I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Serangan


__ADS_3

Menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di ruang kerjanya, Markus memejamkan matanya sejenak. Meski telah memejamkan matanya ekspresi sakit hati di wajah Amy tadi masih saja terbayang jelas olehnya.


Mungkin tidak seharusnya ia bersikap keterlaluan seperti itu kepada istrinya. Namun, mendengar nama mantan tunangannya serta ibunya keluar dari mulut istrinya telah membuatnya gelap mata hingga ia tak bisa mengontrol emosinya.


Sudah sejak lama sekali tak ada yang berani menyinggung mantan tunangannya Amanda Piers secara langsung di hadapannya. Karena jika ada yang berani mengungkit soal Amanda di hadapannya, maka orang itu harus siap menghadapi amukan amarahnya.


Meski sudah tujuh tahun berlalu ingatan akan kenangan menyakitkan yang telah ditinggalkan Amanda untuknya masih begitu jelas dalam ingatannya. Belum cukup membuat hatinya hancur semasa hidupnya, bahkan setelah kematiannya pun Amanda masih membayangi hidupnya.


Belum lagi perlu waktu setahun lamanya baginya bangkit dari keterpurukannya akibat tragedi menggemparkan yang telah ditimbulkan mantan tunangannya itu.


Bahkan ia juga tahu meski sudah tujuh tahun berlalu gosip mengerikan mengenai dirinya yang telah membunuh mantan tunangannya itu masih belum hilang sepenuhnya. Walau tidak semenghebohkan ketika gosip itu mencuat, tetap saja masih ada beberapa orang yang membicarakan tragedi itu secara diam-diam di belakangnya.


Yang kembali mengingatkan Markus tentang awal mulanya kenapa ia jadi tertarik kepada Amy, istrinya sekarang. Kala itu Amy sedang berkumpul bersama rekan-rekan kerjanya di sebuah cafe tempat Markus sedang bertemu dengan kliennya.


Di saat yang lainnya sedang asyik bergosip membicarakan masa lalu atasan baru mereka, hanya Amy saja yang terlihat tak peduli dengan gosip itu.


"Tidak seharusnya kita mempercayai sebuah gosip. Bagiku gosip itu hanyalah omongan-omongan tak berdasar dari mulut ke mulut yang dibuat untuk mempermanis sebuah cerita. Kesimpulannya gosip itu tidak ada bedanya dengan dongeng."


Itulah tepatnya yang dikatakan Amy kepada rekan kerjanya yang penggosip sebelum dia undur diri meninggalkan mereka. Sikapnya yang tenang dan masa bodo saat yang lain mengatainya sok bijak sungguh mempesona.


Tapi bukan hanya itu saja yang membuat Markus menaruh perhatian terhadap Amy, sifatnya yang pekerja keras serta rasa sayangnya yang begitu besar terhadap keluarganyalah yang telah membuatnya jatuh hati pada istrinya itu.


Dalam bayangannya akan menyenangkan sekali jika bisa menjadi bagian dalam keluarga penuh kasih itu. Tetapi sayangnya justru rasa sayang Amy yang sangat besar terhadap keluarganyalah yang telah membuat kehancuran dalam rumah tangga mereka. Sungguh ironis.


Sebenarnya ini bukanlah salah keluarga atau rasa sayang istrinya. Andai saja dalam kehidupan Amy tidak ada yang namanya Samuel mungkin pernikahan mereka tidak akan berjalan seburuk ini.


Setiap kali ia ingin mencoba melupakan tipu muslihat yang telah dilakukan Amy padanya, entah mengapa bayang-bayang pria yang dicintai istrinya itu selalu muncul dalam kepalanya. Itulah yang membuatnya sulit sekali untuk mendekatkan diri kepada istrinya 


Di saat ia ingin percaya bahwa Amy benar-benar telah mulai membuka hati untuknya, wajah bajing*n itu selalu saja mengolok-ngolok di dalam kepalanya. Bayangan masa lalu istrinya itu seakan mengatakan padanya bahwa ia terlalu banyak berharap.

__ADS_1


Tidak mungkin baginya yang baru beberapa tahun mengenal istrinya itu bisa menyaingi seseorang yang telah mengisi hari-hari istrinya sepanjang hidupnya.


Sialan kau, Samuel! Mau sampai kapan kau membayangi kehidupan pernikahan kami.


##


Seminggu telah berlalu semenjak pertengkaran hebat mereka di dalam kamar. Dalam waktu itu Markus belum juga meminta maaf kepadanya. Suami menyebalkannya itu selalu konsisten dengan sikap keras kepalanya.


Tidak ada rasa penyesalan ataupun sekadar basa-basi terhadapnya. Hari-hari mereka lalui dengan saling melirik singkat saja ketika tak sengaja saling bertatap muka. Sungguh perilaku yang lebih canggung daripada saat orang asing saling menyapa.


Tetapi untungnya Markus tidak lagi bersikap kurang ajar kepadanya. Mungkin sebenarnya suaminya itu menyesali perbuatannya, hanya saja dia terlalu gengsi untuk meminta maaf.


Meskipun hubungan mereka menjadi sedingin ini, Amy tetap berharap Markus tidak menghabiskan malam-malamnya di kamar lain. Walaupun ia sedikit takut Markus akan bersikap agresif lagi saat ia meminta suaminya itu agar mereka tidur satu ranjang seperti terakhir kali, ia masih tetap ingin memiliki seorang anak dari suaminya.


Hanya itu satu-satunya cara yang ia rasa bisa mengembalikan Markus yang dulu lagi kepadanya. Tapi bagaimana bisa dia mewujudkan itu jika suaminya saja tidak mau satu ruangan dengannya.


Apa dia harus menggunakan cara jitu yang disarankan Helen kepadanya beberapa hari lalu saat ia mengutarakan niatnya yang ingin segera memiliki anak-anak dalam pernikahan mereka.


Teringat kembali obrolan itu, Amy menunduk menatap piringnya, ia tidak ingin Markus yang sedang duduk di seberangnya menjadi bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan wajahnya tiba-tiba bersemu merah padam.


Mengaduk-ngaduk makanan yang ada di piringnya, Amy berpikir keras merencanakan strategi dalam kepalanya.


Haruskah aku menyerangnya malam ini? Tapi bagaimana kalau malam ini Mark mabuk lagi seperti hari-hari sebelumnya? Akan sia-sia saja kami melakukannya kalau dia dalam keadaan setengah sadar.


Itu dia masalahnya. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjauhkan Markus dari minuman-minuman kerasnya. Seharusnya tadi sebelum suaminya pulang ia menyuruh para pelayan membuang semua koleksi minuman keras dari rumah ini. Bodoh sekali ia tidak memikirkan hal itu.


Jika sudah begini terpaksa besok saja ia melancarkan serangan dadakannya ini kepada suaminya.


"Apa kau sangat membenci makanannya? Kalau kau tidak menyukainya, aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan lain untukmu," ujar Markus menyentakkan Amy dari lamunannya.

__ADS_1


Akhirnya suami bebalnya itu berbicara juga kepadanya. Walaupun hal itu dilakukannya karena tindakan yang tanpa disadarinya saat sedang melamun tadi mengakibatkan makanan yang ada di piringnya terlihat berhamburan dengan garpu tertancap menusuk sepotong daging di sana.


Melepaskan pegangan eratnya di garpu, Amy menggeser mundur kursi yang didudukinya.


"Tidak ada yang salah dengan makanannya. Aku… Aku cuma sedang tidak berselera makan. Permisi."


Terburu-buru ia bergegas pergi meninggalkan ruang makan, takut Markus menyadari apa yang ada dalam pikirannya sekarang ini. Lagi pula ia perlu waktu sendirian untuk memikirkan rencana serangannya ini dengan matang tanpa ada yang mengganggu.


Waktu sudah lewat tengah malam, tapi ia masih saja bergerak-gerak gelisah di atas kasurnya, mencoba mencari rasa kantuk yang tak kunjung datang. Ini semua karena kepalanya dipenuhi dengan bayangan-bayangan erotis yang membayangi isi kepalanya saat sedang memikirkan malam kejutan untuk suaminya besok.


Mungkin malam ini saja ia melancarkan serangannya kepada suaminya itu. Kalau dia mabuk, ia hanya perlu menyadarkan suaminya itu dengan menyemburkan air ke wajahnya. Barulah setelah itu ia akan menyerang suaminya dengan tiba-tiba.


Bayangan itu saja sudah hampir membuatnya tertawa keras di dalam kamarnya.


Yang benar saja, Amy, menyiram wajah Mark dengan air? Bukannya bergairah dia malah akan melemparkanmu keluar dari kamarnya saat itu juga, pikirnya kecut.


Meskipun begitu tak ada salahnya mencoba, sebelum keberaniannya hilang. Besok tidak menjamin ia masih memiliki keberanian ini.


Menyambar gaun tidur tipisnya dari dalam lemari pakaiannya ia mengenakannya secepat mungkin lalu menyelubungi gaun tipisnya dengan jubah tidur. Memoles sebentar penampilannya sebentar di depan cermin, sekarang ia bersiap menghadapi medan perang, yaitu kamar yang ditempati suaminya.


Seminggu ini suaminya telah tidur di kamar tempat dia dulu menempatkannya saat kali pertama ia datang ke rumahnya. Dengan langkah cepat dia menyusuri lorong gelap menuju kamar itu.


Berbelok ke arah kamar suaminya, langkahnya seketika terhenti saat melihat siluet seorang wanita sedang berdiri di depan pintu kamar suaminya. Memicingkan matanya ia terkejut saat mengetahui siapa yang sedang berdiri di sana.


Dengan tampilan rambut acak-acakkan serta baju yang terlihat sangat kusut, senyuman puas melengkung di bibir penuh perempuan itu. Dia adalah Delilah, pelayan genit yang selama ini gencar mengincar suaminya.


Siapa pun bisa tahu apa yang sudah menyebabkan senyuman puas itu tersungging di bibirnya. Dia baru saja menghabiskan malam penuh gairah bersama suaminya di dalam sana.


Mungkinkah ini bukan pertama kalinya dia tidur bersama suaminya? Bisa saja selama seminggu ini suaminya telah tidur bersama pelayan genitnya itu tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


Tak kuasa suara isak tangis hendak meluncur keluar dari mulutnya. Dengan cepat dibekapnya mulutnya dengan kedua tangan, kemudian berlari kembali menuju kamarnya sebelum perempuan jal*ng itu mengetahui keberadaannya.


__ADS_2