I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)

I Will Marry You (Aku Akan Menikahimu)
Rahasia Yang Tak Ingin Diketahui


__ADS_3

Sekembalinya adiknya dari ruang operasi, Amy beserta ibunya dan lainnya masuk ke dalam ruangan tempat adiknya dirawat. Betapa hati Amy hancur melihat adiknya tidur tak berdaya di atas ranjangnya dengan keadaan wajah penuh lebam dan luka.


Air mata yang telah ditahannya sejak tadi mulai tak terbendung mengalir membasahi pipinya. Ia tidak boleh menangis, itu hanya akan membuat adiknya khawatir ketika bangun nanti. Ia harus tegar. Yang dibutuhkan adiknya saat ini dukungan dari mereka semua, bukannya malah menangis tersedu-sedu dan terlihat lemah begini.


Betapa Amy sangat khawatir apa yang akan dijelaskannya kepada adiknya nanti mengenai kelumpuhan yang didapatkannya akibat kecelakaan naas itu. Pastinya hati adiknya itu akan hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak, adiknya itu selalu bermimpi menjadi seorang balerina terkenal.


Membayangkan rasa sakit yang akan dilihatnya di mata adiknya saja sudah membuat dadanya terasa sesak begini, apalagi saat tiba waktunya ia menyampaikan kabar buruk itu. Berpaling dari adiknya yang masih tertidur pulas, Amy menangkap kepergian atasannya dari ruangan itu secara diam-diam.


Berniat ingin mengucapkan terima kasih karena telah mengantarnya ke rumah sakit, Amy terhenti di depan pintu saat mendengar seruan ibunya.


"Oh, syukurlah," seru ibunya memeluk adiknya yang masih terbaring lemas di ranjangnya.


Berjalan cepat menghampiri ranjang adiknya, Amy sangat lega ketika melihat kedua mata adiknya yang sayu menatap mereka secara bergantian di ruangan itu.


"Ibu, aku di mana?" tanya adiknya lemah.


"Kau di rumah sakit, sayang," elus ibunya pada rambut adiknya. "Apa kau lupa kalau kau baru saja mengalami kecelakaan?"


"Kecelakaan?" Mengerutkan dahinya, Sophie berusaha mengingat kejadian yang telah menimpanya hari itu. "Ah, kecelakaan mobil itu."


Sontak saja mata Sophie melayang cepat ke arah Samuel yang berdiri di samping Amy. Anehnya roman wajah Sophie berubah menjadi panik bercampur malu.


Heran dengan sikap adiknya, Amy melirik Samuel juga. Dilihat dari roman wajah Samuel yang gelisah, dia juga terlihat sama anehnya dengan adiknya.


Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa mereka bersikap canggung begini? Setahu Amy sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka berdua bertingkah seperti biasanya sebelum mereka bertiga berjanji bertemu di tempat mereka biasa berkumpul. Atau mungkin kecelakaan Sophie ada hubungannya dengan tingkah aneh yang ditunjukkan mereka berdua sekarang.


Seolah sadar tatapan penuh selidik Amy terhadap mereka berdua. Sophie segera membuang muka dan berpaling menghadap ibunya.


"Ibu, aku ingin istirahat. Bisakah kalian meninggalkanku sendirian?" pinta adiknya.


"Kau yakin baik-baik saja?" tanya ibunya masih terlihat khawatir meninggalkan adiknya seorang diri.


"Aku baik-baik saja, Bu." Sophie menepuk-nepuk kedua tangan ibunya menenangkannya.


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi jika kau perlu apa-apa, Ibu akan selalu ada untukmu di luar." Meski enggan ibunya beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Panggil saja Ibu atau Amy kalau kau memerlukan bantuan."


Tersenyum lemah, Sophie mengangguk pelan kepada ibunya.


Setelah berada di luar ruangan, Amy menyuruh ibunya pulang. Walau bagaimanapun hari ini adalah hari yang berat bagi ibunya. Belum lagi perihal kelumpuhan Sophie masih menjadi kekhawatiran terbesar bagi mereka semua.


Sejauh ini syukurlah Sophie belum menyadari kelumpuhannya. Semoga saja adiknya itu tetap belum menyadarinya sampai ia menemukan solusi untuk mengembalikan kondisi adiknya seperti sedia kala.


Amy perlu berbicara dengan dokter mengenai hal itu. Barangkali saja kelumpuhan adiknya hanyalah sementara, mungkin itu hanyalah efek trauma dari kecelakaan yang dialaminya. Dengan begitu, Amy bisa menenangkan Sophie saat dia mengetahui kondisi kakinya nanti. Tidak memiliki harapan seperti ini membuatnya tidak bisa beristirahat sejenak pun.


Selama beberapa saat ibunya sempat menolak untuk pulang, tapi berkat keteguhan Amy agar ibunya beristirahat demi menenangkan pikirannya yang kacau, akhirnya ibunya menyerah juga menolak permintaannya.

__ADS_1


Tak lama setelah mengantar kepergian ibunya dari rumah sakit, Amy menarik tangan Samuel agar menjauh sedikit dari ruangan tempat adiknya sedang beristirahat. Amy tak mau adiknya mendengar percakapan yang akan dilakukannya bersama Samuel.


Melepaskan tangan Samuel dari genggamannya, Amy berjalan mondar-mandir di hadapan Samuel. Ia bingung harus mulai dari mana dulu. Haruskah ia mengajukan pertanyaan kenapa kecelakaan itu bisa terjadi atau kenapa Samuel dan Sophie bersikap aneh di dalam ruangan tadi.


Amy menghentikan langkahnya lalu menghadap Samuel dengan raut wajah serius.


"Ceritakan padaku, Sam, sebenarnya ada apa denganmu dan Sophie? Kenapa kalian bertingkah aneh tadi?"


Meskipun ia juga ingin mengetahui mengapa Sophie bisa mengalami kecelakan, tetapi pertanyaan yang diajukannya sekarang ini lebih membuatnya penasaran. Entah kenapa Amy punya firasat bahwa kecanggungan Samuel dan Sophie ada hubungannya dengan kecelakaan adiknya itu.


"Bertingkah aneh bagaimana maksudmu? Kami bersikap seperti biasanya, tidak ada yang berbeda," jelas Sam tersenyum menenangkan padanya.


"Kau tidak bisa membohongiku, Sam. Aku tahu ada sesuatu yang telah terjadi pada kalian berdua," cetus Amy curiga. "Di dalam tadi kalian sama-sama tidak bisa menatap mata satu sama lain terlalu lama. Jadi katakan padaku, ada apa dengan kalian berdua?"


"Kau hanya terlalu banyak pikiran, Amy. Tidak ada yang terjadi di antara kami berdua." Samuel mengulurkan tangannya menangkup kedua bahu Amy lembut. "Sebaiknya kita kembali ke Sophie, dia lebih membutuhkan perhatianmu daripada pertanyaan tak bermutu ini."


Menepis tangan Samuel yang berniat menariknya, Amy mundur selangkah dari kekasihnya itu. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Sam. Aku sudah mengenalmu sangat lama, aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku."


Samuel menyugar rambutnya, terlihat sangat frustasi untuk menghentikan percakapan yang sedang dilakukannya bersama Amy.


"Aku tidak tahu apa yang kau ingin dengar dariku, tapi sungguh Amy, tidak ada yang terjadi di antara kami berdua."


"Kalau tidak ada yang terjadi di antara kalian berdua, kenapa kalian bertingkah seperti itu tadi? Sam, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" Amy berjalan mendekat menggenggam pergelangan lengan Samuel erat. "Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Sophie?"


Tersentak oleh pertanyaan itu, Samuel melemparkan sorot mata ketakutan padanya. Dengan kalut dilepaskannya tangannya dari Amy, kemudian dia melihat ke segala arah, seakan-akan sedang mencari jalan keluar untuk melarikan diri.


Sayangnya, Amy tidak menemukan satu ide pun yang membuat kedua hal itu bisa saling bersangkutan. Dilihat dari gelagat Samuel yang terus bungkam, pastilah itu sesuatu yang sangat rahasia sehingga Amy pun tidak boleh mengetahuinya.


Baru saja hendak menyudutkan Samuel dengan serentetan pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya, terdengar suara jeritan diiringi hempasan barang-barang yang berjatuhan dari dalam kamar adiknya.


Dalam sekejap mata Amy langsung berlari masuk ke dalam ruangan adiknya. Apa yang dilihatnya sungguh sangat mengerikan. Berbagai macam benda berserakan di lantai. Bahkan yang yang membuatnya lebih ngeri ada pecahan kaca bertebaran di mana-mana.


Belum lagi adiknya juga saat itu berusaha menyeret tubuhnya mendekat untuk menggapai sesuatu yang ada di lantai. Saat itulah Amy menyadari Sophie berniat mengambil salah satu pecahan kaca yang ada di lantai dan hendak menusuknya ke kakinya.


Secepat kilat direnggutnya pecahan kaca itu dari genggaman adiknya lalu melemparnya sejauh mungkin dari jangkuan tangan adiknya. Marah karena menyaksikan kegilaan adiknya, Amy mengguncang-guncang tubuh Sophie.


"Apa yang merasukimu sehingga ingin melukai dirimu seperti itu!" bentak Amy murka. "Apa kecelakaan itu sudah menghilangkan akal sehatmu?"


"Lepaskan aku!" jerit Sophie menepis kedua tangan Amy dari bahunya.


Bertumpu dengan kedua tangannya di lantai, Sophie melotot marah padanya. "Untuk apa akal sehat jika aku sudah tidak memiliki kemampuan untuk berdiri seorang diri? Lebih baik aku hancurkan saja kaki cacatku ini. Hidupku sudah tidak berarti lagi tanpa kedua kakiku."


Merasa sakit melihat pancaran terluka di kedalaman mata adiknya, Amy merengkuh Sophie ke dalam pelukannya. Ia sangat ingin mengucapkan sesuatu yang bisa menenangkan adik tercintanya ini, tapi apalah daya ia juga bingung apa yang harus diucapkannya sekarang saat tidak ada satu pun kalimat yang bisa memberikan harapan kepada adiknya.


Kata-kata penghiburan seolah menguap dari bibirnya. Yang bisa dilakukannya hanyalah memeluk Sophie begitu erat sembari menangis bersamanya di lantai dingin kamar itu.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan, Amy, apa yang harus aku lakukan? Hidupku hancur," ratap adiknya, memukul-mukul dada Amy. "Kecelakaan itu sudah merenggut satu-satunya hal berharga dari diriku."


"Tidak, Sophie, tidak," ucap Amy menggelengkan kepalanya. Ditatapnya adiknya dengan berlinangan air mata. "Kau masih punya banyak hal berharga dalam dirimu. Jadi, berhentilah berkecil hati."


"Tapi aku sudah kehilangan impianku sejak kecil! Kau tidak mengerti!" teriak adiknya, mendorong keras Amy dari dalam pelukannya. "Lebih baik aku mati daripada harus hidup begini."


Mengedarkan pandangannya, Sophie berupaya menyakiti dirinya lagi dengan mencari pecahan kaca yang bisa digapainya.


"Apa kau baik-baik saja?" Samuel berjalan mendekat membantu Amy bangkit dari posisinya yang terduduk di lantai akibat dorongan adiknya tadi.


Suara khawatir Samuel yang terdengar seolah menyadarkan mereka berdua bahwa di dalam ruangan itu bukan mereka berdua saja yang berada di sana. Yang lebih mengagetkan Amy lagi tiba-tiba saja adiknya berteriak histeris saat pandangannya mengarah pada Samuel.


"Keluarrrrr!"


"Sophie, Sophie, tenangkan dirimu!" pinta Amy mencoba menghentikan kehisterisan adiknya. "Itu hanyalah Samuel. Tidak apa-apa, semua baik-baik saja."


"Amy, kenapa dia masih ada di sini?" tanya adiknya panik. "Kenapa kau biarkan dia masih di sini, aku tidak ingin melihatnya. Usir dia, Amy, kumohon."


Meskipun Amy ingin sekali bertanya kepada Sophie kenapa dia bereaksi berlebihan begitu melihat keberadaan Samuel, sahabat serta tetangga mereka sejak kecil, tapi di sisi lain Amy ingin menenangkan adiknya terlebih dahulu. Permasalahan Sophie dan Samuel yang begitu misterius ini bisa diajukannya lain waktu.


Untunglah selagi Amy menggiring Samuel keluar dari ruangan, para dokter dan perawa mulai berdatangan, kemudian membantu Sophie kembali ke atas ranjangnya. Setidaknya ada seseorang yang akan menjaga adiknya itu sementara ia berbicara sebentar dengan Samuel.


"Tanganmu terluka," ujar Samuel, mengangkat sebelah tangannya yang tadi digunakannya untuk melempar pecahan kaca yang diambil oleh Sophie di lantai. "Seharusnya kau lebih berhati-hati."


Sejujurnya Amy tidak terlalu menyadari luka itu bahkan ia tidak merasakan perih sedikit pun saat tadi memegang pecahan kaca itu, pikirannya terlalu sibuk memgkhawatirkan kondisi mental adiknya yang rentan. Baru setelah Samuel menunjukkan luka itu barulah ia merasakan tusukan rasa perih dalam telapak tangannya.


Menarik lepas tangannya dari genggaman Samuel, ia menangkup tangannya yang terluka dengan tangannya yang lain.


"Luka kecilku ini tidak penting. Sebaiknya kau pulang saja, aku bisa merawat Sophie seorang diri."


"Tidak," tolak Samuel tegas. "Aku tidak bisa meninggalkanmu dan Sophie dalam keadaan seperti ini. Aku akan tetap di sini bersamamu."


"Jangan keras kepala, Sam. Kau tahu sendiri bagaimana reaksi Sophie ketika melihatmu tadi. Dia seperti kesetanan."


"Dia hanya terlalu syok, makanya bereaksi berlebihan seperti itu."


"Kau tahu bukan itu yang terjadi," balas Amy tak percaya, matanya mendelik marah pada kekasihnya itu. "Aku tidak bodoh, Sam. Aku tahu ini pasti berkaitan dengan sikap bungkammu tadi saat kutanyai mengenai sikap canggungmu dan Sophie sebelumnya."


Dengan gerakan cepat, Amy mengangkat tangannya menghentikan Samuel mengelak untuk kesekian kalinya.


"Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu lagi. Saat ini aku hanya ingin memfokuskan diriku pada Sophie saja. Masalah ini bisa kita lanjutkan besok saja saat aku sudah lebih tenang." Menghembuskan napas panjang, Amy menatap lelah pada Samuel. "Sudah cukup banyak hal yang terjadi hari ini, Sam, aku tidak ingin menambahnya dengan bertengkar denganmu. Aku harap besok kau akan memberikan jawaban yang aku ingin dengar. Aku tidak akan membiarkanmu menghindar seperti yang kau lakukan hari ini."


Selesai menyampaikan peringatan tegas itu, Amy masuk ke dalam kamar adiknya, sebelum Samuel sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas perkataannya barusan. Bersandar di pintu, Amy mendongak menatap langit-langit kamar, berusaha menahan diri untuk kesekian kalinya menangis sejadi-jadinya.


Oh, Tuhan, tolonglah dirinya. Sesungguhnya ia benar-benar takut mendengar jawaban dari Samuel mengenai hal yang terjadi antara dirinya dan adiknya. Firasatnya mengatakan hal itu nantinya akan menghancurkan mereka semua di kemudian hari.

__ADS_1


Amy cuma bisa berharap itu hanyalah firasat konyolnya saja. Ya, semoga saja.


__ADS_2