I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Perselisihan


__ADS_3

Merasa aman di dalam kamarnya, isak tangis yang sedari tadi ditahannya seketika keluar dari mulutnya. Terduduk lemas bersandar di pintu kamar yang menutup ia meratapi nasibnya.


Apakah ini akhir dari pernikahannya? Apa memang tidak ada lagi kesempatan baginya untuk memperbaiki hubungannya dengan Markus. Tetapi haruskah Markus mengkhianatinya seperti ini? Begitu rendahnyakah ia di mata suaminya hingga dia berani bermain mata bersama pelayannya di rumah yang mereka tinggali bersama.


Berapa kali pun ia memikirkannya ini tidaklah benar. Ia tidak pantas mendapatkan perlakuan hina seperti ini. Tidak sekali pun ia melakukan yang dituduhkan Markus kepadanya selama ini. Jadi mengapa ia harus bersembunyi di kamarnya sambil menangis seperti orang bodoh seperti ini.


Harusnya tadi ia langsung saja melabrak kedua kepar*t yang telah membuatnya menderita seperti ini.


Bangkit berdiri, ia mengusap air mata yang membasahi pipinnya dengan kasar. Dengan tekad bulat ia membuka pintu kamarnya dan bergegas menuju ke kamar tempat suaminya berada.


Akan ia tunjukkan pada suami berengs*knya itu kalau ia bukanlah istri bodoh yang hanya akan diam saja saat tahu suaminya sedang berselingkuh di depan mukanya.


Berdiri tepat di depan pintu kamar Markus, sejenak ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka pintu itu dengan membantingnya ke samping hingga menimbulkan suara nyaring.


"Ada apa ini?" tanya Markus yang terbangun dari tidurnya tanpa ada pakaian yang menutupi tubuhnya, kecuali celana pendek yang menutupi bagian bawah tubuhnya. "Siapa di sana?"


Kamar itu sangat gelap, tidak ada satu pun cahaya lampu yang menerangi kamar itu. Berjalan menuju sakelar, ia menyalakan lampu di kamar gelap itu.


"Siapa yang kau harapkan? Pelayan jal*ngmu?" cibirnya, bersedekap menatap suaminya dengan dingin. "Betapa kacaunya tempat tidurmu. Yah, tidak heran mengingat aktivitas yang baru saja kau lakukan."


"Kalau kau kemari hanya untuk mengomentari kamar tidurku, lebih baik kau kembali ke kamar tidurmu saja," ucap Markus masam, dia membaringkan kembali kepalanya di atas bantalnya. "Saat ini aku butuh tidur."


Baru saja memejamkan matanya, Markus dibuat terkejut ketika merasakan bantal dibawah kepalanya ditarik menjauh darinya hingga membuat kepalanya yang sudah sakit semakin bertambah pusing saat kepalanya terhentak membentur kasur empuknya.


Menggeram kesal dia berbalik menghadap Amy dengan wajah berang.


"Kenapa? Apa kau kehabisan tenaga sehabis bermain dengan pelayan jal*ngmu itu?" hardiknya, sebelum Markus sempat memarahinya.


"Kau ini bicara apa? Kepalaku sudah sakit, jadi jangan lagi kau menambahnya dengan mengatakan sesuatu yang membuatku tak mengerti," gerutu Markus sembari menyugar rambutnya.


"Kau baru saja meniduri pelayanmu, Berengs*k!" jeritnya seraya memukul Markus membabi buta dengan bantal yang ada di tangannya sekuat tenaga. "Kepar*t kau, Mark, kau sungguh bajing*n."


Menangkis serangan bertubi-tubi dari Amy, dengan sigap Markus merebut bantal yang dipegang Amy dari tangannya.

__ADS_1


"Tenanglah, Amy! Aku tidak meniduri siapa pun!" bentak Markus, menahan kedua tangan Amy yang tak bisa berhenti menghajarnya. "Sebenarnya apa yang kau lihat sampai kau jadi salah paham begini?"


"Jangan berkelit. Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," geramnya, mencoba melepaskan diri dari genggaman suaminya.


"Apa yang kau lihat? Jelaskan kepadaku."


"Sialan kau, Mark, aku tak perlu menjelaskan apa pun yang kulihat! Kau tahu maksudku dengan sangat jelas."


"Jelaskan, Amy," perintah Markus tegas.


Menggertakkan giginya, Amy melotot marah pada suaminya yang pura-pura polos. "Delilah. Aku melihatnya keluar dari kamarmu dengan penampilan tak senonoh. Puas kau, hah?"


"Dengarkan aku, Amy, apa pun yang kau lihat tadi tidaklah–"


"Sudah kubilang berhenti berkelit!" selanya sengit.


"Aku tidak berkelit! Aku memang tidak melakukan apa yang kau tuduhkan kepadaku," sangkal Markus kesal. 


Amy mendengus. Tidak sedikit pun mempercayai omong kosong suaminya.


"Sekarang kau berpura-pura tidak mengingat namanya," gumamnya mengejek.


"–tapi saat itu aku tidak berada di kamarku," lanjut Markus mengabaikan ejekannya. "Sebenarnya aku baru saja hendak tidur saat kau menerobos masuk ke kamarku seperti kesetanan. Jadi kesimpulannya kau telah salah paham."


Seiring Markus menjelaskan kesalahpahamannya, tubuh Amy yang awalnya terasa tegang kini mulai mengendur. Perlahan ia kembali rileks. Tidak lagi terlalu marah seperti tadi. Menilik dari ekspresi wajah Markus, ia bisa melihat kesungguhan di mata kelabu suaminya itu


Walaupun begitu tentu saja ia masih belum percaya sepenuhnya atas penjelasan suaminya. Namun setidaknya penjelasan itu sedikit meredakan amarahnya. Sebab mungkin saja ia memang telah keliru.


Dan kalau itu benar berarti dengan siapa si jal*ng itu tadi bercumbu di dalam kamar suaminya. Apa ia sudah melewatkan sesuatu?


Sial. Seharusnya tadi aku tidak melengos pergi begitu saja. Jadi dengan begitu ia bisa tahu dengan pasti siapa sebenarnya yang telah bercumbu dengan Delilah.


Sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ia merasa suara napas suaminya berubah menjadi memburu. Bahkan ia bisa merasakan ruangan kamar itu seketika berubah menjadi lumayan dingin.

__ADS_1


Melirik ke arah suaminya, ia tercekat saat menyadari apa yang telah menyebabkan suaminya tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Ternyata bukan udara di dalam kamar itu yang membuatnya kedinginan, melainkan jubah tidurnya telah terbuka dari ikatannya sehingga tubuhnya terpampang jelas dalam balutan gaun tidur tipis yang sedang dikenakannya.


Rupanya selama tadi mereka bertengkar ikatan jubah tidurnya telah terbuka tanpa ia sadari.


"Le… Lepaskan aku," pintanya lemah, berupaya kesekian kalinya melepaskan diri dari genggaman suaminya.


"Sepertinya itu akan sulit," sahut Markus serak, kedua matanya tidak sekali pun beralih dari pemandangan transparan gaun tidurnya.


"Aku… Aku belum selesai dengan masalah Delilah ini, Mark." Suaranya terdengar sama seraknya dengan suaminya. "Aku masih belum mempercayai penjelasanmu tadi."


"Kulihat begitu."


"Kita akan bicarakan lagi ini besok. Sekarang lebih baik kita tidur."


"Ya, tidurlah yang saat ini kita butuhkan."


"Maksudku tidur di kamar kita masing-masing!" serunya panik, jantungnya berdentam-dentam di dadanya.


Seakan sadar sudah mengutarakan sesuatu yang tidak seharusnya, Markus dengan cepat melepaskan cengkeramannya dari tangan Amy. Dengan sengaja dipalingkannya wajahnya dari Amy.


"Tentu saja itu juga maksudku." Markus mengibaskan tangannya. "Besok aku akan menyelesaikan masalah ini. Jadi tidurlah dengan tenang di dalam kamarmu."


"Bukan 'aku', tapi 'kita', Mark. Camkan itu. Ini masalah kita berdua," koreksinya tak senang.


"Terserah. Sekarang pergilah dari kamarku," usir Mark tak sabar.


"Selamat malam."


"Aku harap kau tidak akan pernah lagi berkeliaran dengan gaun tidur setipis itu di rumah ini. Itu bisa membunuhku."


Berhenti tepat di dekat pintu, Amy menengok ke belakang. "Kau bilang apa, Mark?"


"Kalau-kalau kau takut aku melakukan sesuatu yang kau tuduhkan tadi kau bisa mengunciku dari luar," teriak Markus menjawabnya.

__ADS_1


Suara bantingan pintu adalah jawaban yang didapatkan Markus atas sarannya.


__ADS_2