
Di Dalam kamar mandi Amy menyemburkan berkali-kali air ke wajahnya. Memandang pantulan wajahnya di cermin, Amy memikirkan kembali bagaimana akhirnya ia bisa berakhir dalam situasi ini sekarang.
Semua terjadi sangat cepat. Usai pertemuannya dengan Samuel—bukannya kembali ke rumah—Amy langsung bergegas ke apartemen Markus.
Entah apa yang merasukinya hingga berlari terburu-buru di sepanjang jalan menuju apartemen Markus seperti seseorang yang sedang dikejar-kejar pembunuh.
Yang ada dalam benaknya saat itu hanyalah mencari tempat yang bisa menjadi tempatnya untuk bersembunyi. Sesaat tiba di depan pintu apartemen Markus, tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam sana.
Tidaklah sulit baginya masuk ke dalam sana karena ia tahu kode akses untuk memasuki apartemen atasannya itu.
Namun alangkah terkejutnya Amy ketika melihat lampu kamar Markus dalam keadaan menyala. Secercah harapan merasukinya, mungkin ini kesempatan baginya untuk melakukan apa yang yang tadi dikatakannya kepada Samuel, yaitu menikahi atasannya.
Semoga saja belum terlambat baginya mengubah pikiran Markus untuk menikahinya. Dengan langkah cepat, Amy mendobrak masuk ke dalam kamar, dan betapa kecewanya ia saat tidak menemukan atasannya di dalam sana.
Mungkin ia terlalu berharap. Tapi meskipun begitu Amy tidak mau menyerah begitu saja, ia kembali mencoba membuka ruangan yang lain, dan ketika pintu ruang perpustakaan menjadi tempat terakhir yang diperiksanya—ia sebenarnya sudah tidak terlalu berharap lagi akan melihat Markus di sana—sekelebat bayangan menangkap perhatiannya.
Saat itulah Amy bisa bernapas lega. Di balik meja, duduk Markus yang sedang termenung memandang gelas minumannya.
Lalu di sinilah Amy sekarang, bersiap mempersembahkan dirinya demi mendapatkan keinginannya. Sungguh ungkapan yang mengerikan.
Tentu tidur bersama Markus tidaklah seburuk itu. Amy berkali-kali menekankan hal itu dalam benaknya.
Lagipula yang membuatnya berada di posisi mendebarkan sekaligus menakutkan ini karena ulahnya sendiri. Andai saja malam itu ia tidak terlalu cepat mengambil keputusan dengan menolak Markus, mungkin ia tidak perlu tidur bersama atasannya itu secepat ini.
"Kau pasti bisa, Amy, semua ini pasti akan cepat berlalu tanpa kau sadari," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
##
Melirik jam tangannya untuk yang kesekian kalinya, Markus rasa waktu yang diberikannya pada Amy sudah cukup. Beranjak dari tempat duduknya, Markus berulang kali mengingatkan dirinya untuk bersikap lebih santai.
Ia tidak boleh bersikap seperti hewan yang sedang dalam masa kawinnya. Itu akan membuat Amy lebih takut kepadanya.
Tadi saja saat Markus menyergap Amy—layaknya bocah remaja yang belum berpengalaman—sekretarisnya itu sudah gemetar ketakutan, meskipun dia berusaha keras menyembunyikannya.
Apalagi kalau nanti setelah Markus masuk dalam kamarnya ia langsung bercinta dengan sekretarisnya itu secara membabi buta karena tak bisa menahan dirinya. Itu saja sudah cukup membuat Amy menarik kembali keputusannya untuk menikah dengannya.
Itu tak boleh terjadi. Merasa sudah bisa mengontrol pengendalian dirinya, Markus melangkah masuk ke dalam kamarnya yang bercahayakan lampu tidur saja.
Matanya langsung tertuju ke arah ranjangnya berada, di atas ranjangnya Amy berbaring menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut tebal berwarna biru keabu-abuan miliknya.
Pemandangan itu saja hampir meruntuhkan pengendalian diri yang telah dibangunnya selama sejam lebih lamanya. Sekelebat bayangan akan mimpi-mimpi erotisnya bersama Amy seketika bermunculan dalam kepalanya.
"Aku sudah siap, Mark. J-Jadi kemarilah," ajak Amy mengulurkan tangannya.
Berlawanan dengan nada suaranya yang menggoda itu, sikap tubuh Amy tidaklah semenggoda seperti yang ingin dia coba perlihatkan. Setiap gerakan tubuhnya terlihat sangat kaku.
Tersenyum atas usaha keras Amy untuk menutupi kegugupannya, Markus perlahan berjalan mendekati ranjang lalu duduk di atas kasurnya membelai pipi Amy lembut.
"Tidak perlu gugup, Amy sayang."
"Aku tidak gugup!" elak Amy cepat. Dia menangkupkan tangannya di tangan Markus yang sedang memegangi wajahnya. "Seperti yang kau lihat, aku sudah siap."
"Katakan padaku, sebenarnya apa yang membuatmu gugup? Tentunya ini bukan pengalaman pertamamu, 'kan?"
Seketika tangan Amy terkulai lemas di sampingnya. "Aku tahu ini akan terdengar tidak masuk akal bagimu, tapi nyatanya aku memang masih perawan."
__ADS_1
"Kau tidak mungkin bersungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan," geleng Markus tak percaya. "Jaman sekarang di um-"
"Ya, aku tahu, aku tahu," sela Amy, jengkel diingatkan kalau dia sekarang sudah berumur 25 tahun. "Wanita di umur sepertiku sekarang tidaklah mungkin masih mempertahankan keperawanannya seperti orang kolot."
"Daripada kolot, aku akan menyebutnya... tak terduga," sahut Markus menahan senyumannya. "Apa sebelum ini kau belum pernah berkencan dengan siapa pun?"
Pertanyaan itu sontak saja mengingatkan Amy kepada Samuel. Dengan cepat Amy memalingkan wajahnya, tidak ingin Markus menyadari kesedihannya karena telah diingatkan pada mantan kekasihnya itu.
"Berkencan tidak harus membuatku menyerahkan keperawananku seperti seonggok daging," jawab Amy pelan. "Maafkan aku jika sudah mengecewakanmu."
Alih-alih menjawab Markus mengejutkan Amy dengan mengecup punggungnya yang terekspos. Di dalam selimut sebenarnya Amy hanya mengenakan pakaian dalam saja. Itu dilakukannya semata-mata demi memberanikan dirinya.
Perlahan dilepaskannya tangan Amy yang sejak tadi masih mencengkram selimut di depan tubuhnya.
"Daripada kecewa aku malah merasa senang. Berarti tidak ada yang pernah melihatmu seintim ini selain diriku," bisik Markus serak. "Dan itu membuatku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi."
Dalam sekejap mata Markus sudah berada di atas Amy dengan sorot mata membara.
Memejamkan matanya, Amy menguatkan dirinya agar bisa melewati malam itu tanpa terlihat terpaksa menerima serangan sensual dari Markus.
***
Seminggu telah berlalu semenjak Amy menghabiskan malam bersama Markus di apartemennya. Kenangan malam itu masih teringat jelas olehnya.
Syukurlsh berkat keahlian Markus di atas ranjang, Amy bisa melalui malam itu tanpa menunjukkan keberatan sedikit pun. Walaupun keesokan paginya ia bergegas meninggalkan apartemen atasannya itu.
Ia masih belum sanggup menghadapi Markus setelah malam panas yang mereka lalui bersama.
Lalu di sinilah Amy sekarang berdiri termenung memandang pantulan dirinya mengenakan gaun pengantin putih cantik sejernih langit yang menerangi langit di hari pernikahannya.
Demi mempercantik penampilannya seuntai kalung mutiara menghiasi lehernya. Kalung itu merupakan pemberian Markus saat dia mengumumkan pernikahannya di hadapan ibu serta Sophie.
Untunglah berkat usaha Amy yang gigih, ia berhasil membujuk adiknya yang keras kepala itu tetap pada rencana awal mereka. Karena walau bagaimanapun juga Sophie memerlukan pengobatan secepatnya dari Dokter Peter.
Namun, ada sedikit perubahan dalam perjalanan itu, yang mengharuskan Sophie pergi ke sana hanya ditemani Samuel saja. Ibunya akan menyusul di kemudian hari setelah membantu Amy mempersiapkan pernikahan terburu-burunya.
Itu semua terjadi berkat desakan Markus yang sudah tidak sabar menyelenggarakan pernikahan mereka berdua. Belum lagi waktunya untuk kembali ke kantor pusat memang sudah dekat.
Sejujurnya selama proses lamaran serta persiapan pernikahannya berlangsung, Samuel tidak mencoba mendekatinya lagi ataupun membongkar kebohongan mereka berdua kepada Sophie, seperti yang diancamkannya malam itu.
Mungkin akhirnya Amy telah berhasil meyakinkan Samuel bahwa hubungan mereka sudah tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi.
Menepis jauh-jauh Samuel dari dalam kepalanya, Amy bersiap-siap membuka lembaran baru bersama Markus, yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Baru saja hendak berjalan mendekati pintu, Amy dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu yang membuka pintu ruangan itu terlebih dahulu.
Mengangkat salah satu tangannya ke mulutnya, Amy membelalakkan mata kepada tamu tak terduga itu.
"Sam?" Matanya melirik panik saat Samuel mengunci pintu. "Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Sophie? Apa kau membawanya kemari juga? Dan apa yang sedang kau lakukan?"
Penampilan Samuel sungguh mengerikan. Dia bukanlah Samuel yang Amy kenal delama ini. Pria acak-acakan di hadapannya ini membuatnya ketakutan.
Kefua matanya terlihat merah, bakal cambang nampak di dagunya—seolah dia belum bercukur selama beberapa hari—, rambutnya juga terlihat acak-acakan. Terlebih lagi tercium bau alkohol dari tubuhnya.
Mengeryitkan hidungnya, Amy mengedarkan pandangannya mencari celah untuk kabur dari sana.
__ADS_1
"Kau seperti gelandangan!" hardik Amy, kemudian melesat melewati Samuel untuk berlari ke arah pintu.
Usaha payahnya itu tentu saja gagal. Gaun pengantin sialannya menghalanginya bergerak lebih luwes.
Kini Samuel menarik pergelangan tangannya kasar. "Kau tidak akan ke mana-mana, sayangku."
"Lepaskan aku, Sam!" berontak Amy. "Saat ini kau sedang tidak berpikiran dengan jernih. Nanti kau pasti akan menyesali perbuatanmu ini."
"Pengumuman pernikahanmu sudah cukup membuatku gila," bentak Samuel murka. "Sekarang belum terlambat bagimu untuk mengakhiri kegilaanmu ini. Kau bisa ikut bersamaku. Kita akan kabur dari semua kebohongan berengs*k ini dan menjalani kehidupan bahagia jauh dari semua orang yang sudah merusak kebersamaan kita."
"Kau gila jika kau pikir aku akan menuruti kemauanmu. Kau tahu betapa besar aku mencintai keluargaku, dan lari bersamamu tidak pernah menjadi pilihan bagiku," desis Amy marah.
"Karena itulah kau lebih memilih menikahi bos kaya berengs*kmu itu dan merencanakan kebohongan gilamu demi keluarga sialanmu itu," geram Samuel melotot. "Tanpa kau berbuat begitu pun, Sophie adik tersayangmu pasti akan mengatasi semua ini, Amy. Dia hanya butuh waktu. Jadi berhentilah mengkhawatirkan adik manjamu itu."
"Beraninya kau!" Amy melotot marah kepada Samuel karena berani mengata-ngatai keluarganya sekasar itu. "Setelah apa yang sudah menimpanya kau… kau…."
Amy tidak sanggup berkata-kata lagi. Di samping perasaan murkanya terhadap Samuel karena telah menyalahkan Sophie atas kandasnya hubungan mereka berdua, ia juga tahu Samuel menjadi seperti ini diakibatkan oleh keegoisannya.
Tangisan pilu Amy sontak menyadarkan Samuel dari kemurkaannya. Mendekap Amy dalam pelukannya, Samuel berulang-ulang kali meminta maaf dan menyesali apa yang baru saja diutarakannya.
"Shhh, Amy, shhh, apa yang kukatakan tadi tidaklah sungguh-sungguh."
Beberapa menit berlalu sebelum Amy bisa mendapatkan kembali ketenangannya.
"Kalau begitu, kembalilah kepada Sophie, Sam," pinta Amy di dada Samuel. "Dia membutuhkanmu."
Muak mendengarkan pemintaaan itu lagi, Samuel langsung melepaskan pelukannya lalu mondar-mandir gelisah di hadapan Amy yang menatapnya penuh permohonan dengan mata memerah.
"Sophie lagi, Sophie lagi. Bisakah kali ini saja kau memikirkan perasaanku?" seru Samuel gusar. "Kau masih mencintaiku, 'kan?"
"Tentu saja aku masih mencintaimu, tapi--"
"Nah, kalau begitu ayo kita pergi dari sini," ajak Samuel meraih tangannya cepat.
"Aku belum selesai, Sam," tolak Amy, menarik lepas tangannya. "Aku memang masih mencintaimu, tapi setelah aku melangkah keluar dari ruangan ini aku akan menghapuskan semua perasaan yang kumilliki untukmu tanpa ada satu pun yang tersisa.."
Berhasil membungkam Samuel sementara waktu, Amy kembali melanjutkan perkataannya untuk mengingatkannya bahwa apa pun yang dilakukannya tetap tidak akan merubah pikiran Amy yang sebentar lagi akan resmi menjadi istri pria lain.
"Aku sudah memutuskan akan mulai mencintai Markus dengan segenap jiwaku. Karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebus perbuatan kejiku ini kepadanya."
Melihat kesungguhan di dalam matanya, Samuel terenyak menabrak kursi di belakangnya. Kali berikutnya Samuel tiba-tiba melontarkan tatapan mencela padanya.
"Mungkin apa yang dikatakan Sophie hari itu memang benar, kau pasti sedang mengandung anaknya," tuduh Samuel menyipitkan matanya ke arah perut Amy dengan pandangan benci. "Tanpa sepengetahuanku kau mungkin sudah pernah tidur bersamanya."
Sontak saja tangan Amy menyentuh perutnya. Ingatan akan malam menggairahkan itu kembali terbayang dalam kepalanya.
Seakan-akan bayangan itu tergambar jelas di wajahnya, Samuel menatap tak percaya padanya. Kecewa, terluka, dan marah bercampur aduk dalam ekspresi wajahnya.
"Amy, apa kau di dalam sana? Amy, Amy." Suara ibunya terdengar di balik pintu memanggil-manggil namanya sembari mengetuk-ngetuk pintu tak sabar.
"Iya, Bu, sebentar lagi aku keluar," teriak Amy panik melihat gagang pintu bergerak-gerak karena ibunya berusaha masuk ke dalam.
"Kalau begitu cepatlah. Acaranya sudah mau dimulai," sahut Ibunya balas berteriak. "Sebenarnya apa sih yang kau lakukan di dalam sana sampai harus mengunci pintunya segala."
Tidak ingin membuat ibunya menunggu lebih lagi, Amy berpaling menghadap Samuel yang kini termangu menduduki sebuah kursi.
__ADS_1
"Kuharap kau tidak akan pernah menemuiku lagi, Sam," ujar Amy memperingatkannya. "Dan jika kita memang harus bertemu lagi, kuharap kau sudah melupakanku saat itu."
Barulah setelahnya Amy keluar dari dalam ruangan, dan menutup kembali ruangan di belakangnya supaya ibunya tidak menyadari kehadiran Samuel di dalam sana.