.
"Halo, Ibu. Aku tak menyangka akan menemuimu di sini," sapa Helen, memeluk ibunya. "Apa aku telah menganggu pertemuan pertama antara ibu mertua dan menantunya di sini?"
"Jangan konyol, Helen," tegur Elisabeth. "Lagi pula ini bukan pertama kalinya kami bertemu. Sebelumnya kami sudah pernah bertemu di Nort West."
"Tetap saja ini pertemuan pertama kalian sebagai ibu mertua dan menantu, bukan? Waktu itu 'kan Amy masih sekretaris Mark, bukan istrinya."
"Kau benar juga," setuju Elisabeth. "Omong-omong ada apa kau kemari? Aku dan Amy baru saja hendak menyantap makan siang kami, kenapa tidak sekalian saja kau bergabung dengan kami?"
"Kalau begitu, kenapa kita tidak sekalian saja makan di luar," saran Helen. "Kebetulan tujuanku kemari ingin mengajak Amy pergi berbelanja di Mall Luke."
"Luar biasa. Itu ide yang sangat bagus, Sayang. Jadi tunggu apa lagi, ayo kita segera berangkat. Ibu sudah sangat siap."
"Tapi aku perlu ganti baju dulu." Amy menunduk menatap pakaian santai yang sedang dikenakannya. "Tidak mungkin aku keluar bersama kalian dengan mengenakan pakaian seperti ini."
"Tidak perlu, Sayang." Helen menggandeng tangannya. "Kau bisa berganti pakaian dengan baju yang kita beli nanti. Sekarang ayo kita para wanita berbelanja habis-habisan hari ini."
"Baik, Madam."
Amy menghela napas pasrah saat ibu dan anak itu menyeretnya bersama ke dalam mobil.
"Maaf, Amy, sebenarnya kedatangan ibuku-lah yang ingin kusampaikan kepada Mark malam itu. Aku lupa menyampaikannya kepadamu akibat pertikaianku dengan Mark mengalihkan perhatianku," bisik Helen diam-diam saat ibunya sedang asyik berbicara dengan sopir.
"Tak apa, Helen." Amy menepuk-nepuk tangan kakak iparnya. "Aku baik-baik saja. Aku tadi hanya sempat mengalami syok sesaat sebelum akhirnya mampu memulihkan diri dari kelumpuhan berbicara."
Mereka berdua langsung tertawa kecil yang membuat Elisabeth menoleh kepada mereka dengan alis bertaut.
##
Markus melonggarkan dasinya saat beranjak keluar dari dalam mobilnya. Hari ini sungguh hati yang sangat melelahkan baginya.
Belum cukup masalah yang dihadapinya di rumah, sekarang kantor juga membuat kepalanya pusing dengan tuntutan-tuntutan menyebalkan dari klien barunya.
__ADS_1
Beberapa hari ini ia akan sangat sibuk sekali menyelesaikan masalah perbedaan pendapat dengan klien barunya ini. Merancang model furniture seperti yang diinginkan klien barunya itu sungguh menguras energinya.
Selama seharian ini ia harus berdiskusi berulang kali dengan para karyawan di perusahaannya akibat permintaan banyak maunya dari klien barunya itu. Makanya ia berharap sesampainya di rumah ia akan mendapatkan ketenangan.
Sayangnya harapan sederhananya itu tetap saja sulit terpenuhi. Usai membersihkan diri dan berganti pakaian ia kebingungan melihat Amy tidak berada di dalam kamarnya seperti biasa.
Yang lebih membuatnya curiga sikap menghindar dan takut-takut yang diperlihatkan para pelayan di rumahnya membangkitkan insting waspada dalam dirinya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang disembunyikan para pelayan rumahnya.
Terakhir kali ia melihat sikap gelisah para pelayan rumahnya adalah saat ibunya empat tahun lalu berkunjung kemari untuk menyampaikan kabar pernikahan terbarunya.
Tidak. Itu tidak mungkin. Mustahil ibunya datang lagi kemari. Rasanya baru dua tahun lalu dia datang mengunjungi kantornya di Nort West untuk mengabari kabar pernikahannya yang entah sudah berapa kalinya. Ia sudah lelah menghitung jumlah pernikahan yang sudah dilalui ibunya sepanjang hidupnya.
Tapi bagaimana jika dugaannya benar. Bukan hal yang mengejutkan lagi jika pernikahan ibunya gagal untuk kesekian kalinya. Mengingat betapa buruknya ibunya memilih pasangan, kecuali ayahnya, tentu saja.
Tidak ingin terus bertanya-tanya, ia menghampiri Meggie yang sedang berdiri mengawasi pelayan baru memoles porselen di dekat tangga.
"Meggie, apa kau tahu di mana istriku?"
Mendongak menatapnya, Meggie yang biasanya berwajah datar tiba-tiba menunduk gelisah saat menjawab pertanyaannya. "Nona Amy sedang keluar berbelanja bersama Nona Helen, Tuan."
"Sudah berapa lama mereka pergi?"
"Dari lima jam yang lalu, Tuan."
Sungguh waktu yang sangat lama untuk bepergian. Tapi mengingat para wanita yang sedang pergi berbelanja, tidak heran mereka memakan waktu selama ini.
Kalau begitu kenapa para pelayannya terlihat gelisah begini jika Amy memang hanya sedang pergi berbelanja bersama Helen. Apa ini ada hubungannya dengan pemecatan dadakan yang dilakukannya tadi pagi.
Mungkin saja kehebohan yang disebabkannya tadi pagi telah membuat para pelayan jadi takut menghadapinya. Mungkin mereka takut ia akan melampiaskan amarahnya kepada mereka juga.
Apalagi sepanjang hari ini ia tidak sekali pun menunjukkan ekspresi ramah di wajahnya. Jadi tidak heran para pelayan berlari ketakutan setiap kali melihat wajahnya.
Suara berisik di luar seketika mengalihkan perhatiannya. Lega istrinya sudah kembali pulang, ia bergegas menuju ke depan rumah. Namun sebelum pergi ia sempat menangkap raut wajah Meggie yang tiba-tiba berubah panik.
Mengabaikan keganjilan itu ia pergi menyambut kedatangan istrinya di depan pintu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat bukan hanya istrinya saja yang telah pulang ke rumah, melainkan mimpi buruknya juga telah kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1